TAPANULI TENGAH, KalderaNews.com – Video yang merekam aksi penjarahan minimarket di Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, menjadi viral di media sosial.
Aksi nekat ini terjadi setelah wilayah tersebut dilanda bencana banjir besar, yang menyebabkan akses logistik terputus dan warga kesulitan mendapatkan kebutuhan dasar.
Dalam video yang beredar luas, terlihat sejumlah warga, yang diduga merupakan korban banjir, masuk dan mengambil barang-barang dari minimarket yang terdampak banjir.
BACA JUGA:
- IG Zulkifli Hasan Digeruduk Netizen dan Komentar Dibatasi, Usai Video Lawas Dicecar Harrison Ford Viral, Warganet: Penjahat Alam!
- Banjir di Aceh Kepung Sekolah IT Pante Gelima, Ratusan Guru dan Siswa Terjebak Selama 2 Hari
- Lumpuh Total dan Jadi Benteng Evakuasi Korban Banjir, Sekolah di Padang dan Pariaman Libur Total, Lainnya Menyusul
Aksi penjarahan ini memicu perdebatan sengit di kalangan netizen; di satu sisi mengecam tindakan kriminal tersebut, di sisi lain memahami kondisi keterdesakan korban.
Warga yang terlibat penjarahan dilaporkan mengaku tidak punya makanan dan kesulitan mendapatkan bantuan logistik setelah rumah mereka terendam air dan akses jalan utama tertutup.
Warga yang menjumpai minimarket kosong langsung masuk dan mengambil barang yang mereka anggap bisa dimakan.
Respons Cepat Kepolisian
Merespons video viral tersebut dan situasi keamanan yang berpotensi memburuk, pihak kepolisian setempat langsung turun tangan.
Kapolres Tapanuli Tengah, AKBP Guntur Agung, membenarkan kejadian tersebut dan menegaskan bahwa tindakan penjarahan, meskipun dipicu oleh bencana, tetap merupakan pelanggaran hukum.
- Langkah Hukum: Polisi mulai melakukan investigasi untuk mengidentifikasi dan memproses pelaku penjarahan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
- Prioritas Bantuan: Selain penegakan hukum, kepolisian juga berkoordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan tim relawan untuk mempercepat penyaluran bantuan makanan dan kebutuhan pokok ke daerah-daerah yang terisolasi. Hal ini dilakukan untuk mencegah terulangnya aksi penjarahan yang dipicu oleh kelaparan dan keterdesakan.
Kasus penjarahan ini mencerminkan betapa parahnya dampak banjir besar yang melanda Tapanuli Tengah, di mana kerugian materiil dan terputusnya rantai pasokan telah menyebabkan krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Penjarahan Bulog di Sibolga
Situasi darurat pangan yang dialami korban bencana banjir di Sumatera Utara juga memicu insiden penjarahan. Setelah viral penjarahan minimarket di Tapanuli Tengah, kini giliran Gudang Bulog di Sibolga yang diserbu warga korban bencana yang putus asa dan kelaparan.
Dalam insiden yang terjadi pada Sabtu (29/11/2025), dilaporkan ribuan kilogram beras yang tersimpan di gudang Bulog mendadak hilang diambil oleh massa yang didorong oleh kebutuhan mendesak.
Aksi penjarahan ini terjadi karena akses masyarakat untuk mendapatkan bantuan makanan dan logistik menjadi sangat sulit akibat infrastruktur yang lumpuh pasca-banjir besar.
Warga yang datang ke Gudang Bulog mengaku terpaksa mengambil beras karena mereka sudah tidak punya persediaan makanan di rumah, sementara proses penyaluran bantuan dirasa lambat menjangkau mereka.
Bencana banjir telah merendam rumah dan merusak harta benda, meninggalkan banyak keluarga tanpa makanan sama sekali.
Respons Bulog: Memahami, Namun Menyesalkan
Pihak Perum Bulog Cabang Sibolga membenarkan insiden penjarahan gudang mereka. Meskipun menyayangkan tindakan tersebut, Bulog menunjukkan pemahaman atas kondisi darurat yang dialami oleh korban bencana.
Kepala Perum Bulog Cabang Sibolga, Adi Saputra, menyatakan bahwa beras yang dijarah warga merupakan stok yang sebenarnya sudah disiapkan untuk penyaluran bantuan program pemerintah, termasuk operasi pasar.
“Memang benar, gudang kami dijarah oleh warga korban bencana. Kami memahami bahwa mereka sedang dalam kondisi terdesak dan kelaparan,” kata Adi Saputra kepada detikcom, Minggu (30/11/2025).
Adi Saputra menambahkan bahwa Bulog telah berkoordinasi dengan aparat keamanan dan pemerintah daerah untuk mempercepat penyaluran bantuan resmi, sekaligus mengantisipasi terulangnya insiden serupa.
Insiden penjarahan di Gudang Bulog ini menjadi indikasi serius adanya darurat pangan di wilayah Sibolga dan sekitarnya pasca-bencana. Kejadian ini bersamaan dengan penjarahan minimarket di Tapanuli Tengah, menunjukkan bahwa keterlambatan dan ketidakmerataan distribusi logistik di lokasi bencana dapat memicu tindakan kriminal yang didasari oleh kebutuhan primer untuk bertahan hidup.
Pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) didesak untuk segera memastikan ketersediaan dan kecepatan penyaluran bantuan pangan agar tragedi ini tidak meluas.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply