
JAKARTA, KalderaNews.com – Peneliti BRIN peringatkan ancaman fenomena sinkhole di beberapa wilayah Indonesia. Apa itu sinkhole dan wilayah mana saja yang perlu waspada?
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari memaparkan fenomena sinkhole atau lubang runtuhan tanah yang kerap terjadi di kawasan yang tersusun oleh lapisan batugamping.
Maka, warga di sekitar lapisan batugamping wajib meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya geologi ini yang kerap muncul tanpa tanda-tanda jelas.
BACA JUGA:
- Apa Itu Sinkhole yang Menelan Turis di Malaysia? Kenali Fenomena Alam yang Sedang Heboh Ini
- Waduh! BMKG Prediksi Jabodetabek Bakal Diguyur Hujan Lebat Disertai Petir dan Angin Kencang Sampai 23 Januari 2026
- Jakarta Sekitar Dikepung Banjir! Begini Cara Cepat Pantau Titik Genangan Lewat HP!
Begini terjadinya sinkhole
Adrin menerangkan bahwa sinkhole merupakan fenomena alam yang terjadi akibat runtuhnya lapisan batugamping di bawah permukaan tanah.
Prosesnya berlangsung dalam waktu lama dan dipicu air hujan yang bersifat asam karena menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara dan permukaan tanah.
“Air hujan ini meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, terutama batugamping, sehingga membentuk rekahan dan rongga di bawah permukaan,” paparnya.
Seiring waktu, air permukaan dan air tanah yang mengalir melalui rekahan tersebut menyebabkan rongga makin membesar dan melemahkan lapisan penyangga di atasnya.
Saat hujan lebat terjadi, lapisan penutup rongga menjadi semakin tipis hingga pada suatu titik tidak lagi mampu menahan beban di atasnya.
“Saat itulah lapisan atap runtuh secara tiba-tiba dan terbentuk lubang di permukaan tanah yang kita kenal sebagai sinkhole,” kata Adrin.
Peta wilayah fenomena sinkhole
Menuru Adrin, fenomena sinkhole relatif sering terjadi di Indonesia, terutama di wilayah yang memiliki bentang alam karst atau kawasan batugamping.
Beberapa daerah yang rawan antara lain Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros, yang secara geologi memiliki lapisan batugamping cukup tebal di bawah permukaan tanah.
Nah, salah satu tantangan terbesar dalam mitigasi sinkhole adalah sulitnya mendeteksi tanda-tanda awal kemunculannya.
Proses pembentukan rongga berlangsung perlahan serta terjadi di bawah permukaan tanah, sehingga tidak mudah dikenali secara visual.
Namun demikian, keberadaan rongga batugamping sebenarnya dapat diidentifikasi melalui survei geofisika.
“Metode seperti gayaberat, georadar, dan geolistrik dapat digunakan untuk memetakan sebaran, kedalaman, dan ukuran rongga di bawah tanah. Metode ini memberikan gambaran citra kondisi bawah permukaan sehingga potensi sinkhole bisa diantisipasi lebih dini,” jelas Adrin.
Adrin juga mengingatkan bahwa kawasan permukiman yang berada di atas lapisan batugamping memiliki risiko lebih tinggi mengalami sinkhole.
Salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba.
“Jika aliran air mendadak menghilang, bisa jadi air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu segera diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan,” katanya.
Kualitas air dalam sinkhole
Terkait kualitas air yang ditemukan di dalam sinkhole, Adrin menjelaskan bahwa air tersebut umumnya berasal dari air hujan dan air bawah permukaan.
Maka, kelayakan air untuk dikonsumsi tidak bisa langsung disimpulkan.
“Air harus melalui analisis kimia terlebih dahulu, meliputi kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat, sesuai standar kesehatan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply