Kerinduan di Balik Art Performance “Citraloka Nusantara”

Penampilan peserta didik jenjang SMPK PENABUR Jakarta di gelaran Art Performance "Citraloka Nusantara", PENABUR Kelapa Gading International School, Sabtu, 8 Februari 2020
Penampilan peserta didik jenjang SMPK PENABUR Jakarta di gelaran Art Performance "Citraloka Nusantara", PENABUR Kelapa Gading International School, Sabtu, 8 Februari 2020 (KalderaNews/Fajar H)

JAKARTA, KalderaNews.com – Peserta didik jenjang SMPK PENABUR Jakarta tampil apik di gelaran Art Performance “Citraloka Nusantara” di PENABUR Kelapa Gading International School, Sabtu, 8 Februari 2020.

Mereka tampil di hadapan sedikitnya 1.000 penonton yang memadati aula. Hujan dan banjir tak menghalangi antusiasme penonton untuk menyaksikan penampilan peserta didik dalam kisah perjuangan “Sultan Agung”, “Pangeran Diponegoro”, Sisingamangaraja” hingga “Peristiwa Rengasdengklok”.

Keseluruhan acara Art Performance “Citraloka Nusantara” ini diawali pemotongan pita dan penandatanganan kegiatan oleh Ketua BPK PENABUR Jakarta, Antono Yuwono, Pengurus BPK PENABUR Jakarta, Priscilla, Kepala Divisi Pendidikan Jenjang SMP BPK PENABUR Jakarta, Ieke Poelihawati dan Ketua Panitia Art Performance “Citraloka Nusantara”, Ester Junianti.

BACA JUGA:

Ketua BPK PENABUR Jakarta, Antono Yuwono pada KalderaNews menegaskan BPK PENABUR Jakarta selalu memperbaiki dan menyempurnakan cara belajar sehingga apa yang menjadi keprihatinan dan pemikiran banyak orang, bahwa dunia cepat berubah, PENABUR siap menghadapinya.

“Kalau diperhatikan kami menggalakkan cara belajar atau cara menghasilkan suatu karya seni dari anak-anak, sehingga bisa mengimbangi apa yang tadinya hanya prestasi akademik saja,” tandasnya.

Ketua BPK PENABUR Jakarta, Antono Yuwono
Ketua BPK PENABUR Jakarta, Antono Yuwono (KalderaNews/Fajar H)

Ia yakin dan percaya prestasi yang di luar nilai-nilai akademik seperti karya seni ini di masa depan akan jadi salah satu yang penting, karena soft skill menjadi salah satu hal yang dipercaya akan membantu seorang anak untuk bisa menghadapi apa pun juga.

“Seorang anak harus siap, bukan hanya dalam bidang akademik, tetapi juga non akademik. Semuanya dibungkus dalam karakter Kristiani yang baik,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Pendidikan Jenjang SMP BPK PENABUR Jakarta, Ieke Poelihawati pada KalderaNews menjelaskan Art Performance “Citraloka Nusantara” ini sebenarnya dilatarbelakangi kerinduan guru-guru jenjang SMPK PENABUR, juga siswa-siswi jenjang SMPK PENABUR Jakarta yang rindu untuk perform atas bakat dan minat yang dimiliki. Mereka mempunyai bakat dan talenta di bidang seni suara, musik, drama, bahkan ketrampilan berkarya dalam melukis.

“Kami sudah lama merindukan ini. Ada banyak prestasi peserta didik, khususnya di bidang akademik, tetapi untuk art performance kali ini kami mewadahi bakat dan minat anak-anak yang tergabung dalam mata pelajaran seni. Semua ditampilkan dalan art performance kali ini dan kami menyiapkan ini semua dalam waktu 3 bulan,” tuturnya.

Ia pun menceritakan kalau gelaran akbar semacam ini pernah diselenggarakan SMPK PENABUR pada 2009 silam. Sepuluh tahun berlaku, sudah ada banyak telenta-talenta yang bisa dan rindu untuk dipresentasi. Gelaran ini mewadahi prestasi peserta didik non-akademik.

Kepala Divisi Pendidikan Jenjang SMP BPK PENABUR Jakarta, Ieke Poelihawati (kanan) dan Ketua Panitia Art Performance Citraloka Nusantara, Ester Junianti
Kepala Divisi Pendidikan Jenjang SMP BPK PENABUR Jakarta, Ieke Poelihawati (kanan) dan Ketua Panitia Art Performance Citraloka Nusantara, Ester Junianti (KalderaNews/Fajar H)

Sesuai dengan tema Citraloka Nusantara, imbuhnya, siswa bisa mengenal budaya-budaya Nusantara sekaligus tampil. Mereka mengenal banyak pejuang yang meskipun berbeda-beda suku bahasa dan agama bisa bersatu. Anak-anak tampil bersama dengan apik.

“Anak-anak SMP ini kan milenial. Sejarah dulu itu seperti apa, kan mereka hanya belajar dari buku-buku dengan membaca dan mendengarkan, sekarang mereka menghayati dalam performance. Mereka menghayati bagaimana para pendahulu merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Mereka mampu memahami perjuangan Indonesia mencapai kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan sampai saat ini,” terangnya.

Selain itu, dimensi afeksi anak-anak pun yang bisa dibangun melalui Art Performance “Citraloka Nusantara”. Peserta memaknai dan menghayati kerja sama, kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan critical thinking yang nyata. (JS)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*