Infrastruktur Digital untuk Mewujudkan Keadilan Digital bagi Seluruh Rakyat

Webinar Puncak Indonesian Digital Elevation Symposium 2021
Webinar Puncak Indonesian Digital Elevation Symposium (IDEAS) 2021 yang diselenggarakan PPI Belanda dengan tema “Equality of Digital Elevation” pada Sabtu, 24 Juli 2021 (KalderaNews/Antonius E. Sugiyanto)
Sharing for Empowerment

DEN HAAG, KalderaNews.com – Puncak rangkaian Indonensia Digital Elevation Symposium (IDEAS) 2021 yang diselenggarakan oleh PPI Belanda menghadirkan pembicara Sandiaga Uno, Thomas A. Dewaranu, dan Alvin Cahyadi. Gelaran puncak IDEAS 2021 ini mengangkat tema “Equality of Digital Elevation: Making it Possible”.

Digital ekonomi di Indonesia berkembang pesat. Untuk itu, tersedianya infrastruktur yang mumpuni menjadi kebutuhan. Sandiaga mengatakan, di masa pandemi, proses digitalisasi di Indonesia sebenarnya justru terakselerasi.

“Infrastruktur ini kan making money, apalagi infrastruktur telekomunikasi dan internet. Di sinilah, kebijakan pemerintah harus mendukung tersedianya infrastruktur ini,” ujar Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ini.

BACA JUGA:

Pemerintah, lanjut Sandiaga, mengakui masih ada ketimpangan teknologi di berbagai daerah. Pemerintah memfasilitasi ketersediaan fasilitas komunikasi ini. Pemerintah terus memacu pembangunan infrastruktur telekomunikasi misalnya dengan mengebut peneyelesaian 500 ribu BTS di seluruh Indonesia.

“Di sinilah, kebijakan pemerintah berusaha menfasilitasi penyediaan infrastruktur komunikasi. Mohon kita terus dikritisi agar keadilan sosial digital bisa tercapai bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujar Sandi.

Menurut Sandi, Covid-19 menjadi kesempatan bagi semua untuk meningkatkan kemampuan melalui upskilling dan reskilling. Dengan kemampuan ini nantinya, lanjut Sandi, setiap orang dapat masuk dalam ekosistem ekonomi digital, bisa berjualan online namun juga bisa menciptakan konten-kontek kreatif.

“Indonesia saat ini sedang gencar-gencarnya untuk transformasi digital,” ujarnya.

Sandi mengatakan pengembangan infrastruktur komunikasi ini juga ingin mengakomodasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di mana saat ini, UMKM menjadi salah satu tulang punggu ekonomi Indonesia. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini 61 persen dihasilkan oleh UMKM.

“Target pasar e-commerce Indonesia adalah 124 milyar dollar yang hanya 10 persen diisi UMKM. Diharapkan, nilai ini terus meningkat sehingga tahun 2024 UMKM diharapkan menjadi 30 persen,” ujarnya.

Pembicara lain, Alvin mengatakan transformasi digital dari tahun 2018 hingga 2021 ada perbaikan yang cukup menggembirakan. Menurutnya hambatan tetap ada tapi usaha untuk mewujudkaan persebaran perkembangan ekonomi terus dilakukan. Ia menyoroti penting juga pembangunan infrastruktur fisik.

“Meski orang di kota kecil bisa memesan barang dari toko online, tapi kalau tidak ada infrastruktur yang mendukung maka barang yang dipesan tidak akan sampai juga ke konsumen. Dalam hal ini infrastruktur fisik juga perlu dikembangkan,” ujar VP Invesment AC Ventures ini.

Sementara itu, Thomas A. Dewaranu mengatakan baru sekitar 15 persen pelaku usaha di Indonesia menggunakan teknologi informasi untuk menjalankan usahanya. Di lingkup e-commerce, 90 persennya diisi oleh UMKM.

“Dari total usaha di Indonesia baru 15 persen yang mengaplikasikan digital tools untuk menjalankan usahanya. Sementara 85 persen yang lain masih nyaman menjalankan usahanya secara offline,” ujar peneliti di Center for Indonesian Policy Studies ini.

Thomas mengatakan, ketika infrastruktur sudah ada. Langkah selanjutnya adalah menyadarkan orang atau pelaku usaha untuk mau memanfaatkan semua potensi ini, baik infrastruktur digital maupun infrastruktur fisik.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*