Biar Siswa Tak Berurusan dengan Hukum, Kajari Tanjung Perak Masuk Kelas Jadi Guru SMP

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tanjung Perak, I Ketut Kasna Dedi menjadi guru dalam ujicoba pembelajaran tatap muka (PTM) melalui sistem blended learning SMP Negeri 1 Surabaya, Jumat, 7 Mei 2021
Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tanjung Perak, I Ketut Kasna Dedi menjadi guru dalam ujicoba pembelajaran tatap muka (PTM) melalui sistem blended learning SMP Negeri 1 Surabaya, Jumat, 7 Mei 2021 (KalderaNews/Dok. Disdik Surabaya)

SURABAYA, KalderaNews.com – Setelah Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Johnny Eddizon Isir, kini giliran Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tanjung Perak, I Ketut Kasna Dedi yang didapuk menjadi guru atau pengajar di dalam ujicoba pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah melalui sistem blended learning di Surabaya, Jumat, 7 Mei 2021.

Setidaknya ada 19 pelajar dari kelas 7 dan 8 yang mengikuti ujicoba pembelajaran tatap muka langsung di sekolah. Sementara para pelajar yang lain, mereka mengikuti pembelajaran melalui virtual di rumahnya masing-masing.

Dalam ujicoba PTM di SMP Negeri 1 Surabaya dengan mengambil tema “Pencegahan Permasalahan Hukum Bagi Generasi Milenial”, Kajari Tanjung Perak menjelaskan ilmu pengetahuan secara umum terkait tupoksi para penegak hukum, seperti apa saja tugas dari kepolisian, kejaksaan dan hakim.

BACA JUGA:

Kajari Tanjung Perak juga menjelaskan beberapa hal atau perilaku yang dapat menyebabkan seseorang berurusan dengan hukum. Seperti perilaku bullying, cyber crime, dan penyalahgunaan narkoba. Oleh sebab itu, ia menekankan kepada para pelajar itu agar dapat mengantisipasi dan menjauhi perilaku-perilaku tersebut.

“Materi secara umum intinya bahwa kita ingin memperkenalkan pengetahuan hukum sejak dini kepada adik-adik kita,” jelas Kasna Dedi.

Ia berharap, melalui beberapa materi yang disampaikannya ini, tidak ada lagi pelanggaran-pelanggaran hukum yang dilakukan oleh anak-anak. Sebab, pelanggaran hukum itu terjadi pada anak karena kurangnya pengetahuan atau ketidaktahuan mereka.

“Mudah-mudahan, kita harapkan tingkah laku mereka dalam pergaulan sehari-hari maupun di lingkungan sekolah hal-hal yang melanggar ini tidak dilakukan,” pesan Kajari Tanjung Perak.

Apalagi, selama tahun 2020, Kejari Tanjung Perak telah beberapa kali menangani perkara yang melibatkan anak-anak. Di antaranya, 20 perkara pencurian, 14 perkara narkoba, dan 6 perkara perlindungan anak.

Bahkan hingga bulan Mei 2021, sudah ada beberapa perkara anak yang ditangani Kejari Tanjung Perak. Yakni, 8 perkara pencurian, 1 perkara narkoba dan 2 perkara kekerasan.

Di samping itu, Kasna Dedi menyebut, saat ini tren perkara yang lagi ramai di Indonesia adalah terkait UU ITE, seperti penyebaran berita bohong atau hoax. Nah, karena ketidaktahuan seseorang terhadap UU tersebut, sehingga mereka harus berurusan dengan hukum.

“Untuk saat ini kan trennya yang banyak terkait UU ITE, penyebaran berita bohong. Karena mereka tidak tahu, berita yang mereka terima, mereka hanya meneruskan, itu sebenarnya bisa terjadi pelanggaran hukum di sana,” jelasnya.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu!




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*