Viral! Pengakuan Siswa Ungkap Kronologi Pengeroyokan Guru di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur: Bermula dari Teriakan “Woi” dan Minta Dipanggil “Prince”

Pengakuan siswa SMKN 3 Tanjab Timur M. Lutfi Fadhila terkait kronologi pengeroyokoan Guru Agus
Sharing for Empowerment

JAMBI, KalderaNews.com – Kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang guru oleh murid di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, kini menjadi perhatian luas masyarakat.

Seiring beredarnya video kejadian tersebut di media sosial, muncul kesaksian dari salah satu siswa yang terlibat, yakni M Lutfi P.

Lutfi mengungkapkan versi kronologi kejadian dari sudut pandang siswa. Ia menyebut peristiwa tersebut berawal dari kesalahpahaman di ruang kelas yang kemudian berkembang menjadi aksi kekerasan.

BACA JUGA:

Berawal dari Teriakan “Woi” dan Sapaan “Prince”

Menurut penuturan Lutfi, insiden bermula saat kondisi kelas sedang ramai menjelang berakhirnya jam pelajaran.

Ia berteriak untuk menenangkan suasana, tanpa menyadari bahwa guru bernama Agus Saputra sedang melintas di depan kelas.

Merasa tersinggung, Agus langsung masuk ke dalam kelas dan menanyakan siapa yang berteriak. Lutfi kemudian menceritakan kejadian tersebut sebagaimana yang dialaminya.

“Saya tidak tahu bahwa beliau ada lewat depan kelas itu. Tiba-tiba beliau langsung masuk ke dalam kelas tanpa permisi ke guru yang ada di dalam, langsung nanya, ‘Siapa yang bilang woi?’ Terus saya jawab, ‘Saya, Prince,’ kayak gitu. Terus spontan saya ke depan langsung ditampar,” ungkap Lutfi.

Lutfi juga menjelaskan bahwa panggilan “Prince” bukan tanpa alasan. Ia menyebut sapaan tersebut justru merupakan permintaan dari guru yang bersangkutan.

“Kalau dipanggil ‘Bapak’ marah dia. Enggak mau dipanggil Bapak, maunya dipanggil Prince,” tambahnya.

Dugaan Penghinaan Orang Tua Picu Amarah Siswa

Ketegangan kemudian meningkat ketika para siswa meminta Agus Saputra menyampaikan permintaan maaf. Permintaan tersebut dipicu oleh dugaan pernyataan sang guru yang dianggap menghina orang tua salah satu murid.

Walaupun telah dilakukan upaya mediasi oleh guru lain dan pihak Komite sekolah, situasi justru semakin memanas di sekitar kantor sekolah. Lutfi menilai sikap guru tersebut terkesan tidak menunjukkan itikad baik.

“Beliau (diminta) minta maaf, tetapi beliau tidak mau. Dibantu oleh guru yang lain untuk ngomong ke beliau bahwa kami mau beliau minta maaf, disuruh ke depan dia. Pas dia mau pidato di depan itu, yang dibahasnya lain, bukan yang tentang untuk minta maaf itu,” jelas Lutfi.

Lutfi melanjutkan, ketika guru tersebut dibawa ke kantor oleh pihak Komite, gestur dan ekspresinya justru dinilai memprovokasi emosi para siswa yang berkumpul.

“Pas dibawa ke kantor itu dia kayak mengejek-ngejek kami sambil senyum-senyum. Terus spontan kami lari mendekati dia semuanya agar dia bisa ngomong lagi di depan itu dengan jujur untuk mengaku kesalahannya,” katanya.

Situasi memuncak saat Lutfi mendekati guru tersebut. Ia mengaku kembali menerima kekerasan fisik yang memicu kericuhan lebih besar.

“Pas saya sampai depan muka dia, dia langsung meninju saya bagian hidung. Iya. Pas dia ninju itu kebetulan kawan saya yang di dekat-dekat dia itu melihat,” beber Lutfi.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*