JAKARTA, KalderaNews.com – November kelabu! Peristiwa bullying di sekolah masih mewarnai bulan November 2025. Korban ada yang patah tulang, bahkan harus kehilangan nyawa!
Serangkaian kasus perundungan (bullying) siswa di Indonesia kembali memantik keprihatinan publik.
Dalam kurun waktu November 2025, tiga insiden kekerasan terhadap anak sekolah di Karawang, Pekanbaru, dan Blora mencuat ke permukaan.
BACA JUGA:
- Kamu Setuju Gak? Riwayat Bullying Akan Jadi Syarat Masuk Kampus
- Stop Bullying! Mendikdasmen Segera Keluarkan Aturan Baru, Sekolah Wajib Jadi Zona Aman Anak
- Darurat Perundungan! Apakah Indonesia Butuh UU Anti-Bullying?
Kasus-kasus ini meninggalkan luka fisik, trauma mendalam, bahkan merenggut nyawa korban.
Dalam dua kasus perundungan di Karawang dan Blora, pihak berwenang memutuskan memindahkan sekolah para pelaku, sebuah langkah yang disebut sebagai pembinaan.
Namun, respons ini menjadi ironi ketika disandingkan dengan insiden fatal di Pekanbaru.
Nah, inilah 3 kasus bullying di sekolah yang menyita perhatian publik sepanjang November 2025:
Karawang, siswi SD patah tulang, pelaku dipindah
Di Karawang, Jawa Barat, seorang siswi kelas 6 SD di Kecamatan Tirtajaya mengalami patah tulang pada tangan kanan setelah menjadi sasaran perundungan oleh teman sekelasnya.
Korban dilaporkan dijambak jilbabnya hingga ditabrak menggunakan sepeda listrik oleh pelaku.
Meskipun keluarga korban telah menempuh jalur hukum, Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Karawang memutuskan untuk memutasi pelaku ke sekolah lain.
Kepala Disdikpora Karawang, Wawan Setiawan, menjelaskan bahwa keputusan ini adalah hasil musyawarah bersama dan bukan merupakan sanksi, melainkan upaya memberikan kesempatan kepada siswa pelaku untuk memperbaiki diri.
Blora, perundungan di kamar mandi sekolah
Kasus serupa terjadi di Blora, Jawa Tengah, yang melibatkan siswa SMP. Kasus ini menjadi perhatian nasional setelah video perundungan berdurasi 25 detik beredar luas di media sosial.
Korban, seorang siswa kelas 8, dianiaya dan diejek oleh beberapa temannya yang sebagian besar merupakan siswa kelas 7, di dalam kamar mandi sekolah.
Korban mengalami trauma berat dan terdapat dugaan luka benjolan.
Meskipun ada pelaku utama, total 33 siswa dipanggil Polsek Blora bersama orangtua masing-masing untuk dimintai keterangan dan diberikan pembinaan.
Pemerintah Kabupaten Blora mengambil langkah tegas dengan memutasi empat pelajar yang diduga berperan sebagai provokator dan pelaku utama ke sekolah lain.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan Blora, Sunaryo, menegaskan mutasi ini bukan hukuman, melainkan langkah pembinaan dan pemulihan, agar korban tidak semakin trauma dan para siswa bisa memulai babak baru di lingkungan yang berbeda.
Pekanbaru, bullying berujung kematian
Berbanding terbalik dengan Karawang dan Blora yang masih berfokus pada pembinaan, penanganan hukum, dan pemindahan pelaku, kasus di Pekanbaru menimbulkan korban jiwa.
Seorang siswa SD berinisial MAR dilaporkan meninggal dunia setelah dipukul di bagian dada oleh rekannya.
Tragedi ini menjadi pengingat paling menyakitkan bagi dunia pendidikan bahwa perundungan dapat berujung pada konsekuensi yang tidak terbayangkan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply