Anak Tidak Boleh Dibanding-bandingkan dengan Anak yang Lain, Kak Seto: Tapi Boleh dengan yang ini




Ilustrasi Orang Tua Mendidik Anak (KalderaNews/Ist)
Orang Tua Mendidik Anak (KalderaNews/Ist)

JAKARTA, Kalderanews.com – Anak-anak tidak boleh dibanding-bandingkan dengan anak yang lain. Meskipun tujuannya baik untuk memotivasi, hal itu akan membahayakan bagi anak-anak. Boleh dibandingkan, tetapi dengan bandingkan dengan diri anak itu sendiri.

Hal itu disampaikan psikolog ternama, Kak Seto Mulyadi dalam Podcast bertajuk Anak Bahagia, Pendidikan Berkualitas, sebagai tangggapan atas pertanyaan yang diutarakan salah satu peserta dalam podcast. Selain untuk penanya dan para peserta yang hadir, ia juga mengimbau hal itu kepada siapa saja yang berkecimpung dengan dunia anak-anak, terutama orang tua dan para guru.

Berawal dari pertanyaan peserta: “Sebesar apa pengaruh kepada mental anak jika orang tua membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain. Tujuan orang tua sebenarnya tidak membandingkan, tetapi hanya memberikan motivasi. Mohon arahannya?”

BACA JUGA:

Menanggapi pertanyaan ini, Kak Seto dengan tegas mengimbau peserta, orang tua, guru dan siapa pun yang terlibat dalam dunia anak agar tidak lagi mengulangi model didikan demikian sebab itu membahayakan mental anak-anak. Ia lantas memberi saran agar lebih membandingkan anak dengan diri anak itu sendiri daripada dengan anak yang lain.

“Setiap anak tentu akan terguncang harga dirinya kalau dibandingkan dengan orang lain yang mungkin tidak diakui dirinya. Sama halnya, seorang Einstein yang ahli matematika tidak bisa dibandingkan dengan Pablo Picaso yang pandai melukis. Ini sesuatu yang keliru. Jadi anak-anak boleh dibandingkan tetapi mohon bandingkan dengan diri anak itu sendiri,” tandas Guru Besar Psikologi Universitas Gunadarma.

Nah, bagaimana cara yang benar membandingkan anak dengan diri anak itu sendiri?

Ia lantas memberikan contoh yang perlu dipraktikkan orang tua, misalnya waktu itu dapat nilai 5 untuk Matematika. Itu nggak apa-apa, nanti usahakan naik bisa dapat 6 atau dapat 7.

Dengan contoh ini, Kak Seto mengingatkan agar dalam membandingkan itu, anak tetap dihargai harga dirinya dan kebanggaan dirinya. Sehingga anak-anak dapat melihat kemampuan dirinya dan terdorong untuk meningkatkan kemampuan tersebut lewat belajar lebih giat.

“Jadi bandingkan dengan diri anak itu supaya dia melihat, oh saya sudah bisa tapi akan lebih hebat lagi kalau saya belajarnya lebih rajin, lebih keras dan sebagainya. Karena setiap anak butuh penghargaan, apresiasi, ajungan jempol. Makanya biasakan kepada setiap putra-putrinya: mama bangga padamu nak!” tandas kak Seto.

Pola didikan dan motivasi demikian, menurut kak Seto akan membuat anak semakin percaya diri, memiliki perilaku yang baik, merasa diakui keberadaannya dan karakternya akan semakin terbangun. Anak-anak yang dihargai akan lebih santun, kreatif, disiplin dan percaya diri.

Jika artikel ini bermanfaat,silakan dishare kepada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*