
SHANGHAI, KalderaNews.com – Pendiri raksasa teknologi Alibaba, Jack Ma, kembali membawa pesan kuat dari “perasingannya” terkait kecerdasan buatan (AI),
Di hadapan para guru pedesaan, sosok yang memulai kariernya sebagai guru bahasa Inggris ini menegaskan bahwa musuh nyata pendidikan di era kecerdasan buatan (AI) bukanlah teknologi, melainkan kurikulum yang membosankan.
Dalam konferensi video terbaru yang dirilis oleh Jack Ma Foundation, Sabtu (31/1/2026), Ma menantang pakem lama pendidikan yang selama ini hanya mengandalkan hafalan dan kecepatan berhitung.
BACA JUGA:
- Apa itu Kurikulum MEME yang Bikin Siswa Sekolah Rakyat Cepat Lulus?
- Toleransi: Implementasi Akhlak dalam Kurikulum Merdeka
- Permendikdasmen No.13/2025: Koding dan AI Resmi Masuk Kurikulum
Bagi Ma, membiarkan anak-anak bersaing dengan AI dalam hal hitung-hitungan atau daya ingat adalah sia-sia. AI tidak akan pernah lelah, sementara manusia punya limitasi. Namun, manusia punya satu keunggulan yang tidak dimiliki silikon: Rasa Ingin Tahu.
“Di era AI, pertanyaannya bukan lagi apakah kita harus menggunakan AI, tapi bagaimana mengajarkan anak-anak kita untuk menggunakannya dengan benar,” ujar Ma. Ia menambahkan bahwa rasa ingin tahu adalah sumber dari “kekuatan komputasi” yang sebenarnya bagi manusia.
Kesenjangan Sesungguhnya Bukan di Gadget
Menjawab kekhawatiran para guru di pelosok China melalui Rural Teachers Initiative, Ma menepis anggapan bahwa sekolah desa akan tamat karena tertinggal teknologi.
Menurutnya, jurang pemisah di masa depan bukan soal siapa yang punya laptop tercanggih, melainkan:
- Imajinasi & Kreativitas: Kemampuan menciptakan sesuatu yang belum ada.
- Penilaian (Judgment): Kemampuan membedakan benar dan salah di tengah banjir informasi.
- Kolaborasi: Kemampuan bekerja sama yang tidak bisa ditiru algoritma.
“Sistem pendidikan kita tidak boleh punya target agar seribu siswa memberi jawaban benar yang sama. Kita harus mengajar seribu siswa agar mampu mengajukan sepuluh ribu pertanyaan berbeda yang berkualitas,” tegasnya.
Teknologi yang Melayani, Bukan Mengganti
Langkah nyata pun diambil. Jack Ma Foundation berkolaborasi dengan startup AI Qwen untuk mendonasikan perangkat canggih, termasuk kacamata AI Quark, ke sekolah-sekolah di Yibin, China.
Tujuannya bukan untuk menggantikan peran guru, melainkan sebagai alat bantu agar siswa di pelosok tidak asing dengan teknologi masa depan.
Ma menutup pesannya dengan pengingat bagi para pengembang teknologi: Tugas pakar teknologi bukanlah membuat AI yang menggantikan manusia, melainkan AI yang memahami dan melayani manusia.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply