Viral dr. Anggi Aprilyani, Owner Isy Beauty Center Lecehkan Tempat Ibadah

Tangkapan unggahan akun TikTok @dokterbarbarreal (KalderaNews/Malena)
Sharing for Empowerment

Akun TikTok @dokterbarbarreal viral akibat unggah konten tidak pantas yang dinilai melecehkan prosesi ibadah gereja Katolik.

JAKARTA, KalderaNews.com – Nama dr. Anggi Aprilyani M.Biomed AAM Dipl.CIBTAC mendadak ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial, khususnya Threads dan Instagram serta TikTok.

Akun TikTok @dokterbarbarreal yang diketahui milik seorang dokter sekaligus dosen, menjadi viral setelah mengunggah video tidak pantas saat mengunjungi sebuah gereja Katolik di Manchester, Inggris, pada Jumat (3/7/2026).

Dalam kontennya, ia mengaku merasa ingin muntah dan menyamakan prosesi ibadah di dalam gereja tersebut dengan tindakan “ruqyah“. Pernyataan ini menuai kecaman luas karena dinilai melecehkan tempat ibadah dan mencederai nilai toleransi beragama.

BACA JUGA:

Figur publik yang dikenal sebagai dokter kecantikan berprestasi ini tengah menjadi pusat perhatian netizen akibat sebuah konten digital di rumah ibadah yang dinilai kurang bijak.

Sebagai seorang profesional medis dengan rekam jejak akademis dan bisnis yang mapan, sorotan tajam publik kini mengarah pada bagaimana etika bermedia sosial dari seorang figur dengan latar belakang mentereng tersebut.

Potongan aksinya di dalam gereja memicu kritik tajam dari netizen lintas agama. Akun @siane_yap “Berpendidikan tapi ng punya etika,,”. Akun @erfiramaya “Tuntut penistaan agama!!!!! “

Di tengah gelombang kegaduhan tersebut, sebuah utas dari akun Threads @reggiepranoto mendadak viral karena membawa pesan kedamaian, pengampunan, dan ajakan untuk mengalihkan fokus pada isu-isu nasional yang lebih krusial.

Kronologi Kontroversi Konten di Rumah Ibadah

Kegaduhan bermula ketika dr. Anggi Aprilyani diduga mengunggah konten yang dianggap kurang menghormati kesakralan rumah ibadah umat Kristiani.

Banyak netizen menyayangkan tindakan tersebut, mengingat latar belakangnya sebagai seorang profesional medis berpendidikan tinggi.

Netizen dari berbagai latar belakang agama menyuarakan kekecewaan mereka. Beberapa netizen muslim pun turut menyayangkan aksi tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang kurang elok serta tidak mencerminkan toleransi antarumat beragama.

Pesan Menyentuh @reggiepranoto: Memaafkan dan Sudahi Hujatan

Di saat kolom komentar dipenuhi kritik pedas, Reggie Pranoto hadir memberikan sudut pandang yang menyejukkan dari sisi umat Katolik. Melalui utasnya, ia menyatakan telah memaafkan tindakan tersebut dan meminta netizen untuk berhenti menghujat.

“Semoga kakak @agiaprily dengan gelar dokternya, lain kali dapat bersosial media dengan bijak, terlepas itu, saya sebagai umat Katolik tetap memaafkan. Yuk teman² kasus ini kita sudahi, saat ini kita harus bersatu,” tulis Reggie dalam unggahannya.

Ia juga mengingatkan sesama umat Katolik yang merasa terluka untuk tetap tenang dan membawa kedamaian dengan mengutip salah satu ayat Alkitab dari Matius 11:28 tentang kelegaan dan ketenangan hati.

“Untuk saudara² seimanku, yuk bisa kita berdamai dan terus menebar kasih tanpa lupa kita bawa beliau dalam doa saja,” tambahnya.

Ajakan Mengalihkan Fokus ke Isu Vertikal

Hal menarik dari utas viral ini adalah ajakan Reggie kepada warganet untuk berhenti menghabiskan energi pada konflik horizontal (antar-individu/golongan) dan mulai bersikap kritis pada masalah-masalah sosial-ekonomi yang sedang menjepit masyarakat.

Beberapa isu krusial yang ia sebutkan antara lain:

  • Faktor Ekonomi: Lonjakan harga kebutuhan pokok seperti beras dan cabai, serta fluktuasi nilai tukar Dollar.
  • Isu Sosial & Politik: Berbagai kebijakan publik dan dinamika politik tanah air yang membutuhkan pengawasan kritis dari masyarakat.

