Suster Magdalena Lian OSU: Pembelajaran Entrepreneur Bukan Fokus pada Hasil, Tapi Proses




Suster Magdalena Lian OSU, Ketua Yayasan Prasama Bhakti. (KalderaNews.com/Dok.Pribadi)
Suster Magdalena Lian OSU, Ketua Yayasan Prasama Bhakti. (KalderaNews.com/Dok.Pribadi)

BANDUNG, KalderaNews.com – Sudah sejak dini, mulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak, siswa di Kampus Santa Ursula Bandung diajarkan pola berpikir entrepreneur, agar menjadi pribadi yang tangguh dan mampu menghadapi setiap perkembangan jaman.

Dengan tagline “Entrepreneurship is Our Mindset”, setiap siswa di Kampus Santa Ursula yang menaungi jenjang pendidikan TB, TK, SD, serta SMP mengenal, menanamkan, dan membiasakan diri dengan siklus pembelajaran entrepreneur.

BACA JUGA:

Menurut Suster Magdalena Lian OSU, Ketua Yayasan Prasama Bhakti yang menaungi lembaga pendidikan ini, pola pikir entrepreneur dikenalkan dan dibiasakan melalui penerapan learning cycle sebagai model pembelajaran pada kegiatan belajar mengajar.

Misal, pada tingkat TB, TK, dan SD diterapkan pada pembelajaran tematik dan terintegrasi dalam pembelajaran sehari-hari. Sementara, di tingkat SMP diterapkan pada pembelajaran kolaboratif (antarmata pelajaran).

“Contohnya, ketika ujian praktik maka dilakukan kolaborasi dari beberapa mata pelajaran, sehingga mengurangi beban siswa,” urai Suster Magdalena Lian.

Dari pola pembelajaran yang demikian, apakah sudah menuai hasil?

Suster Magdalena Lian menegaskan, penerapan pembelajaran entrepreneur bukan menitikberatkan pada hasil, namun pada proses pembelajaran anak. Contohnya, siswa sudah mampu menganalisa masalah yang ditemukan, dan merancang solusi yang inovatif. Dan hal ini tentu kan terus-menerus berproses.

Meski demikian, dengan pola pembelajaran ini, lingkungan Kampus Santa Ursula Bandung kaya dengan kreativitas dan inovasi. Misal, guru ada yang menjadi entrepreneur sesuai dengan bakat masing-masing, seperti kuliner, kerajinan tangan, Youtuber, dan yang lain.

Pun demikian para siswa. Di tingkat TK, siswa mampu berpikir kritis dan mampu mengomunikasikan dengan baik sesuai dengan target market. Pada tingkat SD, sudah ada yang mampu menjual stiker dari gambarnya sendiri, membuat pupuk dari kotoran kelinci yang harum dan berwarna menarik. Pada tingkat SMP, ada siswa yang menjadi penasihat pamannya dalam membuat kaos, kuliner, ada yang menjadi menjadi content creator berdasarkan masalah yang ditemui.

Suster Magdalena Lian mengatakan, pola pembelajaran ini akan terus dikembangkan di Kampus Santa Ursula Bandung dengan pemantapan sistem manajerial yang termonitoring berkaitan dengan entrepreneurship dalam keseluruhan kegiatan Kampus Santa Ursula Bandung.

“Pola pembelajaran ini tidak hanya bagi siswa, tapi juga bagi seluruh warga Kampus Santa Ursula Bandung,” ujar Suster Magdalena Lian.

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*