“Restu” Luhut dan Proyek Cari ‘Anak Muda’ di OJK-BEI: Reformasi atau Sekadar Ganti Boneka?

Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia (EduFulus/Gwk)
Sharing for Empowerment

The Path To Financial Freedom, EduFulus – Seolah belum cukup sibuk dengan urusan ekonomi makro, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) di bawah komando Luhut Binsar Pandjaitan kini mulai “rajin” mengurusi dapur tetangga. Kali ini, bidikan diarahkan ke struktur pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Luhut, dengan gaya khasnya, mengaku sudah menyiapkan “resep” baru untuk dilaporkan ke Presiden Prabowo: cari anak muda.

SIMAK JUGA: Kok Bisa? Nagita Slavina Tiba-tiba “Caplok” Emiten Percetakan VISI, Kode Keras RANS Masuk Bursa?

Alasannya klise namun terdengar sangat idealis: punya pengalaman, kredibilitas, dan—yang paling menggelitik—tidak bisa diintervensi siapa-siapa.

Anak Muda atau “Anak Emas”?

Publik tentu patut bertanya, sejak kapan syarat “tidak bisa diintervensi” menjadi kriteria yang harus diusulkan oleh lembaga eksekutif? Bukankah independensi lembaga pengawas keuangan adalah harga mati yang seharusnya sudah ada sejak dulu tanpa perlu “disounding” ke sana-kemari?

Luhut bahkan sesumbar telah melakukan kajian di berbagai tempat untuk menyusun struktur ini. “Kenapa musti orang-orang terkenal? Cari anak muda,” ujarnya pada Jumat (13/2).

Kalimat ini seolah menyiratkan bahwa stok pejabat senior yang ada sekarang sudah “kadaluwarsa” atau mungkin sudah terlalu sulit untuk “diarahkan”.

Respons “Pasrah” Bos Bursa

Sementara itu, Pjs Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, memberikan respons yang tampak sangat berhati-hati—atau mungkin lebih tepat disebut pasrah. Di tengah isu perombakan kursi yang dihembuskan DEN, Jeffrey hanya bisa melempar senyum profesional.

“Kami sangat terbuka terkait itu. As a professional, kami siap dengan perubahan-perubahan apa pun,” singkat Jeffrey di Gedung BEI.

SIMAK JUGA: Ini Tantangan Utama Reformasi Total Bursa, Tak Sebatas Instan Takluk pada Hukuman MSCI

Jawaban singkat ini seolah menegaskan posisi profesional pasar modal yang harus tetap “manut” meski angin politik mulai meniup kencang ke arah lantai bursa.

Jeffrey bahkan sempat-sempatnya berterima kasih atas pertemuan DEN dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Padahal, banyak yang bertanya-tanya, apakah reformasi pasar modal memang harus menunggu “restu” institusi asing dan diskusi dua jam di kantor DEN?

Digitalisasi dan Jualan “No Problem”

Luhut juga membawa-bawa isu digitalisasi (GovTech) hingga hasil penelitian Harvard dan World Bank untuk meyakinkan MSCI bahwa Indonesia baik-baik saja.

Ia menegaskan kepada pihak asing bahwa “tidak ada masalah” yang dihadapi Indonesia.

Namun, jika memang semuanya baik-baik saja, mengapa struktur OJK dan BEI mendadak harus dirombak total dengan kriteria “anak muda” pilihan pusat?

Apakah ini murni reformasi untuk transparansi, atau sekadar upaya memastikan “orang-orang baru” di posisi strategis tetap berada dalam jalur yang searah dengan keinginan penguasa?

Pasar modal kini tinggal menunggu: apakah “anak muda” yang dimaksud benar-benar independen, atau justru hanya wajah baru untuk kepentingan lama yang dikemas dengan label “Nasionalisme dan Transparansi”.

SIMAK JUGA: OJK “Bersih-bersih” Bursa: 151 Pelaku Saham Gorengan Disikat, Denda Tembus Setengah Triliun

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*