Nadia Shafiana Rahma, Penulis 37 Buku di Usia Remaja dengan Segudang Prestasi




Siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta, Nadia Shafiana Rahma
Siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta, Nadia Shafiana Rahma (KalderaNews/Ist)

JAKARTA, KalderaNews.com – Siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta, Nadia Shafiana Rahma, lahir di Jakarta, 9 Januari 2004, telah menulis 37 buku novel, kumpulan cerpen, komik, dan esai. Tak megherankan, di usia mudanya ini ia menerima Apresiasi Prestasi Seni dan Budaya Anak Tahun 2021 dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Penganugerahan diberikan langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedung Pracimasana Kepatihan, Komplek Kantor Gubernur DI Yogyakarta, Rabu (16/9/2021). Apresiasi Prestasi Seni dan Budaya Anak adalah penghargaan, dukungan, kontribusi, dan apresiasi pemerintah kepada para pelaku seni dan budaya anak.

Nadia menekuni bidang penulisan cerita pendek dan novel. Ia telah memenangi banyak kompetisi menulis, komik, melukis, dan poster tingkat Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Nasional.

BACA JUGA:

Ia juga telah menerima banyak penghargaan, misalnya Anugerah Kebudayaan RI dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Penghargaan Penulis Terpilih dari Menteri Kesehatan RI, dan Penghargaan Penulis dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa RI.

Nadia sampai saat ini merupakan pemegang rekor dunia sebagai pembicara termuda sepanjang sejarah 500 tahun pameran buku tertua dan terbesar di dunia Frankfurt Book Fair (FBF) Jerman.

“Tema tulisan saya itu dunia anak-anak dan anak muda, seputar persaudaraan, persahabatan, kemanusiaan, kerukunan, kerja sama, cinta tanah air, budaya lokal, Islam yang damai dan ramah. Mungkin itu yang menarik perhatian dewan juri,” terang Nadia.

Ketika akan menulis, Nadia mengaku tidak pernah hanya mengandalkan referensi dari buku, internet, media, atau imajinasi semata, tetapi juga memastikan dengan terjun ke lapangan.

“Dulu, saat saya menulis novel tentang Kota Solo, judulnya Living Solo, saya beberapa hari, siang malam keliling Solo. Semua tempat seperti stasiun, kraton, perpustakaan Radya Pustaka, stadion Sri Wedari, Stadion Manahan, pasar Tri windu, Museum Sangiran, pasar Gede, pasar Klewer, Masjid Gede, Museum Kraton, dan bengawan solo saya datangi, saya melakukan wawancara, saya foto, video, supaya datanya lengkap dan tepat,” akunya.

Cerpenis dan novelis dari MAPK dan Pondok Pesantren Hadil Iman MAN I Surakarta ini telah menulis 37 buku novel, kumpulan cerpen, komik, dan esai yang diterbitkan oleh beberapa kementerian dan penerbit besar seperti KKPK Dar Mizan Bandung dan Indiva Solo.

Karya Nadia juga banyak dimuat media cetak nasional dan lokal, seperti Kompas, Bobo, Media Indonesia, Harian Jogja, dan Kedaulatan Rakyat.

Buku dan karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing (Inggris dan Jerman) dan dipamerkan di berbagai negara, seperti Malaysia, Inggris, Italia, Cina, Mesir, Turki, dan Jerman.

Ia aktif dalam berbagai forum pelatihan, seminar, dan pertemuan penulis tingkat lokal, nasional, dan internasional, sebagai pembicara, trainer, maupun peserta.

Ia lantas berpesan agar semua anak perlu menemukan passionnya, menekuni, mendalami, serta mengembangkan dengan keyakinan dan kesungguhan.

“Insya Allah, Allah membukakan dan menunjukkan jalan terbaiknya. Titik-titik perjalanan hanyalah efek dari perjuangan, kerja keras, doa, dan pasrah diri kepada Allah,” pungkas Nadia yang juga penerima beasiswa penuh Kennedy Lugar Youth Exchange Study (KL-YES) dari pemerintah Amerika Serikat untuk menjalani sekolah SMA sampai lulus di Washington, USA ini.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu!




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*