
JAKARTA, KalderaNews.com – Virus Nipah (NiV) mulai mengintai dari hutan Indonesia. Virus mematikan yang belum ada obatnya ini dikonfirmasi telah bersirkulasi di alam liar.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Niluh Putu Indi Dharmayanti mengingatkan bahwa meski saat ini belum ada laporan kasus pada manusia di Indonesia, risiko “ledakan” wabah sangatlah nyata.
Virus ini bukan main-main: tingkat kematiannya sangat tinggi dan dampaknya bisa melumpuhkan sendi sosial-ekonomi negara.
BACA JUGA:
- Fenomena Langka! MiracleIn Februari 2026, Hanya Muncul 823 Tahun Sekali? Ini Faktanya!
- Peringatan Dini! Wilayah Jabodetabek Bakal Hujan Lebat Sampai 5 Februari 2026
- Jangan Terlewatkan! Cek Jadwal Fenomena Astronomi Februari 2026, Ada Gerhana Matahari Cincin dan Parade 6 Planet!
Jejak sang pembunuh di Indonesia
Bukan sekadar isu, data ilmiah menunjukkan “sang pembunuh” ini sudah ada di antara kita.
Peneliti BRIN menemukan fakta mengejutkan:
- Kalimantan Barat: Sekitar 19% sampel kelelawar buah (Pteropus vampyrus) terdeteksi memiliki antibodi virus ini.
- Sumatera Utara & Jawa: Melalui uji PCR, ditemukan jejak genetik virus Nipah pada kelelawar penghuni wilayah tersebut. Karakter genetiknya pun sangat mirip dengan isolat mematikan yang pernah menyebabkan wabah di Malaysia.
Mengapa harus waspada?
Virus Nipah dikategorikan sebagai penyakit zoonotik (menular dari hewan ke manusia) yang sangat ganas.
Inilah alasan mengapa virus ini menjadi ancaman serius:
- Hingga detik ini, belum ada vaksin maupun obat spesifik untuk menyembuhkan infeksi virus Nipah. Pasien hanya bisa mengandalkan perawatan suportif.
- Kelelawar buah sebagai inang alami bisa membawa virus ini tanpa terlihat sakit sedikitpun. Mereka menyebarkannya melalui urine, air liur, atau kontak langsung.
- Selain lewat kelelawar, virus ini bisa menular melalui babi yang terinfeksi atau konsumsi makanan (seperti buah atau nira) yang tercemar kotoran kelelawar. Yang lebih mengerikan, virus ini bisa menular antarmanusia.
Indi Dharmayanti menjelaskan, kondisi ekologis Indonesia seperti pedang bermata dua.
Keanekaragaman spesies yang tinggi justru meningkatkan risiko spillover (loncatan virus).
“Interaksi yang terlalu dekat antara habitat satwa liar dengan pemukiman, praktik perburuan satwa, hingga pasar hewan dengan sanitasi buruk adalah faktor pendorong utama,” tegasnya.
Apa yang harus dilakukan?
Menghadapi ancaman ini, BRIN mendesak penguatan strategi One Health, kolaborasi ketat antara sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Surveilans aktif pada satwa liar dan peningkatan kapasitas deteksi dini di daerah menjadi harga mati agar Indonesia tidak kecolongan.
Masyarakat diimbau untuk mulai waspada dan menghindari kontak langsung dengan satwa liar, serta memastikan kebersihan bahan pangan yang dikonsumsi.
Sebelum terlambat, kesadaran publik adalah benteng terakhir kita melawan ancaman maut dari alam liar ini.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply