1,2 Juta Kelas Menengah RI Tumbang, Jutaan Lainnya Berjinjit di Tepi Jurang

Pekerja di kota besar
Pekerja di kota besar (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

YOGYAKARTA, KalderaNews.com – Di balik deretan angka statistik yang kaku, tersimpan jutaan cerita getir tentang mimpi yang harus diparkir. Sebanyak 1,2 juta orang kelas menengah Indonesia dilaporkan “turun kasta” dalam setahun terakhir.

Ini bukan sekadar angka yang berpindah kolom, melainkan tentang orang tua yang mulai ragu menyekolahkan anaknya ke kampus impian, serta keluarga-keluarga yang terpaksa mencoret rencana membeli rumah dari daftar keinginan mereka.

Laporan terbaru dari Mandiri Institute mengonfirmasi tren mengkhawatirkan ini. Proporsi kelas menengah menyusut dari 17,1% (47,9 juta jiwa) di tahun 2024 menjadi 16,6% (46,7 juta jiwa) di tahun 2025. Di sisi lain, kelompok Aspiring Middle Class (AMC) justru melonjak hingga mencapai 50,4% populasi.

BACA JUGA:

Artinya, separuh warga Indonesia kini sedang “berjinjit” di ambang batas kelas menengah; mereka cukup dekat untuk naik, namun sangat rentan untuk jatuh kembali ke jurang kemiskinan.

Hilangnya Rasa Aman dan Optimisme
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Wisnu Setiadi Nugroho, menilai fenomena ini sebagai erosi terhadap rasa aman masyarakat.

Menurutnya, kelas menengah bukan sekadar kategori ekonomi, melainkan simbol harapan bahwa kerja keras akan membuahkan kemajuan.

“Kelas menengah adalah mereka yang merasa cukup untuk menabung dan merencanakan masa depan. Ketika jumlah mereka menyusut, yang sesungguhnya tergerus adalah kepercayaan masyarakat bahwa investasi pada pendidikan dan kerja keras masih bisa menjamin kehidupan yang lebih baik dari generasi sebelumnya,” ujar Wisnu.

Jebakan Pekerjaan “Sekadar Bertahan Hidup”

Mengapa ini terjadi? Wisnu menyoroti bahwa kualitas lapangan kerja di Indonesia kian tidak menjanjikan mobilitas vertikal. Ekonomi kita saat ini banyak menciptakan pekerjaan yang bersifat survival-based—pekerjaan yang hanya cukup untuk menyambung nyawa hari ini, namun tidak punya “nafas” untuk investasi masa depan.

Fenomena gig economy, kerja informal, dan pekerjaan dengan produktivitas rendah memang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Namun, model pekerjaan seperti ini jarang memberikan jaminan sosial, stabilitas pendapatan, atau jalur karier yang jelas.

“Orang bekerja semakin keras, tetapi tangga sosialnya tidak bertambah panjang,” tegas Wisnu.

Kelompok ini pun terjepit oleh income squeeze: upah riil yang jalan di tempat, sementara biaya transportasi, perumahan, dan pendidikan terus meroket secara senyap.

Wilayah Abu-Abu yang Terlupakan

Kondisi ini semakin diperparah dengan minimnya jaring pengaman bagi kelompok near-middle. Saat ini, kebijakan sosial pemerintah masih sangat terfokus pada kelompok miskin.

Sementara itu, kelompok AMC yang kini menjadi mayoritas penduduk berada di wilayah abu-abu: mereka dianggap tidak cukup miskin untuk menerima bantuan, tetapi belum cukup kuat untuk mandiri sepenuhnya.

Satu guncangan kecil saja—baik itu sakit mendadak, kenaikan cicilan, atau PHK—bisa meruntuhkan stabilitas yang telah dibangun bertahun-tahun.

Wisnu memperingatkan risiko besar berupa aspiration without mobility. Di mana aspirasi masyarakat untuk maju sangat tinggi, namun infrastruktur ekonomi untuk mencapainya telah patah.

Membangun Kembali Harapan

Untuk memutar balik tren negatif ini, diperlukan keberanian untuk melakukan transformasi struktural. Pertumbuhan ekonomi berbasis Produk Domestik Bruto (PDB) saja tidak lagi cukup jika kualitas pekerjaannya rendah.

Pemerintah didorong untuk membangkitkan sektor manufaktur bernilai tambah dan jasa modern yang mampu memberikan upah layak serta jaminan sosial bagi pekerjanya.

“Penyusutan kelas menengah hari ini adalah sinyal awal stagnasi struktural yang dalam. Jika mesin mobilitas sosial terus melambat, yang hilang bukan sekadar angka 1,2 juta jiwa, melainkan penjaga optimisme dan stabilitas bangsa ini,” tutup Wisnu.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*