Renungan dan Refleksi Rabu Abu Oleh P. Antonius Widada, CP

Rabu Abu
Rabu Abu (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – Teman-teman, saya merefleksikan hari pertama Retret Agung dalam Masa Prapaska yang diawali Rabu Abu. Hari Rabu jatuh 40 hari sebelum Kamis Putih 2023 ini.

Jejak sejarah sudah sangat kuno, Tertulianus 160-220, menyinggung soal pertobatan Kristiani, berpantang, berpuasa dengan menaburkan abu di kepala, dan berderma untuk orang melarat tanpa bersenang-senang. Mulai pada abad ke-7, Gereja Katolik Roma merayakan Rabu Abu.

I). Renungan Sederhana

Makna “Abu”, ashes (Inggris), spodos (Yunani). Abu sejak zaman dahulu kala disamakan dengan debu tanah sebagai simbol:

  1. Kerapuhan, simbol dosa (Kej 18: 27, Ayb 30, 19) dll.
  2. Abu juga ditaburkan di kepala sebagai ungkapan perkabungan dan pertobatan (Yes 58: 5, Yer 6 : 26, Mat 11: 21, Luk 10: 13.
  3. Abu dari pengorbanan lembu muda yang direcikan dalam upacara 2 pemurnian/ pembersihan (Ibr 9 : 13).

BACA JUGA:

II). Refleksiku

A). Saya menyadari sebagai manusia yang rapuh dan lemah, mudah sekali jatuh dalam godaan kenikmatan duniawi, yang mengakibatkan jatuh dalam dosa melawan Allah, sesama dan keinginan baik saya. Akibat dosa, saya akan mati dan tubuh molek ini menjadi abu atau debu tanah.

B). Saya menyesal dan sedih karena telah banyak berbuat dosa. Dosa apa? Saya melawan 10 perintah Allah Kel 20: 1-17 (PS 6).

  • Saya malas berdoa karena tidak setia dan hormat kepada Tuhan. Bahkan malah lebih suka berziarah ke tempat angker, kuburan, tapak tilas orang terkenal. (Pasal 1-3).
  • Saya juga sering tidak menghargai dan menghormati orang tua yang miskin, tetapi telah berkorban untuk anak-anaknya. Saya malu karena mereka miskin dan saya anggap bodoh. (Pasal 4)
  • Saya juga pernah membunuh karakter orang lain dengan kebencian, dendam iri hati, bahkan mungkin dulu waktu pacaran keterlauan pernah menggugurkan bayi yang tidak dikehendaki. (Pasal 5)
  • Saya tidak setia dengan janji nikah, berselingkuh dan tidak setia pada pasangan, rumah tangga, komunitas, paroki serta menghamburkan uang untuk perselingkuhan demi mencari kenikmatan selera dan nafsu birahi saya. (Pasal 6)
  • Saya sering mencuri, korupsi, menggelapkan uang arisan, yayasan, kantor, perusahaan untuk kepetingan pribadi. (Pasal 7)
  • Saya sering tidak jujur karena gengsi terutama terhadap bawahan saya. (Pasal 8)
  • Saya juga bertindak berselingluh dengan istri-suami, anak orang teman kenalan saya. (Pasal 9)
  • Saya serakah, bertindak tidak adil. Saya pelit berderma. (Pasal 10)

C). Pertobatan

Saya ingin membangun niat dan berjuang untuk bertransformasi diri ke depannya agar layak ikut merayakan misteri dan dasar iman Kristianiku: Sengsara, Wafat dan Paskah Yesus Kristus. Perintah Tuhan Yesus dalam Injil Mat 16: 1 -6, 16 -18. Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu (4, 6, 18).

Saya ingin agar Tuhan yg tersembunyi itu mengampuni dosa2ku dengan rajin merayakan misa kudus, berdoa brevir, rosario yang selama ini bolong-bolong dan malas. Saya ingin melakukan pelayanan mulai dari komunitas atau lingkungan terkecil, tempat Tuhan Allah tersembunyi.

Ternyata pelayanan dan pengorbanan saya selama ini sarat dengan ingin pujian dan gengsi. Suka pelayanan di gereja paroki tidak kenal lingkungan, di tempat-tempat megah yang memberi kepuasan batin saja. Saya berjuang keras agar tidak selingkuh , narkoba, merokok dan uangnya akan saya kumpulkan untuk membantu yang kurang beruntung. Saya berniat tidak ngomel-ngomel membicarakan kejekan orang lain.

Kemunafikan diri, hanya tata lahir penghayatan iman harus diputus habis.

Meskipun Tuhan tersembunyi, tetapi selalu hadir di sampingku melalui sesamaku yang lapar, haus, telanjang, terasing, sakit dan dipenjara, sedih dan susah. Bagaimana sikapku?

Semoga Tuhan Yesus Kristus memurnikan hati dan pikiran niat-niat baik saya, sehingga saya bisa bertobat penuh sukacita. Amin.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu!




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*