Universitas YARSI Gelar Webinar, Prodi Magister Manajemen, Tentang Financial Technology




Gedung Kampus Universitas YARSI
Gedung Kampus Universitas YARSI (KalderaNews.com/Ist)

JAKARTA, KalderaNews.com – Universitas YARSI mengadakan webinar mengenai financial technology (Fintech) yang kian dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Lantaran teknologi telah mengubah kehidupan,selain wajah industri dan peradaban, termasuk juga dunia perbankan.

Sejak era 2G berganti 3G, kemudian 4G hingga 5G, industri keuangan pun mengalami revolusi dengan lahirnya perusahaan fintech (financial technology).

BACA JUGA:

Webinar ini digelar Pascasarjana Program Studi  Magister Manajemen bersama Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas YARSI, yang diikuti bukan saja dari Yarsi , tetapi beberapa perguruan tinggi lain negeri dan swasta di Indonesia.

Peserta yang hadir hingga 600, termasuk Ketua Pengurus Yayasan Yarsi, Prof.dr.Jurnalis Uddin, beserta pimpinan di rektorat Universitas YARSI.

Hadir sebagai narasumber, Arwin Rasyid, SE,MA,MBA, Presiden Komisaris dan pendiri TEZ FinanceAsia Pte Ltd (Singapore).

“Fenomena dan tanda-tanda zaman  itu telah diprediksi jauh hari sebelumnya oleh teknologi,” ujarnya.

Selanjutnya, pria juga seorang mantan Presiden Direktur  PT. Bank CIMB Niaga Tbk mengatakan, bahwa dalam lingkungan perbankan, sejak berakhirnya Perang Dunia II hingga akhir dekade 1990-an perbankan moderen terus berevolusi, seiring kemajuan teknologi komputer, dari era mesin ketik ke era komputer

Menurut Arwin, manual banking muncul sekitar tahun 1947-1969, sedangkan awal komputer ada tahun1970an,awal komputer perbankan lahir1980an,dan komputerisasi perbankan mulai berkibar tahun 1990an.

Sementara era manual, ditandai dengan adanya branches, paper, cash, offline, slower. Kemudian seiring waktu beralih ke Automated Machine dengan hidupnya ATM, cash deposit machine (CDM) ,cash and cashless, phone banking, faster hingga lahir Banking Evolution.

Tahun 2000-an ditandai berupa online bankinginternet banking, tahun 2010 berubah, lahir mobile banking dan banking apps dan kini tahun 2020-an hadir social media banking, internet of things banking.

“Virtual banking itu  berupa timeless, 3D online, block chain dan crypto, augmented and virtual reality dan metaverse banking,”terang Arwin.

Selain berbicara bank konvesional dan bank digital, Arwin juga menyampaikan pengetahuan dan wawasan tantangan (eksternal) transformasi  digital perbankan, perusahaan teknologi digital berbasis platform, kemudian ekosistem (komunitas users, suppliers, customers para penguna aplikasi dan terakhir omni-channel berupa alat pembayaran berupa transaksi, top-up, e-money, e-wallet dan lainnya.

Dalam webinar ini, alumni Master In business Administration University Of Hawaii, USA bicara juga tentang Neobank yaitu bank online, tanpa kantor cabang tetapi  bisa menyediakan  solusi transaksi secara mobile atau digital dan sejak tahun 2016  hingga kini ada lebih dari 45 neobank didunia.

Diakhir pemaparannya Arwin menyinggung juga potensi gangguan keamanan atau serangan siber (cyber crime) pada perbankan.

Arwin menegaskan, untuk mencegah gangguan keamanan digital perbankan, industri perbankan harus membangun dan memiliki teknologi terbaru, terkini dan moderen karena gangguan keamanan itu tidak bisa diprediksi kapan dan dari mana.

“Pengganggu keamanan teknologi itu ada berasal dari dalam negeri juga luar negeri. Kalau bank tidak siap mengantisipasi cyber crime , kredibilitas bank akan hancur. Bank tersebut akan ditinggalkan nasabah,” imbuhnya.

*Jika artikel ini bermanfaat, silakan dishare kepada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*