Geger Deportasi An Shaohong Buronan China, Petinggi Emiten LABA, KRYA dan OLIV Ramai-Ramai Bilang Begini

An Shaohong atau Antony sapaan akrabnya merupakan warga kenegaraan asal China. Dia lahir di pantai tenggara China yakni Zhejiang pada 9 Juni 1970.
An Shaohong atau Antony sapaan akrabnya merupakan warga kenegaraan asal China. Dia lahir di pantai tenggara China yakni Zhejiang pada 9 Juni 1970.
Sharing for Empowerment

The Path To Financial Freedom, EduFulus  – Dunia pasar modal Indonesia digegerkan oleh kabar deportasi An Shaohong ke China setelah tercatat sebagai DPO, seorang pejabat tinggi yang menduduki posisi penting di tiga perusahaan terbuka atau emiten.

Shaohong yang disebut telah melanggar izin tinggal dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) China tercatat menjabat sebagai Presiden Direktur PT Green Power Group Tbk. (LABA), serta Komisaris Utama di PT Bangun Karya Perkasa Tbk. (KRYA) dan PT Oscar Mitra Sukses Indonesia Tbk. (OLIV).

Sebelum “didepak” dari Tanah Air, Shaohong dikenal agresif di pasar modal dengan mengakuisisi sejumlah emiten.

SIMAK JUGA: Apa Itu Robinhood, Revolusi Investasi Ritel Bebas Komisi, Begini Model Bisnis di Balik Komisi Nol

Namanya baru saja muncul dalam susunan pengurus OLIV (Oscar Living) pada 25 November lalu, menyusul akuisisi KRYA bersama Rich Step International Ltd. pada Juli sebelumnya.

An Shaohong, yang tercatat berstatus Warga Negara Indonesia (WNI) dan berusia 54 tahun, meraih gelar Sarjana dari Universitas Zhejiang, Tiongkok. Ia diangkat sebagai Direktur LABA sejak Juni 2024.

Sebelum berkiprah di Indonesia, Shaohong pernah menjabat sebagai General Manager di Zhejiang Huitong Construction Co. Ltd., Presiden Komisaris di Hefei Huitong Company, dan Presiden Direktur di Zhejiang Ruixun Technology Development Co., Ltd.

Meski demikian, rincian mengenai alasan spesifik deportasi An Shaohong hingga kini belum diungkapkan secara resmi oleh pihak yang berwenang

LABA: Ganti Dirut, Bisnis Tak Terdampak

Menanggapi pemberitaan ini, LABA bergerak cepat merilis keterbukaan informasi pada 8 Desember 2025. PT Green Power Group Tbk. (LABA) menegaskan bahwa deportasi Direktur Utama, An Shaohong, sama sekali tidak berdampak terhadap aktivitas bisnis perusahaan.

“Seluruh kegiatan usaha dan kewajiban kepada pelanggan serta pemegang saham tetap berjalan normal,” tulis Corporate Secretary LABA, Lu Haiying.

Manajemen LABA memastikan bahwa proses penggantian Direktur Utama telah dimulai, dengan pengajuan agenda RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) pada 4 Desember 2025 melalui sistem IDXNET untuk membahas perubahan pengurus. Perusahaan berkomitmen menjaga transparansi dan integritas.

KRYA Ngaku Pilih Tak Terlibat Urusan Hukum Shaohong

Di hari yang sama, PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk. (KRYA) juga merilis pernyataan serupa terkait deportasi Komisaris Utama mereka.

Direktur KRYA, Brigitta Notoatmodjo, menegaskan bahwa perusahaan tidak mengetahui dan tidak terlibat dalam perkara hukum yang tengah dihadapi An Shaohong, baik di Indonesia maupun di China.

“Peristiwa tersebut tidak memberikan dampak negatif terhadap operasional maupun agenda bisnis perusahaan,” tegasnya.

Direktur Utama KRYA, William Teng, menjamin bahwa seluruh operasional tetap stabil dan berada dalam kendali penuh tim manajemen. KRYA juga tengah memproses penggantian Komisaris Utama sesuai peraturan yang berlaku.

OLIV Tunjuk Komisaris Utama Baru

PT Oscar Mitra Sukses Sejahtera Tbk (OLIV) atau Oscar Living telah mengonfirmasi kebenaran tindakan keimigrasian yang dilakukan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Non-TPI Jakarta Selatan terhadap Komisaris Utama mereka, An Shaohong, seorang warga negara Tiongkok.

Direktur Utama OLIV, Wang Xiaoxuan, memastikan bahwa perseroan telah mengambil langkah internal, termasuk menunjuk Komisaris Utama baru, dengan proses administrasi dan dokumentasi yang sedang diselesaikan.

Selain itu, OLIV akan menyesuaikan struktur manajemen dan operasional serta melaksanakan internal compliance review.

Manajemen meyakini kasus ini tidak memengaruhi operasional maupun kelangsungan usaha OLIV karena didukung oleh manajemen lokal yang kompeten dan struktur operasional yang solid.

Meskipun demikian, kabar deportasi ini sempat memicu reaksi di pasar modal, ditandai dengan merosotnya harga saham OLIV sebesar 9,89% menjadi Rp82 pada Selasa (9/12/2025).

SIMAK JUGA: BEI dan OJK Turun Tangan Periksa Skandal Dana Nasabah Mirae Asset Rp 71 Miliar yang Raib

* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika ada yang tertarik menjalin kerjasama dengan di konten EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


1,735 views