Education Working Group G20: 4 Isu Prioritas yang Harus Dipahami Insan Pendidikan




Iwan Syahril dan Maudy Ayunda daam diskusi dengan tema Pendidikan Berkualitas untuk Hadapi Dunia Kerja Pascapandemi. (KalderaNews/Lita Mayasari)

JAKARTA, KalderaNews.com – Pendidikan merupakan salah satu aspek yang terdampak karena pandemi Covid-19. Pandemic memberikan pengalaman cara belajara baru dengan cara daring dan hybrid. Ini merupakan tantangan baruselain tantangan yang telah ada.

Forum Merdeka Barat 9 mengadakan talkshow  dengan tema Pendidikan Berkualitas Hadap Dunia Kerja Pascapandemi pada Kamis, 23 Juni 2022 dengan mengundang Maudy Ayunda  sebagai juru bicara G20 dan Iwan Syahril sebagai Ketua Kelompok Kerja Pendidikan G20.

BACA JUGA:

Topik ini sejalan dengan paparan yang telah disampaikan oleh Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarin pada pertemuan kedua Education Working Grup G20 pada Mei lalu yang membahas mengenai gagasan model “Merdeka Belajar” yang menjadi tonggak gotong royong transformasi pendidikan di Indonesia sekaligus sebagai dasar agenda prioritas G20 bidang pendidikan

Dalam bagian pembukaan Maudy  menyampaikan pertanyaan  bahwa, “Pendidikan berkualitas diperlukan untuk menghadapi dunia kerja pascapandemi. Bagaimana penataan sistem pendidikan yangberlangsung daring ini bisa memenuhi kualitas dunia kerja”.

Iwan Syahril menyampaikan bahwa banyak sekali diskusi yang akan diangkat terkait bidang pendidikan ini, tetapi yang terpenting adalah berpusat pada empat  isu prioritas antara lain pendiidkan berkualitas untuk semua, menekankan kelompok yang rentan baik dalam sosial ekonomi, geografis, dan lain-lain. Indonesia mengajak negara G20 ini untk mengantisipasi kelompok rentan. Isu kedua adalah penggunaan teknologi untuk pendidikan, bahwa teknologi bisa memecahkan masalah akses dan kualitas pendidikan kita. Isu ketiga adalah solidaritas dan kerjasama,  bahwa pandemi  tidak bisa ditangani sendiri. Gotong royong menjadi salah satu frame work pemulihan pandemi. Sedangkan isu yang keempat adalah  masa depan dunia kerja setelah Covid-19 yang memerluka  relevansi dunia pendidikan untuk menyiapkan sumber daya manusia  di masa mendatang.

Iwan menambahkan bahwa pada pertemuan kedua Education Working Grup G20 Mei lalu telah dibahas isu pertama dan kedua. Dan nanti pada pertemuan berikutnya dibahas isu ketiga dan keempat, lanjutnya.

Salah satu yang menjadi Isu keempat adalah  the future of work yakni bidang pekerjaan lima  tahun ke depan akan didominasi pekerjaan di bidang teknologi. Pandemi ini bisa menjadi akselerasi pekerjaan baru dan hilangnya pekerjaan-pekerjaan lama.

Dalam diskusi yang berlangsung satu jam tersebut Maudy juga menanyakan juga, “Apa  harapan dan peran kemendikbud ristek terhadap perkembangan pendidikan di dalam negeri untuk menghadapi dunia kerja di masa depan.”

Iwan, sebagai  menanggapi, “Bahwa untuk menghadapi masa depan dengan eran teknolog yang  makin tinggi, negara berperan untuk mempersiapkan SDM untuk masa depan dengan melakukan learning recovery dan akselerasi tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini pendidikan harus berfokus pada kompetensi fundamental dan esensial. Literasi, numerasi, dan karakter yang menjadi fokus di merdeka belajar harus dapat diimplementasikan hingga pendidikan level paling dasar untuk menciptakan pembelajar sepanjang hayat.”

Hal tersebut sesuai dengan apa yang telah dilakukan di Indonesia saat sebelum pandemi yang  telah mengubah Ujian Nasional menjadi  Asesmen Nasional. Tidak hanya itu, kurikulum yang dianut juga telah berprinsip pada less is more. Yakni kurikulum yang lebih sederhana dan bisa memberi dampak yang lebih baik. Pada kurikulum 2013, sekolah boleh menyederhanakan kurikulum. Setelah dilakukan studi 1 tahun ternyata cara ini memberikan hasil bahwa learning loss lebih kecil pada sekolah yang disederhanakan lagi kurikulumnya. Kurikulum merdeka lebih sederhana, fleksibel belajara bukan memaksakan kemampuan murid untuk mengikuti kurikulum yang ada, yang relevan untuk inovasi  serta sesuai lokasi yang ada.

Iwan juga menambahkan bahwa program Merdeka Belajar itu mengadop dari falsafah  Ki Hajar Dewantoro yakni  ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karso, tut wuri handayani, yang bertujuan m embentuk manusia-manusia merdeka. Pendidikan ibarat petani yang diserahi bibit untuk dikembangkan menjadi hasil yang terbaik. Kebebasan ini yang diberikan pada guru untuk mengembangkan diri untuk mendidik para pelajar.

Maudy menyampaikan tip untuk menghadapi dunia kerja pascapandemi ini, “Sebagai generasi muda kita harus punya selling point. Tidak hanya keterampilan saja karena keterampilan ini akan terus berubah. Memberikan generasi penerus kemerdekaan untuk berkembang merupakan satu hal sangat dibutuhkan oleh anak muda Indonesia di masa depan.”

Presidensi g20 adalah sebuah momentum dalam bidang pendidikan untuk memimpin dunia pulih bersama. Gotong royng adalah kearifan lokal bisa membuat kita melompat lebih cepat dan menjadi inspirasi dan sebagai kerangka pemulihan bersama, tutup Iwan Syahril.

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*