Antisipasi Status Anak Krakatau Berpotensi Siaga (Level 3) Naik Jadi Awas (Level 4)

Erupsi Gunung Anak Krakatau
Erupsi Gunung Anak Krakatau (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Pemprov Lampung siapkan jalur evakuasi dan EWS antisipasi kenaikan status Gunung Anak Krakatau ke Level IV (Awas).

BANDAR LAMPUNG, KalderaNews.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung bergerak cepat memperkuat kesiapsiagaan guna menghadapi potensi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).

Meskipun tren erupsi dilaporkan mulai mereda, Pemprov Lampung tidak menurunkan kewaspadaan dan tetap mematangkan skenario mitigasi untuk mengantisipasi jika status GAK naik dari Level III (Siaga) menjadi Level IV (Awas).

Penyusunan mitigasi bencana sejak dini ini bertujuan meminimalkan risiko bahaya, mempercepat proses evakuasi, serta memastikan keselamatan seluruh warga pesisir Lampung.

Pemprov Lampung Petakan Skenario Bencana Terburuk

Langkah antisipasi ini dipimpin langsung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung atas instruksi Gubernur Lampung melalui Sekretaris Daerah (Sekda).

BPBD mengumpulkan seluruh kepala BPBD kabupaten/kota se-Provinsi Lampung untuk menyelaraskan skenario penanganan darurat.

Kepala BPBD Lampung, Aswarodi, menegaskan bahwa pemerintah daerah bertindak proaktif tanpa harus menunggu status gunung berapi benar-benar naik.

“Kami mengantisipasi kemungkinan terburuk manakala status Siaga (Level 3) ini akan meningkat menjadi status Awas (Level 4). Kami berharap itu tidak terjadi,” ujar Aswarodi dalam konferensi pers di BPBD Lampung, Kamis (10/9/2026).

Arahan resmi dari Sekda Lampung tersebut juga diserahkan kepada para kepala BPBD tingkat daerah untuk segera diteruskan kepada para bupati dan wali kota. Langkah ini penting untuk mengoordinasikan jajaran pemerintah lokal sekaligus mencegah timbulnya kepanikan di tengah masyarakat.

Kesiapan Jalur Evakuasi, Tempat Pengungsian, dan EWS

Guna memastikan kesiapan di lapangan, beberapa komponen utama mitigasi telah dipetakan dan disiapkan, di antaranya:

  1. Jalur dan Rambu Evakuasi: Penentuan rute aman yang mudah diakses warga pesisir pantai menuju titik aman.
  2. Lokasi Pengungsian: Penyediaan tempat penampungan sementara yang dilengkapi dengan fasilitas dasar penunjang hidup.
  3. Pemeriksaan Early Warning System (EWS): Sistem peringatan dini milik Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dipastikan beroperasi optimal. Pemeriksaan EWS ini turut disaksikan oleh pihak TNI AL melalui Danlanal.

Cadangan Komunikasi Tradisional dan Pelibatan Relawan

Mengantisipasi potensi kelumpuhan jaringan telekomunikasi saat terjadi bencana mendadak, BPBD Lampung menyiagakan jalur komunikasi alternatif. Pemprov mengandalkan jaringan radio komunikasi dari Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) serta kearifan lokal berupa kentongan untuk peringatan cepat.

Selain infrastruktur penunjang, personil relawan dari Desa Tangguh Bencana (Destana) dan Taruna Siaga Bencana (Tagana) juga dikerahkan secara aktif. Para relawan bertugas mengedukasi warga, menyebarkan informasi tepercaya, dan mendampingi proses evakuasi apabila situasi memburuk.

Melalui langkah persiapan yang matang ini, Pemprov Lampung berharap proses evakuasi dan alur informasi dapat berjalan cepat dan teratur demi menjamin keselamatan masyarakat.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


266 views