
SUMENEP,KalderaNews.com – Kisah sosok Ahmad Nurdin (50), seorang guru honorer di Sumenep, Jawa Timur yang motornya dibakar dan tinggal di gubug viral di sosial media.
Diketahui bahwa guru tersebut tinggal di gubuk hingga jatuh sakit usai sepeda motornya dibakar. Ahmad Nurdin mengajar di SMA Putra Bangsa Kabupaten Sumenep, Jawa Timur sejak tahun 1990.
Peristiwa pembakaran motor itu terjadi saat Nurdin pulang dari mengajar sekitar pukul 14.00 WIB.
Nurdin menceritakan bahwa pelaku, Ahmad Qurtubi (19), seorang tamatan SMA di luar kota yang berasal dari desa yang sama, tiba-tiba mencegatnya di jalan Dusun Bugis.
BACA JUGA:
- Viral di Sosmed! Siswa Tega Bakar Motor Kepala Sekolah karena Tidak Terima Dapat Surat Pemanggilan Orang Tua
- Ditangkap! Inilah Sosok Pengemudi Mobil Ayla Bertato yang Pukul dan Buang Kunci Mahasiswa Pemotor di Yogyakarta
Kronologi pembakaran motor
“Pelaku mengatakan dia tersinggung dengan pernyataan saya saat menjadi pembina upacara di sekolah,” kata Nurdin.
Nurdin menjelaskan bahwa saat memberikan sambutan di upacara, ia tidak menyebut nama siapa pun dan hanya memberikan nasihat secara umum kepada seluruh siswa.
“Sambutan saya itu global, tidak ada nama yang saya sebutkan. Saya hanya berharap para siswa tidak berani terhadap orang tua atau bahkan mengancam untuk membunuhnya. Ilmu itu tidak akan berkah jika sudah di tengah masyarakat,” ujarnya menegaskan.
Namun, pelaku merasa bahwa pernyataan yang disampaikan Nurdin ditujukan kepadanya, meskipun ia tidak berniat demikian. Ketika mencegat Nurdin, tersangka langsung mengeluarkan parang dan mengancam Nurdin.
“Pelaku marah-marah dan tiba-tiba menghunus parang ke arah saya. Parang itu sempat saya tempelkan ke kepala dan pipi saya. Beruntung tidak luka,” tutur Nurdin.
Melihat pelaku yang tampak emosi, Nurdin pun berusaha menjauh dari motornya, sekitar 15 meter. Namun, pelaku tetap melampiaskan emosinya dengan menebas motor korban menggunakan parang.
Meskipun beberapa warga dan siswa yang ada di lokasi, mereka tidak bisa berbuat banyak. Setelah kejadian, Nurdin berusaha menemui kepala desa, namun tidak berhasil karena sang kepala desa sedang berobat.
Ia pun memutuskan untuk pulang dan menenangkan diri. Namun, beberapa saat kemudian, ia mendapatkan kabar bahwa motornya sudah terbakar.
“Ada voice note yang diterima oleh kerabat dan juga beredar video motor saya sudah dibakar oleh pelaku,” jelas Nurdin.
Salah paham memicu motif pembakaran
Kemudian di malam hari setelah kejadian, guru honorer tersebut bersama kerabatnya melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Kangean.
Setelah melapor, korban segera pulang karena masih trauma dengan pengancaman dan pembakaran motor tersebut. Kepolisian setempat langsung menangkap pelaku setelah laporan yang dilayangkan Nurdin.
Berdasarkan pengakuan tersangka, ia tidak terima dengan sambutan yang disampaikan oleh Nurdin saat menjadi pembina upacara.
Meskipun bukan siswa di sekolah tersebut, pelaku diduga mendengar informasi dari teman-temannya yang bersekolah di SMA Putra Bangsa.
Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti, menjelaskan bahwa pelaku merasa sakit hati karena ucapan korban yang dianggap menyindirnya.
Guru honor Nurdin tinggal di gubug reyot
Diketahui bahwa guru Nurdin mengajar Fisika dan Biologi. Meskipun berprofesi sebagai guru, Pak Nurdin bukanlah orang yang hidup serba berkecukupan.
Selama ini, dia hanya menggantungkan hidupnya dari upah menjadi guru yang jumlahnya tidak seberapa. Adapun gajinya perbulan hanya Rp1 juta.
Selama bertahun-tahun, Pak Nurdin hanya mendiami gubuk yang terbuat dari gedek (bambu) berukuran dua meter persegi.
Kondisi gubuknya sudah nyaris reyot dan suatu ketika terancam ambruk. Tempat tidur, dapur dan ruang tamu menjadi satu.
Ketika memasuki musim penghujan dan dilanda hujan deras serta angin kencang, Nurdin tetap bertahan di dalam gubuk satu-satunya itu.
Dia hanya bisa menambal kebocoran dari genteng menggunakan terpal bekas. Nurdin bahkan tidak memiliki kamar mandi di gubuk kecilnya itu.
Untuk bisa mandi, dia terpaksa numpang ke kamar mandi masjid, yang letaknya tidak jauh dari rumahnya.
Hingga hari ini, gubuk milik Pak Nurdin tidak pernah tersentuh bantuan dari pemerintah. Padahal, ia tidak memiliki kendaraan untuk berangkat dan pulang dari sekolah SMA Putra Bangsa, yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari rumahnya setelah peristiwa pembakaran motor tersebut.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply