Ini Alasan Lo Kheng Hong Ogah Beli Emas dan Kripto

Lo Kheng Hong
Lo Kheng Hong (EduFulus/Ist)
Sharing for Empowerment

The Path To Financial Freedom, EduFulus – Investor legendaris Indonesia, Lo Kheng Hong, kembali menegaskan prinsip investasinya yang konservatif namun berorientasi nilai.

Pria yang dijuluki Warren Buffett Indonesia ini mengaku sama sekali tidak tertarik berinvestasi pada komoditas seperti emas maupun aset digital seperti kripto, meskipun harga emas sedang melonjak tinggi tahun ini.

Alasan utamanya sangat sederhana: aset tersebut dianggap tidak produktif.

SIMAK JUGA: Kunto Aji dan Yudo Sadewa Dikabarkan Kompak Rungkad Akibat Anjloknya Harga Kripto

Dalam sebuah acara yang dikutip dari kanal YouTube GBI Bethel, Minggu (23/11/2025), Pak Lo menjelaskan pandangannya terhadap emas dan kripto.

“Saya juga tidak beli emas, meskipun emas naik terus karena emas juga tidak produktif ya,” katanya.

“Kita mengharapkan orang lain yang beli (emas di harga yang) lebih tinggi. Jadi saya juga tidak investasi di kripto dan emas.”

Masalah Penyimpanan dan Nilai Produktif

Lo Kheng Hong, yang asetnya kini ditaksir mencapai triliunan rupiah, juga menyoroti masalah kepraktisan dalam menyimpan emas.

“Kalau saya beli emas, banyak sekali, bingung juga simpannya di mana gitu ya,” ujar pria berusia 66 tahun ini, menekankan betapa sulitnya menyimpan komoditas fisik dalam jumlah masif.

Ia membandingkan aset seperti emas dengan investasi saham, di mana perusahaan yang sehat dapat menghasilkan laba dan membagikan dividen—sebuah nilai produktif yang tidak dimiliki emas atau kripto.

Fokus pada Saham Blue Chip Diskon

Konsisten dengan prinsipnya, Lo Kheng Hong saat ini hanya fokus berinvestasi pada saham. Ia bahkan tidak tertarik mengoleksi saham emiten tambang emas, meskipun harga komoditasnya sedang bagus.

“Saya juga enggak punya emiten emas ya karena valuasinya enggak ada yang murah,” jelasnya.

Pak Lo mengaku lebih memilih mencari saham-saham blue chip yang saat ini sedang “dibuang” oleh investor asing.

Menurutnya, saham dengan valuasi rendah tersebut sangat menarik karena tidak hanya menawarkan potensi keuntungan modal (capital gain) yang besar, tetapi juga dividen dengan imbal hasil (yield) yang fantastis, bahkan mencapai sekitar 10 persen.

Prinsip ini membuktikan bahwa bagi Lo Kheng Hong, nilai produktif dan valuasi murah jauh lebih berharga daripada kenaikan harga komoditas sementara.

SIMAK JUGA: WNI Pembobol Situs Jual Beli Kripto Asal Inggris Senilai Rp6,67 Miliar Ditangkap di Bandung

* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika ada yang tertarik menjalin kerjasama di kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*