Jumlah Investor Kripto Tembus 22 Juta, Mengapa Transaksi Malah Anjlok?

Risiko trading kripto (EduFulus/Ist)
Sharing for Empowerment

OJK catat investor kripto tembus 22,9 juta akun, namun nilai transaksi terjun 28%. Ternyata ini penyebab utamanya!

The Path To Financial Freedom, EduFulus  – Fenomena janggal tengah melanda pasar aset kripto di Indonesia. Di satu sisi, minat masyarakat untuk mengoleksi aset digital terus menunjukkan tren positif.

Namun di sisi lain, nilai perputaran uang di pasar kripto lokal justru merosot tajam. Ada apa sebenarnya?

Berdasarkan data Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah akun konsumen aset kripto di Indonesia telah menyentuh angka fantastis 22,93 juta akun per Juli 2026, atau tumbuh 1,03% secara bulanan (month-to-month).

SIMAK JUGA: Bitcoin dan Ethereum Jadi Incaran Investor Institusi

Akan tetapi, lonjakan jumlah pengguna ini berbanding terbalik dengan nilai transaksinya. OJK mencatat transaksi aset kripto pasar spot pada Juli 2026 terjun bebas hingga 28,2% menjadi Rp20,52 triliun.

Kondisi serupa terjadi pada transaksi derivatif Aset Keuangan Digital (AKD) yang menyusut 18,52% menjadi Rp3,41 triliun.

Bukan Pelemahan Domestik, Ini Biang Keroknya

Penurunan volume perdagangan yang cukup dalam ini memicu spekulasi mengenai memudarnya kepercayaan masyarakat. Namun, OJK dan pakar industri dengan tegas membantah anggapan tersebut.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) sekaligus Co-founder Indodax, William Sutanto, menjelaskan bahwa penurunan transaksi di Indonesia bukan disebabkan oleh pelemahan minat investor lokal, melainkan akibat perubahan struktur pasar kripto secara global.

“Penurunan volume transaksi pada Juli bukan fenomena domestik saja, volume spot centralized exchange global juga turun sekitar 31% MoM pada periode yang sama,” ungkap William.

Beberapa faktor kunci yang memicu pergeseran peta perdagangan kripto global meliputi:

  • Pergeseran ke Produk Institusional: Volume perdagangan spot (jual-beli langsung) kian tergerus karena likuiditas global bergeser ke instrumen institusional seperti Exchange-Traded Fund (ETF), Over-the-Counter (OTC), perpetual futures, dan bursa tersentralisasi (Decentralized Exchange/DEX).
  • Migrasi Likuiditas ke Sektor AI: Perhatian dan dana investor global saat ini banyak terbagi ke pasar saham teknologi, khususnya sektor Artificial Intelligence (AI) dan semikonduktor yang tengah mengalami lonjakan (boom).
  • Banyak Akun Pasif (Non-Active Traders): Besarnya angka 22,9 juta akun di Indonesia belum sepenuhnya mencerminkan jumlah investor yang aktif bertransaksi setiap bulannya.

Kesenjangan Produk dan Likuiditas di Pasar Lokal

William menyoroti tantangan terbesar pasar kripto Indonesia saat ini terletak pada keterbatasan variasi produk dan kedalaman likuiditas. Pasar dalam negeri dinilai masih sangat bergantung pada perdagangan spot (spot-centric), sementara pasar global sudah bergerak cepat menuju instrumen yang lebih kompleks seperti Real World Assets (RWA) dan perpetuals.

Tantangan bagi regulator dan pelaku industri saat ini adalah bagaimana menghadirkan ragam instrumen baru agar likuiditas investor domestik tidak lari ke bursa luar negeri.

Langkah Tegas OJK dan Penguatan Regulasi

Kepala Departemen IAKD-ITSK OJK, Adi Budiarso, menegaskan bahwa secara umum kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem aset digital tetap terjaga dengan baik. Guna memperkuat pelindungan konsumen dan kepastian hukum, OJK terus mengakselerasi penataan industri:

  1. Penerbitan Regulasi Anyar: Menerbitkan PADK Nomor 3 Tahun 2026 tentang penyelenggaraan perdagangan aset keuangan digital.
  2. Perizinan Pedagang: Hingga Agustus 2026, OJK telah memberikan izin resmi kepada 27 Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD).
  3. Inovasi Regulatory Sandbox: OJK telah meluluskan 7 model bisnis baru dari uji coba sandbox, mencakup tokenisasi emas, tokenisasi properti, penerbit stablecoin rupiah, hingga manajer dana kripto.

Dengan landasan regulasi yang kian matang, pasar kripto Indonesia diharapkan tidak sekadar mencetak rekor jumlah akun, melainkan mampu membangun ekosistem perdagangan yang aktif, likuid, dan aman bagi seluruh investor.

SIMAK JUGA: Bitcoin Melesat Usai Diborong Strategy, Seperti Apa Prospek Akhir 2026?

* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


186 views