Parah, Puluhan Siswa SMP di Jawa Barat Tidak Bisa Baca, Dampak Kurikulum Merdeka?

Siswa di SMP N 1 Mangunjaya. (dok.sekolah)
Siswa di SMP N 1 Mangunjaya. (dok.sekolah)
Sharing for Empowerment

PANGANDARAN, KalderaNews.com – Puluhan siswa SMP yang diketahui di Pangandaran, Jawa Barat diketahui tidak bisa baca. Kabar ini heboh di sosial media, apa penyebabnya?

Belakangan ini, sebuah postingan di media sosial yang dibuat oleh seorang guru SMP menarik perhatian banyak orang.

Dalam postingannya, sang guru mengeluhkan banyaknya siswa yang belum mahir membaca.

Keluhan ini menjadi viral setelah guru tersebut membagikan pengalamannya di platform media sosial.

BACA JUGA:

Idealnya, siswa SMP sudah harus memiliki kemampuan membaca yang memadai, karena ini merupakan keterampilan dasar yang penting untuk mendukung proses belajar dan kelulusan dari sekolah dasar. Namun, situasinya tampaknya berbeda di SMP yang satu ini.

Baru-baru ini, mereka menerima murid-murid baru di sekolah. Sayangnya, sejumlah siswa masih belum bisa membaca. Guru yang pertama kali mengupload konten siswa SMP yang tidak bisa baca itu diketahui bernama Sarah.

Ada 30 siswa SMP tidak bisa baca

Total, ada 30 siswa di SMP tempatnya mengajar yang belum bisa membaca.

Dalam sebuah unggahan di akun TikTok @sarah_2293, guru tersebut mengungkapkan bahwa banyak siswa SMP di sekolahnya yang tidak hanya kesulitan membaca, tetapi juga belum menghafal huruf-huruf.

Sarah juga menyoroti kondisi pendidikan di Indonesia yang menurutnya sedang dalam keadaan yang kurang baik.

“Indonesia dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyak siswa SMP yang tidak bisa membaca dan tidak mengenal huruf alfabet,”tulisnya.

Masalah ini tidak hanya berdampak pada generasi mendatang, tetapi juga menambah beban kerja bagi para guru SMP.

Sarah mengungkapkan bahwa dirinya harus mengajarkan siswa membaca di luar jam mengajarnya, yang berarti tambahan pekerjaan di luar jadwal resmi.

“Akhirnya guru SMP mendapat tugas tambahan di luar jam ngajar harus ngajar siswa/i membaca,” ujarnya.

Sarah juga mempertanyakan peran orangtua dalam mengawasi perkembangan anak-anak mereka.

Ia merasa bahwa orangtua seharusnya lebih peka terhadap kemajuan pendidikan anak mereka, karena pelajaran di SMP sudah berada di tingkat yang lebih tinggi dan tidak lagi fokus pada pengajaran huruf A hingga Z.

“Tolong dong orang tua siswa harus peka sama anak sendiri, pelajaran SMP itu udah lumayan tinggi masa harus ngajari anaknya dari huruf A-Z,” tuturnya.

Sarah juga menyalahkan para guru di tingkat sekolah dasar, yang diduga tidak mengajarkan keterampilan membaca dengan baik.

Sesalkan keputusan SD yang meluluskan siswa tidak bisa baca

Ia mempertanyakan keputusan sekolah dasar yang meluluskan siswa meskipun mereka tidak memiliki kemampuan membaca yang memadai.

“Guru-guru SD juga tolong dong ajarkan mereka huruf. Kok bisa tamat SD tidak tahu huruf dan tidak bisa membaca,” imbuhnya.

Sarah mengaku tidak akan mempermasalahkan jika hanya ada 1 atau 2 siswa yang belum bisa membaca.

Namun, di SMP tempatnya mengajar, ia menemukan bahwa ada 30 siswa yang masih belum bisa membaca.

Dampak Covid-19 hambat kemampuan baca siswa

Namun, belakangan diketahui bahwa masalah siswa SMP yang tidak bisa membaca ini terjadi di SMPN 1 Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Video tentang hal ini sempat viral pada tahun 2023.

Dian Eka Purnamasari, guru di SMPN 1 Mangunjaya, menjelaskan bahwa 29 siswa yang masuk pada tahun ajaran 2023/2024 tidak bisa membaca karena proses belajar-mengajar saat mereka di sekolah dasar terganggu akibat pandemi Covid-19.

“Kelas 7 tercatat 11 siswa, kelas 8 ada 16 siswa dan kelas 9 tercatat 2 siswa,” ujarnya.

Benarkah kurikulum merdeka membuat kemampuan baca siswa terhambat?

Ketidakmampuan siswa SMP dalam membaca merupakan masalah serius yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Kemendikbudristek.

Kemendikbudristek memiliki tanggung jawab besar dalam mengatur dan mengawasi kualitas pendidikan di Indonesia.

Kemendikbudristek mengembangkan kurikulum yang dirancang untuk membangun keterampilan dasar, termasuk membaca, sejak pendidikan dasar.

Kurikulum Merdeka sendiri adalah kurikulum yang mulai diterapkan pada tahun 2020, bertepatan dengan pandemi Covid-19.

Kondisi ini bisa saja berpotensi memengaruhi kemampuan baca siswa, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kurikulum Merdeka, yang diperkenalkan oleh Kemendikbudristek pada tahun 2020, bertujuan untuk memberikan fleksibilitas dan otonomi lebih kepada sekolah dan guru dalam mengelola pembelajaran.

Tujuannya adalah untuk mengatasi berbagai masalah dalam sistem pendidikan, termasuk meningkatkan keterampilan dasar seperti membaca.

Jika banyak siswa SMP belum bisa membaca, mungkin ada masalah dengan kurikulum atau standar pendidikan di tingkat dasar yang tidak memenuhi kebutuhan siswa. Kualitas pengajaran di tingkat dasar sangat berpengaruh.

Kurikulum Merdeka dan pandemi Covid-19 memiliki potensi untuk mempengaruhi kemampuan baca tulis siswa, baik secara langsung melalui perubahan dalam metode pengajaran dan kurikulum, maupun secara tidak langsung melalui tantangan yang dihadapi selama pembelajaran daring.

Jika guru di sekolah dasar tidak memadai atau tidak mendapatkan pelatihan yang tepat, hal ini dapat mempengaruhi kemampuan membaca siswa.  Apalagi kasus siswa yang tidak bisa baca tersebut diluluskan oleh pihak sekolah dasar.

Selain dari pihak sekolah dasar yang meluluskan siswa tidak bisa baca, keterlibatan orang tua juga penting untuk disoroti.

Selayaknya, orang tua perlu mendukung proses belajar anak di rumah. Jika orang tua tidak aktif dalam mendukung pembelajaran membaca, hal ini bisa menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


1,430 views