
JAKARTA, KalderaNews.com – Kementerian Agama (Kemenag) siap menggelar kegiatan penting di bidang pendidikan agama, yakni Asesmen Nasional Literasi Dasar Beragama (ANLDB).
Asesmen yang ditujukan bagi siswa kelas 5 SD ini akan dilaksanakan serentak pada 18–21 November 2025.
ANLDB adalah alat pengukuran literasi beragama yang dirancang Kemenag untuk menghasilkan data berbasis kajian ilmiah yang akuntabel, tidak hanya bagi Kemenag, tetapi juga kementerian dan lembaga lain seperti Bappenas dan DPR.
BACA JUGA:
- Jadwal Asesmen Nasional 2025 untuk SD- SMA, Catat Baik-Baik!
- Begini Hasil Asesmen Kompetensi Siswa MI, Tertinggi Yogyakarta
- Kalender Pendidikan Madrasah 2025-2026 untuk RA, MI, MTs, MA dan MAK, Catat!
Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenag, M Munir, menjelaskan bahwa untuk tahun pertama pelaksanaannya, ANLDB akan melibatkan sampel sebanyak 13.600 siswa kelas 5 SD dari total populasi 25.347 siswa
Sifat ANLDB adalah sampling, mirip dengan Asesmen Nasional (AN) milik Kemendikdasmen.
“Kolaborasi dengan BRIN dan Pustrajak Penda BMBPSDM ini penting agar asesmen kita tidak hanya kuat secara administratif, tapi juga sahih secara akademik,” kata Munir menanggapi pentingnya validitas data.
Dalam pelaksanaan ANLDB ini, Kemenag menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Pustrajak Penda BMBPSDM) sebagai mitra.
Komponen Utama dan Saran Penguatan dari BRIN
Salah satu komponen penilaian dasar dalam ANLDB adalah kemampuan membaca Al-Qur’an. Peneliti Utama BRIN, Murtadlo, mengungkapkan bahwa saat ini porsi penilaian membaca Al-Qur’an ditetapkan Kemenag sebesar 10 persen.
Namun, BRIN menyarankan agar porsi ini ditingkatkan menjadi 20 persen agar dampak capaian literasi keagamaan dasar bisa lebih terasa.
Selain komponen penilaian, BRIN juga memberikan saran penting terkait metodologi dan teknis pelaksanaan di lapangan:
- Batas Waktu Pengisian Serentak: Pentingnya penentuan batas waktu pengisian yang jelas untuk menyiapkan langkah mitigasi di seluruh pihak.
- Pengawasan Lapangan yang Kuat: Murtadlo menyarankan adanya petugas khusus di tingkat provinsi yang turun langsung ke lapangan.
“Satu orang peneliti bisa mengawal sekitar 20 sekolah, agar pengawasan tetap efektif,” sarannya menekankan perlunya keseriusan program.
ANLDB siswa ini digelar tepat satu minggu setelah Kemenag sukses mengadakan program pengukuran literasi beragama serupa untuk guru di pekan sebelumnya, dengan tingkat partisipasi mencapai 97,14 persen.
Melalui ANLDB, Kemenag berharap dapat menghadirkan kebijakan pendidikan agama yang berbasis data dan akuntabel, sekaligus mendorong peningkatan mutu pembelajaran keagamaan di sekolah.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply