Beban Air di Langit Makin Berat, Hujan di Indonesia Lampaui Batas Ekstrem

Musim hujan tiba
Mendung di langit Jakarta (KalderaNews/JS de Britto)
Sharing for Empowerment

JAKARTA, KalderaNews.com – Pernahkah kamu merasa bahwa hujan belakangan ini terasa lebih “marah” dari biasanya? Jika iya, perasaan kamu tidak menipu.

Data terbaru menunjukkan bahwa langit Indonesia kini menyimpan beban air yang jauh lebih berat dibandingkan satu atau dua dekade lalu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan serius: krisis iklim telah mengubah pola hujan kita secara drastis dalam 16 tahun terakhir.

BACA JUGA:

Bukan lagi sekadar gerimis yang membasahi bumi, Indonesia kini makin sering dihantam hujan ekstrem yang melampaui batas normal daya tampung lingkungan.

Ketika Angka Berbicara: Melampaui Batas Ekstrem

Untuk memahami seberapa ngeri situasi ini, kita perlu melihat standarnya. Secara umum, hujan di angka 100–150 milimeter (mm) per hari sudah dikategorikan sebagai hujan “sangat lebat”. Namun, realita di lapangan seringkali jauh melampaui angka itu.

Plt Deputi Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan data yang mencengangkan. Banjir besar yang melumpuhkan Jakarta pada akhir 2020 dipicu oleh curah hujan 377 mm.

Sementara itu, Siklon Tropis Senyar yang baru-baru ini menghantam Sumatera mencatatkan angka yang lebih gila: 411 mm di Aceh dan 390 mm di Sumatera Utara.

“Bayangkan, batas ekstrem itu 150 mm per hari. Ke depan, kita mungkin akan lebih sering menghadapi hujan di atas 200, 300, bahkan 400 mm,” tegas Andri.

Mengapa Bumi Makin “Basah” Saat Makin Panas?

Mungkin terdengar kontradiktif: kenapa pemanasan global justru memicu hujan deras, bukannya kekeringan? Jawabannya ada pada hukum fisika sederhana yang disebut Hubungan Clausius-Clapeyron.

Intinya, udara yang lebih panas mampu menyerap dan menahan uap air lebih banyak. Setiap kenaikan suhu Bumi, atmosfer kita menjadi seperti “spons raksasa” yang menyerap lebih banyak penguapan dari samudra.

Masalahnya, ketika “spons” ini sudah penuh, ia akan memuntahkan air tersebut dalam volume yang masif dan waktu yang singkat. Itulah yang kita sebut hujan ekstrem.

Data dari NASA pun mengonfirmasi hal ini. Kejadian cuaca ekstrem—baik banjir bandang maupun kekeringan parah—kini terjadi dua kali lipat lebih sering dibandingkan periode 2003-2020.

Jawa dan Sumatera: Garis Depan Pertahanan

Risiko bencana akibat pergeseran iklim ini tidak merata di seluruh wilayah. Berdasarkan pemetaan BMKG, beberapa provinsi di Jawa dan Sumatera menjadi “juara” dalam hal kerentanan terhadap banjir dan tanah longsor:

Jawa Barat: Menempati posisi pertama sebagai daerah paling rawan.

Jawa Tengah & Jawa Timur: Padatnya penduduk dan perubahan fungsi lahan memperburuk risiko.

Aceh & Sumatera Utara: Sering menjadi pintu masuk siklon dan fenomena cuaca ekstrem dari samudra.

Bersiap untuk Dampak yang “Lebih Buruk dari Dugaan”

Para peneliti dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) memperingatkan bahwa model iklim yang kita gunakan selama ini mungkin terlalu “optimis”.

Realitanya, curah hujan ekstrem meningkat secara eksponensial—jauh lebih cepat daripada kenaikan suhu global itu sendiri.

Artinya, infrastruktur kita—mulai dari selokan di depan rumah, waduk di pinggir kota, hingga sistem drainase di pusat provinsi—mungkin sudah tidak lagi relevan dengan volume hujan masa depan.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Pemerintah daerah didorong untuk segera mensimulasikan ulang daya tampung wilayah mereka terhadap curah hujan di atas 300 mm.

Di level individu, kesadaran akan “gerakan satu jam tanpa gawai” atau menjaga kebersihan saluran air mungkin terasa kecil, namun di tengah ancaman kiamat iklim yang makin dekat, adaptasi bukan lagi pilihan—melainkan syarat untuk bertahan hidup.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*