
Video penggusuran SD di Ende demi pembangunan Kopdes Merah Putih viral dan menuai kecaman warga hingga Pemprov NTT.
ENDE, KalderaNews.com–Video proses penggusuran SD Negeri Wolomoni di Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), viral di media sosial.
Dalam video tersebut tampak sejumlah anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) berseragam lengkap berada di lokasi saat alat berat berupa ekskavator digunakan untuk merobohkan sebagian area sekolah.
Penggusuran itu disebut berkaitan dengan pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih. Peristiwa tersebut langsung memicu beragam reaksi dari masyarakat dan warganet.
BACA JUGA:
- Enam Bulan Berlalu, Sekolah di Aceh Masih Rusak dan Belajar di Tenda
- Miris! 73 Ribu Siswa Korban Banjir Aceh Utara Terancam Tak Punya Buku Saat Sekolah Dibuka 5 Januari 2026
- Memilukan! 2.900 Sekolah Rusak Akibat Bencana di Sumatra, Mendikdasmen Siapkan Langkah Penanganan
Warganet geram dengan aksi penggusuran SD di Ende
Banyak yang menyayangkan bangunan sekolah justru dibongkar di tengah kebutuhan fasilitas pendidikan bagi siswa di wilayah tersebut.
Salah satu komentar datang dari akun media sosial yang menuliskan, “Bangunan sekolah udah buat proses belajar malah dirobohin.yg bener aja.gimana para murid nya yg belajar ma guru yg mau ngajarnya.bener2 nga dipikir pjg.”
Komentar lain juga menyoroti keterlibatan aparat dalam proses pembongkaran.
“Tambah parah corp TNI tidak lagi peduli sama rakyat, mau jadi apa negara ini..🔥🔥🔥🔥🔥,” tulis akun lainnya. Sementara akun lain menambahkan komentar singkat, “Tambah ngawur negara”.
Pemprov NTT soroti kasus ini
Sorotan terhadap kasus ini juga datang dari Pemerintah Provinsi NTT. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM NTT, Linus Lusi, meminta agar persoalan pendidikan tidak dipertentangkan dengan program Koperasi Desa Merah Putih.
”Kami berharap, Pemerintah Kabupaten Ende secara bijak mengatasi persoalan ini. Tolong, jangan benturkan urusan sekolah, urusan pendidikan, dengan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP),” ujar Linus.
Menurut Linus, pembongkaran sebagian bangunan SDN Wolomoni sebenarnya tidak perlu terjadi apabila pembangunan koperasi tidak dipaksakan di lokasi tersebut.
Terlebih, masyarakat bersama tokoh adat sebelumnya telah menyampaikan penolakan terhadap pembangunan KDMP di area sekolah.
Meski demikian, Linus menegaskan program KDMP pada dasarnya bertujuan baik untuk meningkatkan perekonomian desa.
Program itu diharapkan mampu membuka akses masyarakat terhadap pasar dan modal usaha sehingga kesejahteraan warga meningkat.
Kronologi pembongkaran sekolah di Ende
Sebelum video pembongkaran viral di media sosial, warga menyebut pagar sekolah sempat dijebol, fondasi ruang kelas dirusak, hingga tiang penyangga dipotong demi memberi akses bagi ekskavator menuju lokasi pembangunan koperasi.
Foto dan video yang beredar memperlihatkan alat berat melintas di sisi bangunan sekolah. Seorang warga mengaku kecewa dengan tindakan tersebut.
”Ini kerja orang gila. Bayangkan, sekolah tempat belajar anak-anak pun dihancurkan demi KDMP. Mereka tidak mau dengar lagi suara kami masyarakat dan suara mosalaki (tokoh adat),” katanya.
Warga juga mengungkapkan bahwa sebelumnya telah dilakukan pertemuan antara masyarakat, pemerintah desa, dan pemerintah kabupaten pada 19 Mei 2026. Dalam pertemuan itu, warga secara bulat menolak pembangunan KDMP di lingkungan sekolah.
”Kami tidak tolak program, tetapi kami tidak mau dibangun di lingkungan sekolah. Ke depan, sekolah pasti berkembang. Bangun tambah ruangan belajar, ruang guru, dan lain-lain, dan kalau lahan sudah penuh?” ujarnya.
Namun, warga menyebut alat berat tetap didatangkan secara diam-diam pada Jumat (5/6/2026). Situasi tersebut memicu kemarahan warga dan tokoh adat setempat hingga ekskavator disebut sempat ditahan di kompleks sekolah sebagai bentuk protes.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply