
The Path To Financial Freedom, EduFulus – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengejutkan pelaku pasar pada perdagangan Senin (12/1/2026).
Sempat bergerak stabil, indeks secara mendadak “ambruk” lebih dari 2% hingga menyentuh level 8.742,51 pada pukul 14.33 WIB.
Meski demikian, menjelang penutupan, IHSG berhasil memangkas koreksinya hingga di bawah 1%.
SIMAK JUGA: Panic Selling Saat Market Sedang Tidak Baik-baik Saja
Anjloknya indeks secara tiba-tiba ini memicu pertanyaan besar di kalangan investor. Sejumlah analis pun buka suara dan menunjuk kombinasi antara tensi geopolitik global yang memanas serta isu hukum yang menerpa pemegang kebijakan moneter tertinggi di Amerika Serikat.
Tensi Geopolitik dan Investigasi Jerome Powell
Maximilianus Nicodemus, Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, mengungkapkan bahwa sentimen negatif datang dari meluasnya ketegangan di Iran yang berpotensi menyeret keterlibatan Amerika Serikat.
Selain itu, pasar dikejutkan oleh kabar investigasi kriminal federal terhadap Gubernur The Fed, Jerome Powell, terkait proyek renovasi senilai US$ 2,5 miliar. Kondisi ini dikhawatirkan akan mengganggu independensi The Fed di masa depan.
“Harga emas dan perak naik ke rekor tertinggi akibat dua hal tersebut,” ujar Maximilianus. Fenomena ini menunjukkan adanya perpindahan dana ke aset safe haven (pelindung nilai) saat pasar saham mengalami guncangan.
Aksi Ambil Untung di Sektor Energi
Senada dengan Maximilianus, Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas dan Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas melihat adanya tekanan dari sektor domestik, khususnya aksi profit taking (ambil untung).
“Kami mencermati koreksi IHSG ini dibebani oleh emiten-emiten energi yang sempat terkoreksi kurang lebih 2%. Ada kemungkinan aksi ambil untung setelah beberapa emiten energi menguat signifikan sebelumnya,” jelas Herditya.
Koreksi Wajar di Tengah Pekan Pendek
Di sisi lain, Lukman Leong, Analis Komoditas Doo Financial Futures, menilai penurunan ini sebagai koreksi teknis yang wajar.
Ia beralasan investor cenderung melakukan aksi jual terbatas mengingat pekan ini perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya berlangsung selama empat hari karena adanya libur Isra Mi’raj pada hari Jumat.
Koreksi wajar kok seperti ada panic selling hanya dalam hitungan menit gitu? Ataukah ada bandar yang panic selling?
Fokus Pasar Kedepan
Saat ini, pelaku pasar mulai mengalihkan perhatian pada rilis data inflasi AS pekan depan. Estimasi sementara menunjukkan inflasi AS berada di kisaran 2,7% secara tahunan (YoY) untuk akhir 2025.
Angka ini lebih rendah dari ekspektasi awal yang berada di atas 3%, namun pasar tetap waspada mengingat sempat terjadinya government shutdown di AS pada Oktober lalu yang mengganggu rilis data resmi.
IHSG diprediksi masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa hari ke depan seiring dengan dinamika harga komoditas global dan perkembangan isu politik di Washington.
SIMAK JUGA: Hati-hati! Jebakan Maut Bandar Saham Memiskinkan Ritel, Ini 9 Taktik Mereka Merampok Uang Ritel di Bursa!
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply