
SUKABUMI, KalderaNews.com – Viral di media sosial, sejumlah siswa harus rela menyeberangi sungai dengan perahu karet demi bisa berangkat sekolah.
Putusnya jembatan penghubung di Kampung Leuwidingding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, Kabupaten Sukabumi, membuat anak-anak sekolah dasar yang setiap hari harus menyeberangi sungai demi menuntut ilmu menjadi kesulitan.
Jembatan utama tersebut rusak parah setelah diterjang luapan sungai pada akhir Desember 2025. Struktur jembatan sepanjang sekitar 40 meter itu kini hanya menyisakan rangka, sehingga para pelajar terpaksa menggunakan perahu karet milik BPBD Kabupaten Sukabumi untuk menuju sekolah.
BACA JUGA:
- Viral Perjuangan Guru di Aceh Menyeberang Sungai dengan Tali Sling Demi Bisa Mengajar
- Potret Pilu Pendidikan, Guru dan Siswa di Halmahera Seberangi Sungai Deras Tiap Hari agar Bisa ke Sekolah
- Terjebak Bencana, Siswa SMA Matauli Nekat Menantang Derasnya Sungai Garoga
Arus sungai yang deras dengan warna air kecokelatan menjadi risiko yang harus dihadapi para siswa setiap hari. Meski berbahaya, mereka tetap berangkat ke sekolah dengan kondisi saling berdesakan di atas perahu demi bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Jembatan Menjadi Satu-satunya Akses Vital untuk Siswa Berangkat Sekolah
Kepala Desa Tanjungsari, Dilah Habillah, menyebut jembatan tersebut merupakan jalur tercepat sekaligus akses vital bagi siswa menuju sekolah dasar di wilayah tersebut.
“Ini akses utama bagi siswa SDN Kadupugur dan SDN Leuwidinding yang mayoritas tinggal di seberang sungai. Kami sangat khawatir dengan keselamatan mereka, terutama saat cuaca buruk. Setiap hari jembatan itu tidak ada, ratusan nyawa pelajar bergantung pada seutas tali perahu di atas derasnya Cimandiri,” ujar Dilah.
Kondisi ini dinilai sangat berbahaya karena debit air sungai dapat naik secara tiba-tiba ketika hujan deras mengguyur kawasan hulu. Situasi tersebut membuat jam keberangkatan sekolah kerap diliputi ketidakpastian.
Seorang orang tua murid bernama Popi (35) mengungkapkan rasa cemas yang terus menghantui setiap kali anaknya berangkat dan pulang sekolah. Ia harus memastikan keselamatan sang anak saat melintasi sungai yang arusnya tidak menentu.
“Kalau air meluap dan perahu tidak beroperasi, kami harus memutar melalui jalan alternatif yang jaraknya tiga kali lipat lebih jauh. Kasihan anak-anak, mereka sudah kelelahan di jalan bahkan sebelum mulai belajar,” ungkap Popi.
Hingga kini, keselamatan para siswa masih sepenuhnya bergantung pada bantuan petugas di lapangan. Warga setempat berharap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi segera turun tangan membangun kembali jembatan permanen, agar akses pendidikan anak-anak di wilayah pelosok Sukabumi tidak terus dibayangi risiko kecelakaan fatal.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply