Bahasa Jawa Menolak Punah, Peran Orang Tua di Rumah Jadi Kunci Utama

Peta Sebaran Bahasa Daerah di Indonesia
Peta Sebaran Bahasa Daerah di Indonesia (Foto: Ethnolouge)
Sharing for Empowerment

Mendikdasmen ingatkan pelestarian bahasa daerah butuh kebiasaan di rumah. Simak pentingnya peran orang tua di FTBI Jateng 2026.

SEMARANG, KalderaNews.com – Bahasa ibu hanya akan tetap hidup apabila generasi muda aktif menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar mengenalnya sebagai artefak sejarah atau warisan budaya.

Meski pembelajaran di sekolah memegang peranan penting, partisipasi aktif orang tua di lingkungan rumah menjadi fondasi utama agar bahasa daerah tidak tergerus perkembangan zaman.

Pesan kunci ini ditegaskan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, saat menghadiri Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Tingkat Provinsi Jawa Tengah 2026 yang berlangsung pada 9–11 Oktober 2026.

BACA JUGA:

“Tidak cukup dengan hanya bahasa Jawa menjadi muatan lokal dalam kurikulum di sekolah kita, tetapi membiasakan mereka berbahasa Jawa di rumah, di masyarakat, atau di berbagai forum menjadi bagian penting agar bahasa-bahasa daerah itu dapat kita lestarikan,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti.

Pewarisan Bahasa Membutuhkan Keteladanan Keluarga

Mendikdasmen membagikan refleksi pribadinya saat menyadari anak-anaknya sempat tidak terbiasa berbahasa Jawa akibat jarang dilatih di lingkungan rumah.

Kondisi tersebut mendorongnya untuk aktif kembali mengajarkan dan membiasakan bahasa ibu dalam interaksi keluarga.

Pengalaman ini membuktikan bahwa pendidikan formal di sekolah tidak bisa berjalan sendiri tanpa diimbangi habitus di rumah.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, turut menambahkan bahwa membiasakan bahasa daerah di rumah juga menanamkan etika dan nilai karakter sejak dini.

  • Pendidikan Akhlak: Bahasa daerah memuat nilai unggah-ungguh (tata krama) yang mengajarkan sopan santun berinteraksi.
  • Keragaman Dialek: Rumah menjadi benteng pertama dalam merawat kekayaan dialek lokal, mulai dari kawasan Pantura hingga dialek Ngapak.

FTBI 2026: Wadah Kreativitas Generasi Muda Merawat Bahasa Jawa

Sebagai bagian dari program revitalisasi bahasa daerah yang digagas Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah sejak 2021, FTBI 2026 menjadi ruang ekspresi bagi 560 peserta (490 siswa SD/SMP dan 70 pendamping) dari 35 kabupaten/kota.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menyebutkan bahwa bahasa daerah merupakan wadah nilai luhur dan identitas bangsa. Nilai tersebut disalurkan melalui tujuh mata lomba kreatif dekat dengan dunia anak:

  • Menulis dan membaca aksara Jawa
  • Membaca geguritan (puisi Jawa)
  • Menulis cerkak (cerita pendek)
  • Mendongeng
  • Berpidato (sesorah)
  • Nembang macapat
  • Komedi tunggal (ndhagel ijen)

Sinergi Lintas Sektor Demi Kelestarian Bahasa Ibu

Upaya pelestarian bahasa daerah di Jawa Tengah juga telah membuahkan berbagai capaian bergengsi, seperti rekor MURI penulisan pitutur luhur pada 3.386 daun lontar di Jepara (2024) serta penulisan geguritan serentak oleh 1.120 siswa di Surakarta (2025).

Melalui sinergi antara Kemendikdasmen, pemerintah daerah, sekolah, dan terutama keluarga, pemeliharaan bahasa daerah diharapkan dapat berjalan selaras dengan semboyan Badan Bahasa: “Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


13 views