Science Fair Project: Membangun Karakter Saintis Sejak Dini

Science Fair Project
Science Fair Project di SD Sint Carolus Tarakanita Bengkulu (KalderaNews/ Cicilia Ari Susanti)
Sharing for Empowerment

Oleh: Cicilia Ari Susanti (Guru SD Sint Carolus Tarakanita Bengkulu)

JAKARTA, KalderaNews.com – Science Project Fair merupakan ajang tahunan di Yayasan Tarakanita termasuk SD Sint Carolus Tarakanita Bengkulu. Ajang ini penting untuk menumbuhkan minat dan karakter saintis pada generasi muda.

Ajang ini diselenggarakan selaras dengan salah satu standar pembelajaran Tarakanita yaitu pembelajaran berbasis riset. Namun, seiring berjalannya waktu sering muncul pertanyaan: apakah proyek yang ditampilkan harus selalu berupa riset mendalam atau cukup dengan praktikum sederhana?

Jika kita telaah lebih jauh, praktikum atau eksperiman sederhana adalah langkah awal dalam memperkenalkan dunia sains kepada peserta didik sekolah dasar. Dalam pelaksanaan praktikum, peserta didik belajar untuk mengamati, mencatat, dan memahami dasar pengetahuan dengan cara konkret dan menyenangkan.

BACA JUGA:

Contohnya memahami konsep gunung meletus dengan praktikum gunung berapi menggunakan soda kue dan cuka. Praktikum ini memungkinkan anak-anak melihat langsung bagaimana konsep dasar/suatu teori ditampilkan dalam bentuk praktik bukan sekedar kata-kata sehingga menumbuhkan rasa ingin tahu dan membangun pemahaman yang kuat.

Praktikum berfokus pada mempraktikkan kembali dan memahami konsep, sedangkan riset mendorong peserta didik untuk berpikir lebih dari biasanya dengan mencari jawaban atas pertanyaan yang belum terjawab.

Kerangka berpikir dalam mengerjakan suatu proyek riset diawali dengan dasar awal melakukan riset, merumuskan hipotesis/dugaan sementara, mengumpulkan referensi/literasi yang mendukung, merancang sebuah eksperimen yang sistematis, mengumpulkan data, menganalisis, dan menarik kesimpulan. Contohnya penelitian tentang peran orang tua dalam pemilihan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Dalam riset, anak-anak diajak dan dimotivasi untuk berpikir kritis, memecahkan masalah secara mandiri, dan bahkan mengembangkan ide-ide baru mereka.

Saat melakukan riset, sekali melaksanakan tidak serta merta akan mendapatkan lagsung hasil sempurna hanya dalam satu kali pelaksanaan.

Mereka akan belajar cara menghadapi kegagalan, mengulang percobaan, dan mendapatkan pendekatan terbaik sehingga mendapatkan hasil yang terbaik dari riset yang dilakukan.

Dari penjelasan tersebut, kita menyadari bahwa praktikum maupun riset berkontribusi pada pembentukan karakter saintis pada peserta didik, antara lain rasa ingin tahu (curiosity), berpikir kritis (critical thinking), kreativitas (creativity), keterampilan pemecahan masalah (problem-solving skill), ketekunan, integritas ilmiah, dan keterampilan komunikasi.

Jadi, apakah science fair project harus fokus pada riset atau praktikum? Idealnya pelaksanaannya harus seimbang agar keduanya dapat terlaksana. Untuk peserta usia yang lebih muda (SD kelas bawah), praktikum sederhana bisa menjadi gerbang pembuka yang menarik, sehingga dengan dasar ini ketika memasuki usia SD kelas atas mereka dapat didorong untuk melakukan proyek riset yang lebih mendalam dengan bimbingan yang tepat.

Dalam menjaga keseimbangan ini, orang tua dan guru berperan penting untuk memberikan dorongan, motivasi, bimbingan, dan memberikan lingkungan yang menyenangkan.

Satu hal penting yang perlu ditekankan kepada peserta didik bahwa kegagalan adalah bagian dari pembelajaran dan perbaikan, sehingga berfokuslah pada proses, bukan hanya hasil. Jadikan sains sebagai petualangan menarik bukan sebuah beban.

Science fair project adalah program yang lebih dari sekedar kompetisi, namun merupakan investasi jangka panjang dalam membentuk generasi muda yang kritis, inovatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Dengan memberikan kesempatan bagi mereka untuk melakukan praktikum ataupun riset, kita tidak hanya membentuk seorang ilmuwan, tapi juga individu dengan karakter kuat dan siap berkontribusi di masa mendatang.

Daftar Pustaka

Rahmawan, Deby Indriani.(2019).Pembelajaran Berbasis Riset di Sekolah Dasar Sanggar Anak Alam (SALAM) Nitiprayan Kasihan, Bantul.Yogyakarta, Indonesia;UIN Sunan Kalijaga. (link: https://digilib.uin-suka.ac.id/id/document/771721)

Sudana, Dewa Nyoman, & Sudarma, I Komang.(2018).Pengembangan Instrumen Sikap Ilmiah untuk Siswa Sekolah Dasar.Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, Vol (2), Number 2, 144-150. (link https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JISD/article/download/14098/9585/21639)

Supriyati (2015).Pembelajaran Sains untuk Anak SD/MI dengan Pendekatan Saintifik.Elementary: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, Vol. I hal.45-51. (link https://e-journal.ejournal.metrouniv.ac.id/elementary/article/download/1034/886)

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*