ChatGPT Diblokir di Sekolah AS, Orang-orang Harvard Ajukan 10 Solusi

Siswa sekolah di Amerika Serikat. Banyak sekolah di AS kini melarang penggunaan ChatGPT (Getty Image/Forbes)
Siswa sekolah di Amerika Serikat. Banyak sekolah di AS kini melarang penggunaan ChatGPT (Getty Image/Forbes)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, Kalderanews.com — Sekolah-sekolah di AS mulai memblokir penggunaan ChatGPT, program kecerdasan buatan yang menjadi kontroversi dalam dua bulan terakhir. ChatGPT dideskripsikan sebagai program yang mampu menghasilkan tulisan yang sangat meyakinkan dan nyata  mencakup berbagai mata pelajaran.

Otoritas pendidikan di sejumlah negara bagian di AS secara resmi telah  menerbitkan aturan pelarangan. Aturan itu didasarkan pada  kekhawatiran dampak negatifnya pada pembelajaran siswa. Selain itu kekhawatiran juga terkait dengan   keamanan dan keakuratan konten.

Tidak sedikit tokoh pendidikan AS yang mengecam pelarangan. Di antaranya, Salman Khan. Pendiri platform pembelajaran internet gratis yang terkenal, Khan Academy, itu  mengecam pelarangan menyeluruh. Menurut dia, melarang ChatGPT sepenuhnya adalah “pendekatan yang salah”. Khan justru memandang ChatGPT sebagai program yang  “transformatif” untuk masa depan pendidikan.

BACA JUGA:

Banyak kalangan menunggu respons lembaga-lembaga pendidikan ternama terhadap pelarangan ini. Namun tampaknya banyak yang belum mengambil sikap, termasuk Universitas Harvard.

Hal ini mendatangkan sikap gregetan di kalangan intelektual Harvard sendiri. Mereka mengeritik posisi pasif  Harvard. Padahal ini adalah isu yang urgen bagi dunia pendidikan.

Itu sebabnya Dewan Redaksi Harvard Crimson, publikasi resmi Universitas Harvard yang dihormati, memutuskan untuk menulis editorial menyikapi kontroversi ChatGPT. Tulisan editorial berjudul  The (Mis)Education of ChatGPT itu merupakan hasil diskusi harian seluruh staf dewan redaksi. Pandangan yang disampaikan melalui tulisan editorial pada 3 Februari 2022 itu disetujui oleh sebagian besar anggota Dewan Redaksi.

Beberapa poin pandangan Dewan Redaksi Harvard Crimson (DRHC) adalah sbb:

  1. DRHC  menyadari bahwa mereka tunduk dan  sangat menghargai prinsip-prinsip keterlibatan mendalam, pemikiran kritis, wacana, dan kepenulisan — prinsip-prinsip yang kepentingannya terancam serius oleh perkembangan kecerdasan buatan. Menuru DRHC sepintas ChatGPT meniru prisip-prinsip utama tersebut. Karya ChatGPT sering ditulis dengan baik, dapat menghasilkan esai analitis yang logis lebih cepat dibanding manusia. Namun, tulisan dan pemikiran semu yang dilakukan ChatGPT, meskipun produknya hampir identik dengan hasil karya manusia, kehilangan hal yang penting.
  2. DRHC  berpendapat menulis lebih dari sekadar menyusun kata-kata untuk menyampaikan informasi. Menulis adalah manifestasi fisik dari pemikiran manusia – sangat penting untuk pemikiran kritis dan penemuan intelektual. Ini adalah arena di mana gagasan embrionik yang kabur berubah menjadi gagasan yang tepat dan berkembang melalui rentetan kreativitas prosais. Proses penulisan sama pentingnya dengan hasil akhir, karena banyak ide yang memperkaya karya  hanya dapat dikembangkan melalui upaya artikulasi manusiawi.
  3. Mengalihdayakannya ke ChatGPT, menurut DRHC, tidak hanya membuang begitu saja pekerjaan berat seperti membuat tanda kutip dan memperlancar transisi paragraf —   juga  memutilasi kemampuan generatif dan menghentikan pertumbuhan otot kreatif. Ini bertentangan dengan peningkatan keterampilan yang menjadi argumentasi diperlukannya ChatGPT.
  4. DRHC mengamati  kurangnya tanggapan dari administrasi Harvard terkait perkembangan teknologi ini. Saat ini, ChatGPT tampak relatif tidak berbahaya. Tetapi mengingat hukum Moore, yang berpendapat bahwa daya komputasi akan berlipat ganda setiap dua tahun,  dapat diasumsikan bahwa kecepatan dan kemampuan aplikasi kecerdasan buatan akan meningkat di tahun-tahun mendatang. Dan  mengingat Harvard tidak memiliki kebijakan tentang kecerdasan buatan  di lingkungan perguruan tinggi itu, tampaknya memang Harvard sangat tidak siap.
  5. DRHC berpendapat umur kecerdasan buatan ditentukan oleh manusia; manusia tidak punya waktu untuk kalah. Harvard harus memulai evaluasi intensif terhadap berbagai cara di mana pengembangan kecerdasan buatan dapat disalurkan menuju perkembangan manusia yang lebih cemerlang tanpa mengorbankan penanaman kesadaran  secara holistik kepada siswa sebagai pemikir.
  6. DRHC mendesak agar pada tingkat pedagogis, Harvard segera membentuk kelompok kerja tentang peran alat kecerdasan buatan dalam pedagogi. Kelompok kerja tersebut bekerja dengan memperhatikan penerapan metode sebagai proyek jangka panjang, belajar di kelas, dan diskusi yang relatif terisolasi dari alat kecerdasan buatan  dan dapat diterapkan pada semua jenjang pendidikan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
  7. DRHC  juga mendesak agar Harvard  menemukan domain di mana kecerdasan buatan dapat menawarkan peningkatan keterampilan alamiah tanpa mengurangi  pembelajaran bagi pengguna seiring pengembangan aplikasi lebih lanjut.
  8. DRHC mendesak Harvard  mendanai pengembangan alat yang lebih kuat untuk mendeteksi jejak kecerdasan buatan pada aplikasi yang ada, sehingga instruktur dapat menerapkan kebijakan yang sepadan dengan sifat dan tujuan mata kuliah masing-masing, sambil menghormati kebijakan Universitas untuk tidak langsung melarang piranti kecerdasan buatan.
  9. DRHC menyadari bahwa prospek alat kecerdasan buatan yang nilai-nilainya tidak sejalan dengan nilai manusia dapat menimbulkan risiko eksistensial bagi umat manusia. Pengembangan kecerdasan buatan sebagai sebuah bidang tidak kebal terhadap sifat insentif keuntungan dari perusahaan Amerika, yang dapat memaksa perusahaan untuk meluncurkan produk kecerdasan buatan secepat mungkin tanpa mempertimbangkan konsekuensi potensial secara menyeluruh. Pemahaman tentang seluk-beluk bagaimana model kecerdasan buatan  mengambil keputusan masih terbatas, dan karena itu, penelitian kecerdasan buatan harus maju dengan hati-hati dan standar etika tertinggi. Pendanaan untuk penelitian semacam itu harus independen dan tidak secara eksklusif berasal dari donor dengan insentif uang terkait keberhasilan produk kecerdasan buatan.
  10. DRHC berpendapat kecerdasan buatan masih merupakan konsep yang samar-samar, dan banyak sekali kesalahpahaman tentang masa depannya. Meskipun demikian, DRHC berpandangan bahwa larangan menyeluruh terhadap ChatGPT tidak diperlukand oleh Harvard. Sekolah yang terlalu senang dengan pelarangan kecerdasan buatan akan berisiko menempatkan siswanya pada posisi pendidikan yang tidak menguntungkan dan menghadapi persaingan yang serius, terutama relatif terhadap negara lain yang mungkin lebih menerima kecerdasan buatan dibanding AS. Oleh karena itu pendidikan harus mempersiapkan kaum muda untuk masa depan — dan masa depan tampaknya melibatkan banyak ChatGPT.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News.

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu!




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*