Menurutnya, masyarakat akan jauh lebih produktif jika bersatu mengawal kebijakan pemerintah (kritik vertikal) dibanding terjebak dalam lingkaran hujatan di media sosial.

Money Can’t Buy Class dan Etika Digital

Sebagai seorang profesional berpendidikan tinggi dan pemilik bisnis, publik menaruh ekspektasi besar terhadap cara dr. Anggi bersosial media. Namun, kontroversi terbaru mengenai kontennya di dalam sebuah gereja justru memicu reaksi sebaliknya.

Netizen menyayangkan mengapa seorang dokter dengan gelar berlapis bisa kurang peka terhadap kesakralan rumah ibadah agama lain. Unggahan viral dari akun Threads @reggiepranoto yang merespons bijak insiden ini, memicu diskusi luas di kolom komentar mengenai etika seorang expert.

Bahkan, tidak sedikit netizen—termasuk dari kalangan sesama muslim—yang melayangkan kritik keras. Salah satunya dari akun @mrs_full_time_wanderer yang menuliskan kekecewaannya: “Seriously, that’s why people said that money can’t buy class. Klo ngerasa gak nyaman ya ngapain masuk di tempat yg bukan tempatmu, pake acara diposting pula.”

Kasus yang menimpa pemilik Isy Beauty Center ini menjadi pengingat keras bagi seluruh pengguna media sosial, terutama para figur publik dan profesional.

Tingginya tingkat pendidikan maupun status sosial tidak menjadi jaminan seseorang memiliki kepekaan budaya dan toleransi jika tidak dibarengi dengan etika digital yang baik.

Sikap dewasa yang ditunjukkan oleh komunitas terdampak dalam menghadapi gesekan ini diharapkan dapat menjadi contoh nyata bagaimana toleransi dan kasih dapat meredam potensi konflik horizontal di Indonesia.

Latar Belakang Akademis dan Gelar Profesional dr. Anggi Aprilyani

Jika melihat rentetan gelar di belakang namanya, dr. Anggi Aprilyani bukanlah sosok sembarangan di industri estetika medis. Ia memiliki kualifikasi tinggi yang menunjukkan keahlian mendalam di bidangnya:

  1. dr. (Dokter): Menunjukkan latar belakang pendidikan kedokteran umum yang menjadi fondasi dasarnya sebagai praktisi medis.
  2. M.Biomed (Magister Biomedik): Gelar pascasarjana yang berfokus pada ilmu biomedis, memperkuat landasan ilmiahnya dalam memahami anatomi dan fisiologi manusia.
  3. AAM (Anti-Aging Medicine): Spesialisasi atau peminatan khusus dalam kedokteran anti-penuaan, salah satu cabang ilmu medis yang paling diminati di industri kecantikan modern.
  4. Dipl.CIBTAC: Sertifikasi internasional bergengsi dari Confederation of International Beauty Therapy and Cosmetology (CIBTAC) asal Inggris. Gelar ini membuktikan bahwa kompetensi klinisnya di bidang terapi kecantikan telah diakui secara global.

Kiprah Bisnis: Owner Isy Beauty Center

Berbekal keahlian akademis dan sertifikasi internasional tersebut, dr. Anggi Aprilyani sukses membangun karier sebagai seorang pengusaha. Ia diketahui merupakan pemilik (owner) dari Isy Beauty Center, sebuah klinik kecantikan yang menawarkan berbagai perawatan estetika medis.

Lewat bisnisnya ini, ia kerap membagikan konten edukasi seputar perawatan kulit (skincare) dan tindakan estetika, yang perlahan membangun basis pengikut (followers) dan menjadikannya salah satu influencer di bidang kecantikan.

Pelajaran Penting Bagi Figur Publik dan Praktisi Medis

Kasus dr. Anggi Aprilyani menjadi preseden penting di era digital. Gelar akademis yang tinggi serta kesuksesan finansial sebagai pemilik klinik kecantikan ternyata tidak serta-merta menjamin kecerdasan budaya (cultural intelligence) dalam ruang publik.

Di tengah gelombang kritik, sikap komunitas terdampak yang memilih untuk memaafkan dan mendoakannya diharapkan bisa menjadi ruang bagi dr. Anggi untuk berefleksi, agar ke depannya dapat memanfaatkan pengaruh digitalnya secara lebih bijak dan inklusif.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi dari yang bersangkutan. Konten tersebut sudah tersebar luas. Kolom komentar di akun sosmednya pun sempat digeruduk netizen dan saat ini sudah dinonaktifkan.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*