Miris! Siswa SMPN di Perbatasan Harus Belajar Tanpa Gedung Sekolah

Siswa SMP di perbatasan Kalimantan Utara tidak memiliki gedung sekolah resmi (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

NUNUKAN, KalderaNews.com- Potret ironi terjadi di dunia pendidikan. Sebuah sekolah menengah pertama negeri perbatasan Kalimantan tidak memiliki gedung sekolah.

SMP Negeri 1 Lumbis Pansiangan hingga kini belum memiliki bangunan sekolah permanen. Sebanyak 36 siswanya bahkan pernah belajar dengan memanfaatkan Balai Adat Desa Ngawol sebagai ruang kelas sementara.

Kegiatan belajar mengajar (KBM) awalnya berlangsung di balai adat yang terletak di Kecamatan Lumbis Pansiangan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.

Ruangan yang semula ditujukan sebagai tempat diskusi warga itu terpaksa disulap sebisanya agar dapat digunakan sebagai kelas.

BACA JUGA:

Siswa Sekolah di Bangunan yang Bukan Sekolah Resmi

Kenyataan pahit ini masih menjadi bagian dari kehidupan siswa-siswa di wilayah perbatasan Kaltara. Tak ada bangunan kokoh, tak ada identitas sekolah yang terpampang jelas. Yang tersisa hanya semangat para guru dan siswa yang terus bertahan.

Sudah dua tahun Iyon mengabdikan diri sebagai guru IPA di SMPN 1 Lumbis Pansiangan. Setelah sebelumnya mereka menempati Balai Desa, kini seluruh aktivitas belajar berpindah ke gedung Kecamatan Lumbis Pansiangan, meski tetap bukan bangunan sekolah resmi.

“Kalau di Balai Desa ada acara pernikahan adat atau acara 100 hari orang meninggal, sekolah otomatis libur. Kami harus mengalah,” ujar Iyon.

Setiap kali balai digunakan untuk kepentingan adat, proses belajar pun terhenti. Walau mereka kini tidak lagi belajar di balai adat, kondisi baru yang mereka tempati tidak jauh lebih baik.

Para siswa kini memanfaatkan sebagian ruang dari gedung SD terdekat. Keterbatasan ruang membuat mereka harus belajar berdempetan. Dari seluruh bangunan SD, hanya dua ruangan kecil yang bisa digunakan, itu pun harus disekat seadanya.

Kelas 7 berada pada satu sisi, sementara Kelas 8 berada di sisi lainnya. Suara guru dari balik sekat triplek sering kali saling bersahutan, membuat siswa kesulitan berkonsentrasi.

Bangunan yang jauh dari kata layak hanyalah salah satu hambatan. Di dalam kelas sempit itu, para siswa juga menghadapi tantangan literasi dasar.

Sebagian besar siswa kurang fasih berbahasa Indonesia karena keseharian mereka menggunakan bahasa daerah, sehingga pemahaman materi dalam buku pelajaran menjadi jauh lebih sulit.

Iyon pun mengaku harus mengulang proses belajar secara ganda. Ia perlu menerjemahkan dulu bahasa pada materi, lalu menjelaskan konsepnya kepada siswa.

Orang Tua Memiliki Kesadaran Pendidikan yang Minim pada Anak-anaknya

Masalah lainnya datang dari rendahnya kesadaran pendidikan orang tua. Banyak kursi sering tak terisi karena anak-anak diajak masuk hutan atau ladang.

“Anak sering diajak ke ladang atau acara adat berhari-hari, membuat mereka tertinggal pelajaran,” tutur Iyon.

Bagi sebagian keluarga, tenaga anak dianggap lebih bermanfaat untuk kegiatan sehari-hari dibandingkan sekolah.

Kondisi geografis yang terisolasi juga menjadi rintangan besar dalam menjalankan KBM. Desa Ngawol bukan wilayah yang mudah dijangkau.

Untuk memenuhi kebutuhan dasar sekolah atau logistik guru, mereka harus menempuh perjalanan sungai menuju Mansalong.

Tak ada jalan beraspal. Satu-satunya pilihan adalah naik perahu selama empat jam, itu pun sangat mengandalkan kondisi alam.

“Jika air pasang, arus terlalu deras dan berbahaya. Jika air surut, perahu kandas tidak bisa lewat. Kami harus menunggu air sedang,” kata Iyon.

Situasi ekstrem tersebut membuat distribusi buku, alat tulis, bahkan kehadiran guru sering terlambat. Pada akhirnya, siswa kembali menjadi pihak yang paling dirugikan.

Sekolah Kekurangan Guru

Kekurangan guru juga menjadi masalah lama yang tak kunjung selesai. Dengan kondisi medan seberat itu, hanya sedikit guru yang mampu bertahan, sehingga kelas kerap dibiarkan kosong tanpa pendamping.

Ketiadaan tenaga pendidik ini kemudian diisi oleh anggota Satgas Pamtas dari pos Labang. Mereka masuk kelas bukan sebagai prajurit perang, melainkan untuk mengajar baris-berbaris atau materi pelajaran dasar lainnya. Kehadiran tentara di ruang kelas menggambarkan betapa kritisnya kekurangan SDM pendidikan di daerah ini.

Di tengah segala keterbatasan fasilitas, listrik yang hanya mengandalkan genset, dan akses internet yang memanfaatkan Starlink milik SD di dekatnya, para siswa tetap setia datang ke sekolah. Meski berseragam lusuh dan tanpa alas kaki layak, mereka tetap berusaha menggapai masa depan.

Iyon dan para guru lainnya hanya menyimpan satu harapan yang sangat sederhana, namun seharusnya sudah menjadi hak setiap anak Indonesia: sebuah gedung sekolah.

“Kami memohon agar lebih diperhatikan. Kami butuh gedung sekolah yang layak. Berikanlah kami fasilitas agar anak-anak perbatasan ini punya masa depan,” ucap Iyon penuh harap.

Selama gedung impian itu belum juga terbangun, siswa-siswi SMPN 1 Lumbis Pansiangan akan terus bersekolah sebagai ‘pengungsi’ pendidikan di tanah kelahiran mereka sendiri.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*