Anak Juga Butuh Privasi, Kecil-kecil Sudah Dibuatkan Akun Sosmed Pribadi?

Ibu dan Anaknya
Ibu dan Anaknya (Foto: Shutterstock)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – Sharenting memang sedang ramai dilakukan oleh orang tua untuk buah hatinya yang sedang tumbuh dan berkembang. Tapi, apakah semua hal harus dibagikan di sosmed?

Pendidik anak usia dini di Rumah Main Cikal, Ina Winangsih menegaskan orang tua harus memperhatikan berbagai hal penting yang perlu diterapkan terkait privasi anak.

Anak juga punya privasi. Lantas apa saja hal tersebut?

BACA JUGA:

Berikut ini 4 hal penting yang wajib dipahami orang tua sebelum buat akun sosial media anak:

1). Apa Tujuan atau Alasannya?

Dalam membuat atau mendedikasikan akun sosial media khusus anak, orang tua alangkah baiknya merefleksikan dahulu tujuan dan/atau alasan membuat sosial media anak. Jika anak sudah memungkinkan atau sudah paham untuk diajak berdialog dan dimintai pendapatnya, maka tanyakan pendapat anak dan biarkan anak memilih sesuai dengan kenyamanannya.

“Sebaiknya orangtua memerhatikan peruntukan media sosial sebelum membuatkan akun untuk anaknya. Biarkan anak memilih untuk memiliki akun sosial media atau tidak, ketika dirinya sudah paham dan dapat menentukan. Sementara anak tumbuh, orang tua dapat menyimpan dokumentasi atau membuat catatan pribadi yang hanya dapat diakses oleh orang tua dan anak kelak,” jelas Ina.

2). Jaga Dong Hak dan Privasi Anak

Ketika memutuskan membuat sosial media khusus anak untuk mengabadikan cerita pengembangan dirinya, maka orang tua harus menjaga hak dan privasi anak. Orang tua harus menjaga hal-hal yang tidak seharusnya dipublikasikan dalam sosial media, sebagai berikut:

  • Bagian privat anak (alat kelamin, foto tanpa pakaian)
  • Identitas anak (nama lengkap, nama panggilan, tanggal lahir, lokasi sekolah dan juga informasi kelas anak, dan sebagainya)
  • Keberadaan anak (tidak membagikan lokasi anak secara real time)
  • Aktivitas yang privat (mandi, buang air besar/kecil)

Orang tua dapat menyalahi hak privasi anak apabila mempublikasikan beberapa hal yang tidak seharusnya dipublikasikan. Mengingat, hal tersebut dapat menempatkan anak dalam risiko.

“Sharenting dapat menyalahi hak privasi anak apabila orangtua membagikan hal-hal privat seperti bagian tubuh tertentu, bagian muka yang terekspos dengan jelas, atau bahkan data informasi anak. Hal ini tidak bisa dianggap berbagi cerita tentang anak saja, karena selain menyalahi hak privasi anak, kita juga telah menempatkan anak pada risiko, misalnya memancing stalker untuk berbuat hal yang berbahaya pada anak atau bahkan orang tuanya,” jelas Ina.

3). Seleksi dan Kurasi dengan Baik Foto Anak

Jika sudah memahami hal-hal yang tidak dapat dipublikasikan di sosial media anak, maka langkah selanjutnya adalah melakukan seleksi dan kurasi foto anak apabila akun sosial media yang dibuat terbuka untuk umum. Fokuskan pada kegiatan anak saja dan disarankan tidak menyebutkan lokasi realtime anak.

Orang tua pasti ingin memiliki dokumentasi tumbuh kembang anaknya. Boleh saja apabila ingin membagikannya di sosial media. Namun, orangtua perlu menyeleksi atau membatasi siapa saja yang sekiranya boleh melihat dokumentasi-dokumentasi tersebut. Akan lebih baik apabila orangtua menyimpannya sendiri dan menyusunnya dalam folder-folder pribadi yang dapat diakses orangtua atau anak ketika dewasa nanti.” ujar Ina.

4). Batasi Orang yang Dapat Melihat Dokumentasi Anak

Poin keempat ini tentu berkaitan dengan poin ketiga, apabila orang tua memutuskan untuk membuat akun anak di sosial media, maka alangkah baiknya membatasi orang-orang yang dapat melihat dokumentasi anak, agar terhindar dari penyalahgunaan dokumentasi anak.

Dalam hal ini, orang tua menjadi pusat kontrol dan kendali utama atas siapa saja yang dapat melihat foto-foto aktivitas dan kegiatan anak.

“Kita tidak tahu apa yang akan orang lakukan pada konten yang kita bagikan. Maka sebaiknya kita yang memegang kontrol penuh terhadap apa yang akan kita bagikan di sosial media. Terutama anak memiliki kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa karena dalam konteks sosial media, anak masih belum bisa menggunakannya dan tidak memiliki kendali atas apa yang akan orang lakukan terhadap dokumentasi/identitas yang kita bagikan,” tambahnya.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*