
Dugaan keracunan hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG) picu kepanikan di Ponpes Manba’ul Hikam, Sidoarjo (1/9).
SIDOARJO, KalderaNews.com – Suasana tenang di Pondok Pesantren (Ponpes) Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, mendadak berubah menjadi kepanikan masal pada Selasa (1/9/2026).
Ratusan santri dan santriwati mendadak merintih kesakitan, memegangi perut, hingga bolak-balik ke kamar mandi dalam kondisi lemas usai menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
BACA JUGA:
- Anggaran MBG 2027 Berpotensi di Bawah Rp240,2 Triliun, Ini Alasannya
- BGN Coret 80 Sekolah Swasta Elite dari MBG, Ada Cikal Hingga JIS
- MBG Sedot Rp240,0 Triliun dari Anggaran Pendidikan 2027 Rp820,9 Triliun
Tak main-main, sebanyak 431 santri terpaksa dievakuasi menggunakan armada ambulans ke tujuh rumah sakit berbeda di wilayah Sidoarjo demi mendapatkan penanganan medis darurat.
Kronologi Kejadian: Berawal dari Menu Telur dan Buncis
Insiden memprihatinkan ini bermula ketika pasokan MBG sebanyak 2.800 porsi tiba di pesantren sekitar pukul 11.30 WIB. Paket makanan tersebut berisi:
- Nasi putih
- Telur orak-arik (atau telur dadar)
- Tempe bumbu bali
- Tumis buncis baby corn
- Buah apel
Para santri menyantap hidangan tersebut sekitar pukul 13.00 WIB. Namun, petaka mulai terasa seusai ibadah salat asar, atau saat jam pelajaran pertama dimulai sekitar pukul 16.00 WIB.
“Mulai mual ini ketika pelajaran jam pertama setelah ba’da Ashar, sekitar jam 16.00 WIB. Baru terdeteksi kami mulai 16.20 WIB. Sudah banyak yang melapor ke UKS masing-masing unit,” ujar Ferdiansyah, Ketua Asrama Putra Ponpes Manba’ul Hikam.
Ahsan, salah satu santri yang selamat karena tidak mengonsumsi paket MBG hari itu, menceritakan detik-detik mencekam saat rekan-rekannya mulai bertumbangan.
“Pas habis Ashar itu, ada yang bolak-balik kamar mandi teman saya. Begitu ditanyain kenapa, ‘perutku sakit’, katanya,” kenang Ahsan.
Pihak Pesantren Buka Suara: “Kami Hanya Penerima Manfaat’
Menanggapi insiden ini, Ketua Yayasan Ponpes Manba’ul Hikam, KH Abdul Wachid Harun, menegaskan bahwa makanan tersebut bukan berasal dari dapur internal pesantren, melainkan dipasok oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin.
“Soal SPPG bukan ditangani pesantren, tapi dari beliau, dari Kalitengah. Dan kami hanya menerima manfaat saja. Tidak benar kalau SPPG itu ada di pondok, tidak benar ya,” tegas Abdul Wachid pada Rabu (2/9/2026).
Abdul Wachid menjelaskan bahwa dari total 1.000 santri jenjang SMP dan SMA di pesantrennya, ketahanan fisik tiap anak berbeda-beda dalam merespons makanan tersebut, sehingga 431 orang harus dilarikan ke rumah sakit.
Guna mengantisipasi dampak lanjutan, Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo telah mendirikan posko penanganan medis darurat di area pesantren, sementara pihak pengelola menerapkan kebijakan wait and see terkait aktivitas belajar mengajar.
Korban Meluas ke 19 Sekolah, SPPG Kalitengah Resmi Di-suspend
Dampak dari peristiwa ini ternyata tidak hanya menimpa Ponpes Manba’ul Hikam. Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Kepala Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, mengonfirmasi bahwa kasus dugaan keracunan ini meluas ke 19 lembaga pendidikan (TK, SD, SMP, hingga SMA swasta) yang menerima pasokan makanan dari SPPG Kalitengah.
“Ada 19 lembaga yang terdampak, salah satunya Ponpes Manba’ul Hikam. Kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama, SPPG Kalitengah,” ungkap Emil.
Sebagai langkah tegas, Badan Gizi Nasional (BGN) telah memutus sementara (di-suspend) operasional dapur SPPG Kalitengah untuk kepentingan investigasi dan pengujian sampel makanan di laboratorium.
Tim gabungan Pemprov Jatim dan BGN juga melakukan aksi jemput bola ke sekolah-sekolah untuk memastikan tidak ada korban yang luput dari penanganan medis.
Pemprov Jatim Tegaskan Isu Korban Meninggal Adalah Hoaks!
Di tengah kepanikan publik, sempat beredar narasi simpang siur di media sosial yang menyebutkan adanya santri yang meninggal dunia. Namun, hal tersebut dibantah keras oleh pihak pesantren maupun Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Yang mengabarkan ada meninggal itu hoaks. Kami sudah cek di semua rumah sakit,” kata Ferdiansyah.
Emil Dardak turut memperkuat bantahan tersebut dan memastikan situasi kini mulai terkendali. Sejumlah santri yang kondisinya telah membaik dan stabil bahkan sudah diizinkan untuk pulang ke rumah atau asrama.
“Tolong juga tadi ada kabar mohon maaf meninggal, itu tidak betul. Tidak ada yang meninggal. Insya Allah sudah ada yang bisa dipulangkan. Tadi kita lihat ada velbed yang sudah mulai dilipat. “
SPPG Kalitengah Di Ujung Tanduk
Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur mengambil tindakan cepat menyikapi dugaan kasus keracunan massal yang menimpa ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo.
Operasional dapur penyedia makanan, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin, resmi diberhentikan sementara setelah surat suspend diterbitkan pada Rabu (2/9/2026).
Langkah ini diambil guna mengamankan jalur distribusi makanan dan memfasilitasi investigasi secara menyeluruh.
SPPG Kalitengah diketahui memiliki kapasitas produksi yang terbilang besar, mencapai 2.800 porsi makanan setiap hari.
Dari total pasokan tersebut, sekitar 1.000 porsi dialokasikan khusus untuk santri Ponpes Manbaul Hikam, sementara 1.800 porsi sisanya didistribusikan ke sejumlah sekolah di wilayah sekitar.
Penghentian operasional secara mendadak ini berimplikasi langsung pada penghentian sementara pasokan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di area layanan tersebut demi menjamin keselamatan penerima manfaat.
Guna mengungkap pemicu pasti gangguan kesehatan yang dialami para korban, tim gabungan dari Dinas Kesehatan Sidoarjo dan pihak kepolisian telah mengamankan serta menyita sampel makanan untuk diuji di laboratorium.
Proses pengujian medis ini diperkirakan memakan waktu hingga satu minggu ke depan. Hasil akhir uji laboratorium tersebut akan menjadi dasar ilmiah utama untuk mengidentifikasi kandungan atau kontaminan yang menyebabkan dugaan keracunan massal tersebut.
Nasib operasional SPPG Kalitengah kini berada di tangan BGN Pusat. Status suspend sementara saat ini diberlakukan hingga seluruh proses evaluasi dan hasil laboratorium keluar.
Berdasarkan laporan dan data pengujian yang diserahkan dari daerah, BGN Pusat yang nantinya akan menentukan pertimbangan sanksi akhir apakah izin operasional dapur penyedia tersebut hanya dibekukan sementara atau akan dicabut secara permanen.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply