
PRINGSEWU, KalderaNews.com- Kisah pilu dialami seorang ibu di Kabupaten Pringsewu, Lampung. Tagar #justiceforzhee pun viral.
Ceritanya menjadi perbincangan luas di media sosial setelah putri satu-satunya meninggal dunia 28 jam setelah mengalami kecelakaan saat mengikuti kegiatan Pramuka.
Korban diketahui bernama Aisyah Aqila Fazila Yusyah, atau akrab disapa Zhee (12), siswi kelas VI salah satu sekolah dasar di Pringsewu.
Zhee mengembuskan napas terakhir pada 23 November 2025, sehari setelah mengalami insiden ketika mengikuti kegiatan Pramuka di luar kelas.
BACA JUGA:
- Tagar Boikot Trans7 Hebohkan Dunia Maya, Tayangan Xpose Dianggap Hina Pondok Pesantren
- Warganet Ajak Aksi Online Tuntut Anggota DPR, Tagar #WakilRakyatkan
- Demo DPR Berakhir Ricuh, Sejumlah Pelajar Diamankan, KPAI Turun Tangan
Kronologi Zhee Meninggal Usai Pramuka
Ibu korban, Nia, menjelaskan bahwa pada 22 November 2025, Zhee mengikuti kegiatan mencari tanaman herbal yang dilaksanakan saat jam pelajaran kosong.
Aktivitas tersebut dibimbing oleh guru pembina Pramuka. Para siswa dibagi dalam kelompok berisi delapan hingga sembilan orang dan diarahkan berjalan sekitar satu kilometer dari sekolah menuju area perbukitan.
Menurut Nia, sejak awal dirinya telah meminta pihak sekolah agar Zhee tidak dilibatkan dalam aktivitas fisik berat, termasuk kegiatan Pramuka. Permintaan tersebut dilatarbelakangi riwayat kesehatan anaknya yang pernah mengalami radang otak saat masih kecil.
“Saya ada alasan tersendiri kenapa anak saya tidak boleh ikut Pramuka,” ujar Nia, Jumat (12/12/2025).
“Zhee juga anak yang jarang keluar rumah, apalagi ke alam,” katanya.
Peristiwa nahas terjadi saat Zhee bersama seorang temannya berada di puncak bukit. Keduanya diduga tergelincir dan jatuh dari tebing.
Zhee terjatuh hingga membentur pondasi batu bata di bagian bawah. Warga sekitar sempat memberikan pertolongan awal. Nia menyebutkan bahwa saat itu putrinya masih mampu berdiri meski mengalami benturan cukup keras.
“Zhee masih bisa berdiri. Rok Pramukanya kotor sampai dicuci warga. Ikat pinggangnya penyok sampai harus dibuka pakai obeng,” tuturnya.
Usai kejadian, teman-teman korban berusaha mencari guru pendamping. Namun, berdasarkan keterangan para siswa, guru pembina tidak berada di lokasi saat insiden berlangsung.
Zhee kemudian dibawa ke sebuah klinik terdekat. Saat itu, Nia tengah berada di Surabaya dan baru mengetahui kondisi putrinya setelah berkomunikasi dengan keluarga yang mendampingi Zhee di klinik.
Sekolah Dinilai Tidak Transparan
Informasi awal yang diterima Nia menyebutkan bahwa anaknya hanya mengalami masuk angin dan kelelahan karena tidak sempat sarapan.
Penjelasan tersebut justru menimbulkan kecurigaan. Nia pun berinisiatif menggali informasi langsung dari teman-teman satu kelompok Zhee.
“Saya di Surabaya, tapi yang ngebongkar semuanya justru saya. Karena saya dekat sama teman-temannya anak saya itu yang satu tim. Saya cari nomor HP-nya, saya cari informasi, apa sih kejadian yang sebenarnya? Ternyata jatuh dari tebing,” katanya.
Nia mengaku sempat mengalami kesulitan meyakinkan keluarga di rumah terkait kondisi sebenarnya yang dialami putrinya.
“Karena guru itu kalau di mata masyarakat kecil ini guru maha benar. Sedangkan guru itu yang nganterin anak saya ke klinik. Dia bilang ke mamiku, ‘Zhee cuma kepleset biasa, karena nggak sarapan, masuk angin.’ Enteng banget kan? Kebohongan mereka itu luar biasa,” ujarnya.
Menjelang sore, Nia akhirnya berhasil menghimpun keterangan dari beberapa teman korban dan memastikan bahwa Zhee mengalami jatuh dari ketinggian, bukan sekadar terpeleset ringan. Namun, saat menghubungi kepala sekolah dan wali kelas, keterangan yang disampaikan kepadanya tetap sama.
“Mereka bilang Zhee baik-baik saja, hanya luka di kaki dan lutut,” kata Nia.
Pada keesokan harinya, Nia mendatangi klinik tempat Zhee pertama kali mendapatkan perawatan. Dari rekam medis yang diperlihatkan, dokter mencatat adanya keluhan nyeri ulu hati serta dugaan pendarahan otak dan merekomendasikan agar korban segera dirujuk untuk menjalani CT scan.
Nia mengungkapkan bahwa informasi medis tersebut tidak pernah disampaikan kepadanya oleh pihak sekolah. Ia juga mengaku mendapat cerita dari teman-teman Zhee bahwa mereka sempat diminta untuk tidak menceritakan secara rinci peristiwa jatuhnya korban.
Meski pihak sekolah disebut menyatakan kesediaan membantu biaya pengobatan, Nia menilai sejak awal tidak ada keterbukaan informasi.
“Apa yang dokter sampaikan tidak sama dengan yang disampaikan ke saya,” ujarnya.
Picu Gelombang Simpati di Media Sosial
Peristiwa ini memicu gelombang simpati dan tuntutan keadilan di media sosial dengan tagar #JusticeForZhee.
Masyarakat menilai kematian siswi kecil itu bukan hanya tragedi, tetapi juga ujian kejujuran dan tanggung jawab lembaga pendidikan.
Dalam unggahan media sosial yang kemudian viral, Nia menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan Zhee mengalami trauma pada sejumlah organ dalam, seperti ginjal, kandung kemih, jantung, serta pendarahan otak. Zhee dinyatakan meninggal dunia 28 jam setelah kejadian.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply