JAKARTA, KalderaNews.com- Inilah sederet fenomena langit menarik yang akan terjadi sepanjang bulan November 2025.
Bulan November 2025 akan dipenuhi dengan berbagai fenomena langit yang menakjubkan. Mulai dari kemunculan supermoon hingga hujan meteor, sejumlah peristiwa astronomi siap menghiasi malam-malam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Bagi pencinta astronomi maupun masyarakat umum, bulan ini menjadi kesempatan istimewa untuk menikmati pemandangan langit yang memesona.
BACA JUGA:
- Komet Langka Lemmon Sapa Langit Indonesia 25-28 Oktober 2025
- BRIN Ungkap Wilayah Pesisir Utara Jawa Terancam Tenggelam 2050-2070, Ini Penyebabnya!
- Waspada! Hujan di Jakarta Ternyata Bawa Mikroplastik Berbahaya, BRIN: Polusi Plastik Sudah Mencapai Langit!
Semua fenomena tersebut dapat diamati secara langsung dengan mata telanjang, namun penggunaan teleskop atau alat bantu lain tentu akan memberikan pengalaman yang lebih maksimal.
Berdasarkan laporan dari situs astronomi In The Sky, berikut rangkaian fenomena langit yang akan terjadi sepanjang bulan November 2025 lengkap dengan jadwal dan penjelasan singkatnya.
1. Purnama Beaver Supermoon – 5 November 2025
Fenomena pertama yang akan terjadi adalah fase Bulan Purnama atau Beaver Moon, yang kali ini termasuk dalam kategori Supermoon. Peristiwa ini akan berlangsung pada 5 November 2025, saat Bulan mencapai fase purnama bertepatan dengan posisinya yang paling dekat dengan Bumi (perigee).
Supermoon akan membuat Bulan tampak sedikit lebih besar dan cahayanya lebih terang dari biasanya. Istilah Beaver Moon berasal dari tradisi penduduk asli Amerika yang menandai waktu untuk memasang perangkap berang-berang menjelang musim dingin.
2. Jupiter Mulai ‘Bergerak Mundur’ – 11 November 2025
Fenomena berikutnya terjadi ketika planet Jupiter tampak bergerak mundur di langit, atau disebut retrograde motion, pada 11 November 2025.
Meskipun terlihat seperti bergerak mundur, ini sebenarnya merupakan ilusi optik akibat posisi Bumi yang melampaui Jupiter dalam orbitnya mengelilingi Matahari.
Selama periode ini, Jupiter tampak bergeser ke arah barat setiap malam. Pergerakan semu ini menjadi momen menarik untuk diamati menggunakan teleskop sederhana.
3. Hujan Meteor Taurid Utara – 12 November 2025
Puncak hujan meteor Taurid Utara akan terjadi pada 12 November 2025. Meteor ini berasal dari sisa debu komet Encke yang terbakar saat memasuki atmosfer Bumi.
Meskipun jumlah meteor yang terlihat per jam tergolong sedikit, pancarannya dikenal cukup terang.
Waktu terbaik untuk menyaksikan fenomena ini adalah setelah tengah malam hingga menjelang fajar dengan arah pandang ke konstelasi Taurus di langit timur.
4. Hujan Meteor Leonid – 17 November 2025
Pada 17 November 2025, langit malam akan dihiasi hujan meteor Leonid. Fenomena ini disebabkan oleh partikel debu dari komet Tempel-Tuttle yang melintasi orbit Bumi setiap tahun.
Dalam beberapa periode tertentu, Leonid bisa berubah menjadi badai meteor dengan ratusan meteor per jam. Meski tahun ini diprediksi tidak seintens itu, pengamat langit tetap bisa menikmati pemandangan puluhan meteor melesat cepat di langit gelap.
5. Hujan Meteor Alpha Monocerotid – 21 November 2025
Selanjutnya, hujan meteor Alpha Monocerotid akan mencapai puncaknya pada 21 November 2025. Meteor ini tampak berasal dari konstelasi Monoceros, atau yang dikenal sebagai “Sang Unicorn”.
Fenomena ini tergolong langka karena intensitasnya tidak menentu dari tahun ke tahun. Dalam kondisi langit cerah tanpa polusi cahaya, kilatan meteor dapat terlihat jelas di sekitar rasi Orion dan Monoceros pada dini hari.
6. Hujan Meteor Orionid – 28 November 2025
Menjelang akhir bulan, tepatnya pada 28 November 2025, hujan meteor Orionid akan kembali menghiasi langit. Meteor ini berasal dari sisa debu legendaris Komet Halley.
Hujan meteor ini biasanya memiliki kecepatan tinggi dan cahaya yang terang. Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah setelah tengah malam dengan arah pandang ke konstelasi Orion di langit bagian timur.
7. Saturnus Akhiri ‘Gerak Mundur’ – 28 November 2025
Pada tanggal yang sama, planet Saturnus juga akan mengakhiri fase retrograde-nya atau gerak mundur semu. Sejak beberapa bulan terakhir, Saturnus terlihat bergerak berlawanan arah dari lintasan normalnya di langit.
Akhir fase retrograde menandai kembalinya Saturnus ke arah gerak normalnya dari barat ke timur. Momen ini juga biasanya diiringi dengan peningkatan kejelasan cincin Saturnus bagi pengamat yang menggunakan teleskop, menjadikannya objek menarik untuk difoto.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply