KUPANG BARAT, KalderaNews.com – Kisah perjuangan seorang guru honorer di daerah pelosok Nusa Tenggara Timur menyentuh perhatian publik setelah videonya viral di media sosial baru-baru ini.
Cerita tersebut memperlihatkan realitas berat yang dialami guru honorer yang tetap mengabdi di tengah keterbatasan fasilitas dan kesejahteraan.
Sosok guru honorer tersebut adalah Agustinus, pengajar di SD Negeri Batu Esa, wilayah Kabupaten Kupang Barat.
BACA JUGA:
- Profil Suster Ika, Biarawati Katolik Bongkar Sindikat TPPO Jabar-NTT!
- Profil Bripda Masias Siahaya, Oknum Brimob yang Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan Pelajar Hingga Tewas di Kota Tual
- Profil Pendidikan Arya Iwantoro, Suami Dwi Sasetyaningtyas yang Turut ‘Dikuliti’ Warganet, Disebut Langgar Aturan LPDP
Gaji dipangkas karena efisiensi
Ia telah mengabdikan diri selama lebih dari 23 tahun, namun kini hanya menerima honor sebesar Rp223 ribu per bulan setelah adanya kebijakan efisiensi anggaran.
Kisahnya viral melalui video yang beredar di Instagram, memperlihatkan rutinitas perjuangannya berangkat mengajar sejak pagi dengan menumpang truk karena akses jalan yang sulit di daerah pedalaman.
Setelah kegiatan belajar selesai sekitar pukul 12.00, ia kembali menunggu kendaraan yang melintas untuk pulang.
Pengorbanan tersebut terasa semakin berat karena honor yang diterima justru mengalami penurunan drastis dari sebelumnya Rp600 ribu menjadi Rp223 ribu per bulan.
Bahkan, pembayaran gaji sering kali tidak menentu dan baru diterima setiap tiga hingga enam bulan sekali menunggu pencairan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
“Terima Rp223.000 per bulan,” ujar Pak Agustinus dalam wawancara yang diabadikan dalam reel tersebut, seperti dikutip dari berbagai sumber viral di Instagram dan media online.
Nominal tersebut dinilai jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, terlebih bagi guru yang telah berkeluarga.
Kondisi ini kemudian menuai perhatian luas dari masyarakat, termasuk influencer Sulianto Indria Putra yang mendatangi lokasi untuk melihat langsung kondisi para guru honorer di daerah tersebut.
Dalam caption reel, disebutkan:
“Logika mana yang digunakan? Guru yang rela nebeng truk demi mengajar justru jadi sasaran ‘efisiensi’ anggaran. Dari 600 ribu ke 223 ribu, apakah ini harga sebuah pengabdian di NTT?”
Kisah ini menggambarkan realitas pahit yang masih dialami banyak guru honorer di wilayah terpencil. Meski menghadapi keterbatasan ekonomi dan fasilitas, Pak Agustinus tetap memilih bertahan mengajar hingga masa pensiun sebagai bentuk dedikasi terhadap pendidikan anak-anak di daerahnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply