Makna Laku Thudong 32 Biksu dari Thailand sampai Borobudur

Ritual Thudong biksu Buddha. (Ist)
Ritual Thudong biksu Buddha. (Ist)

MAGELANG, KalderaNews.com – Perjalanan laku Thudong 32 biksu dari Thailand telah sampai di Catra Jinadhammo Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Para biksu itu telah menempuh perjalanan dengan berjalan kaki sejauh 2.650 kilometer.

Sebelum sampai di Indonesia, para biksu atau bhante ini melalui Malaysia, Singapura, dan tiba di Indonesia melalui Batam pada 8 Mei 2023.

Para biksu yang melakoni ritual Thudong berasal dari Thailand, Malaysia, dan Indonesia.

BACA JUGA:

Nakhon Si Thammarat

Perjalanan Thudong 32 biksu dari Thailand menjalani ritual Thodung menuju Candi Borobudur dimulai dari vihara peninggalan Kerajaan Sriwijaya di Nakhon Si Thammarat, Thailand.

Nakhon Si Thammarat merupakan provinsi tertua di Thailand yang terletak di wilayah selatan.

Di daerah ini terdapat Wat Phra Mahathat Woramahawihan, salah satu vihara tertua di Thailand yang didirikan pada abad ke-8 oleh Raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa sebagai tempat penyimpanan relik Buddha.

Vihara ini menjadi semacam simbol perjalanan penyebaran agama Buddha dari Sriwijaya ke Thailand.

Makna Thudong 32 biksu

Selain untuk merefleksikan jejak perjalanan Sang Buddha, ritual Thudong dilakukan untuk merenungi ajaran-ajaran Sang Buddha dan merefleksikan penyebaran ajarannya.

Thudong adalah ritual keagamaan dalam tradisi Buddhisme Theravada yang melibatkan perjalanan ke tempat-tempat suci.

Buddhisme Theravada tersebar di beberapa negara seperti Sri Lanka, Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Myanmar.

Thudong berasal dari kata “Dhutanga” yang artinya latihan keras.

Latihan ini dilakukan sebagai bentuk menjalani perintah Sang Buddha, yang meliputi 13 praktik pertapaan, yang berarti bhante harus menyatu dengan alam untuk mencapai fase meditatif.

Thudong pun dapat diartikan sebagai kehidupan mengembara, bertapa, menyendiri, dan meditatif untuk mencari pemahaman lebih dalam tentang ajaran Buddha.

Ritual Thudong telah berjalan selama ribuan tahun, seusia perjalanan Sang Buddha menyebarkan ajaran kebajikannya.

Thudong dilakukan dengan cara berjalan kaki sambil melakukan perenungan.

Sebelum melakukan perjalanan, para biksu harus berdiam diri di suatu tempat dan berpuasa selama empat bulan. Jika sudah memasuki musim kemarau atau musim semi, Thudong baru dilaksanakan.

Sepanjang perjalanan, para bhante tidak membawa bekal apapun dan hanya mengenakan jubah biksu, kaos kaki, dan sandal.

Mereka mengandalkan dukungan masyarakat, terutama umat Buddha selama perjalanan.

Saat melakukan ritual itu, para biksu berupaya mencapai tujuan terhindar dari tiga dosa utama yaitu keinginan duniawi, kemarahan, dan kebodohan.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*