Rektor Paramadina, Prof. Didik Rachbini: Berkah Pandemi, Ekonomi Digital yang Lebih Ramah Lingkungan




Rektor Universitas Paramadina periode 2021-2025, Prof. Didik Junaidi Rachbini
Rektor Universitas Paramadina periode 2021-2025, Prof. Didik Junaidi Rachbini (KalderaNews/Ist)

JAKARTA, KalderaNews.com – Pandemi mengubah segalanya. Perilaku ekonomi masyarakat pun mulai bergeser, dari yang konvensional menuju yang digital.

“Ketika lingkungan hidup porak-poranda dan ekonomi tidak mampu mengubah dari sistem ekonomi yang eksploitatif terhadap sumber daya alam dan hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, maka sekaranglah saatnya untuk berubah memperhatikan lingkungan hidup. Pandemi yang telah menjadi problem besar mau tidak mau harus dikaitkan menuju green economy,” kata Rektor Universitas Paramadina Jakarta, Prof. Dr. Didik J. Rachbini.

Menurut Prof. Didik, tatanan baru biasanya muncul ketika ada krisis. Dan, ekonomi digital jauh lebih ramah lingkungan. Saat inilah green economy bisa muncul sebagai sebuah format baru.

BACA JUGA:

“Itu bisa dilakukan dengan tidak lagi menggunakan material produksi yang dapat merusak lingkungan, semisal kertas. Harus menuju paperless dengan dukungan ekonomi digital. Begitu pula pengelolaan lingkungan yang dapat dicapai dengan collective action atau sinergi pelaku usaha, pemerintah, dan stakeholder lain,” kata Prof. Didik.

Hal itu disampaikan dalam webinar bertajuk “Siaga Satu Lingkungan Hidup Indonesia: Solusi Green Economy”, yang diadakan Universitas Paramadina.

Sementara, Poppy Ismalina, M.Ec. Dev, Ph.D, Associate Professor Ilmu Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara yang sangat rentan terhadap dampak negatif perubahan iklim harus secara konsisten mengacu pada program membangun Indonesia hijau.

Poppy mengatakan, konsep pemulihan green economy recovery harus dilakukan dengan konsisten beserta implementasi yang sustain. Semua ditujukan agar lingkungan hidup tetap terjaga, dan tidak hanya memikirkan keuntungan ekonomi semata, tetapi bagaimana dapat meningkatkan keadilan sosial dan peningkatan kualitas hidup.

Dr. Handi Risza, Wakil Rektor Bidang Sumber Daya Universitas Paramadina yang juga menjadi pembicara mengatakan, kerusakan lingkungan akibat eksploitasi kekayaan tambang Indonesia dilakukan tanpa pernah memikirkan aspek perbaikan lingkungan.

“Ini menjadi salah satu sebab mengapa Indonesia tidak bisa melepaskan diri atau tergantung dari hasil komoditas sumber daya alam. Akibat perekonomian yang terlalu bergantung pada komoditas, maka tidak pernah bisa leading menuju industrialisasi pengolahan yang berbasis pada nilai tambah produk sumber daya alam,” katanya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Handi Risza mengatakan, menjadi tugas pemerintah sebagai otoritas yang memiliki kebijakan, modal anggaran, infrastruktur dan birokrasi pemerintahan yang lengkap untuk menata pembangunan yang pro lingkungan dan sustainable.

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu!




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*