Viral Kuliah Disebut ‘Scam’ dan Nikah Muda Dianggap Solusi, BKKBN: Ini Dampak Jangka Panjangnya

Ilustrasi Pernikahan Usia Dini
Ilustrasi Pernikahan Usia Dini (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com –Viral video seorang kreator konten bernama Azkiave yang menyebut bahwa kuliah hanyalah scam dan menikah di usia muda dianggap sebagai pilihan yang lebih baik.

Video tersebut ramai dibicarakan publik setelah Azkiave diketahui menikah pada usia 19 tahun dengan pasangan berusia 29 tahun.

Dalam salah satu video, Azkiave menanyakan pandangan sang suami mengenai langkah yang dapat diambil lulusan SMA yang tidak diterima di perguruan tinggi.

Yuka, yang juga berusia 29 tahun dan berprofesi sebagai kreator konten, menyampaikan bahwa tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi tidak serta-merta berarti kegagalan. Menurutnya, kuliah bukan satu-satunya jalan untuk meraih kesuksesan.

BACA JUGA:

Namun, pernyataan tersebut memicu perdebatan setelah Yuka menyebut pendidikan tinggi sebagai ‘scam’ atau penipuan apabila tidak sejalan dengan spesialisasi yang dijalani.

Unggahan itu pun menuai beragam respons warganet, termasuk kekhawatiran bahwa narasi tersebut dapat memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap pentingnya pendidikan serta kesiapan dalam membangun pernikahan.

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN pun turut menanggapi video tersebut.

Nikah Muda Buka Sekedar Tren di Media Sosial

Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN, Budi Setiyono, menegaskan bahwa pernikahan di usia muda tidak bisa dilihat semata-mata sebagai urusan pribadi atau sekadar tren di media sosial.

Menurutnya, praktik tersebut perlu dikaji lebih dalam dari perspektif kependudukan dan pembangunan manusia.

“Pernikahan bukan hanya peristiwa sosial, tetapi juga berkaitan erat dengan struktur penduduk, kualitas sumber daya manusia, kesehatan, pendidikan, hingga ekonomi,” kata Budi.

Ia menjelaskan bahwa pernikahan yang dilakukan terlalu dini berpotensi menimbulkan berbagai dampak jangka panjang, terutama apabila individu yang menikah belum memiliki kematangan fisik, mental, maupun sosial.

Dampak tersebut tidak hanya dirasakan oleh pasangan yang menikah, tetapi juga bisa meluas dan memengaruhi masyarakat secara umum.

“Nikah muda dapat berdampak langsung pada kualitas sumber daya manusia. Jika praktik ini meluas, dampaknya bisa terasa dalam pembangunan jangka panjang,” ujarnya.

Selama ini, istilah nikah muda di Indonesia kerap dimaknai sebagai keputusan membangun rumah tangga sebelum kesiapan biologis, psikologis, dan sosial benar-benar terpenuhi.

Dampak Pernikahan Dini

Dalam konteks pembangunan, pernikahan pada usia remaja juga sering dikaitkan dengan keterbatasan akses pendidikan, kesiapan ekonomi yang rendah, serta minimnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi.

Dari sudut pandang demografi, usia pernikahan yang terlalu dini dinilai memiliki korelasi dengan meningkatnya risiko kesehatan, munculnya persoalan sosial, serta kerentanan ekonomi. Karena itu, BKKBN mengimbau agar keputusan menikah dilakukan setelah calon pasangan memiliki kesiapan yang menyeluruh.

“Kesadaran untuk mempersiapkan pernikahan secara matang perlu menjadi perhatian bersama sebelum memutuskan untuk membangun keluarga,” beber Budi.

Kemendukbangga/BKKBN kembali menegaskan bahwa setiap pilihan hidup perlu disertai pemahaman yang menyeluruh mengenai konsekuensi jangka panjang, terutama yang berkaitan dengan kualitas hidup, ketahanan keluarga, dan pembangunan sumber daya manusia.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


928 views