Saat Pandemi Singapura Justru Tambah Kapasitas Penerimaan Mahasiswa Baru, Kenapa?




JAKARTA, KalderaNews.com — Singapura menambah kapasitas penerimaan mahasiswa baru tahun ini sebanyak 2.000. Langkah ini diambil untuk memberi kesempatan kepada calon mahasiswa yang tidak jadi melanjutkan studi ke luar negeri, khususnya ke Amerika Serikat, karena kekhawatiran akan pandemi COVID-19 dan perubahan kebijakan keimigrasian di AS terhadap mahasiswa asing.

Sebanyak 2.000 tempat baru yang ditawarkan ini berasal dari enam universitas otonom di Singapura. Keenam universitas itu adalah Nanyang Technological University, National University of Singapore, Singapore Institute of Technology, Singapore Management University, Singapore University of Social Sciences dan Singapore University of Technology and Design.

Seperti diberitakan oleh The Straits Times, selain untuk memberi kesempatan kepada mahasiswa yang batal melanjutkan studi ke luar negeri, kelompok lain yang menjadi sasaran penawaran baru ini adalah para pemegang diploma politeknik yang sebelumnya bermaksud memasuki dunia kerja namun kini memilih untuk belajar di bangku kuliah karena lemahnya permintaan pasar tenaga kerja.

BACA JUGA:

Kementerian Pendidikan (Ministry of Education, MOE) Senin (06/07) lalu mengatakan bahwa tawaran tambahan ini diberikan di berbagai program studi, seraya tetap mempertahankan standar penerimaan.

Dengan adanya penambahan kapasitas ini, MOE mengatakan pihaknya mengharapkan CPR(Cohort Participation Rate, tingkat partisipasi melanjutkan studi ke perguruan tinggi) meningkat sedikit tahun ini – hingga dua poin persentase – dari yang semula direncanakan 40 persen.

MOE sebelumnya mengatakan bahwa mereka telah merencanakan untuk menyediakan 17.000 tempat bagi mahasiswa baru untuk mencapai 40 persen CPR yang telah dijanjikan kepada warga Singapura tahun ini.

Universitas-universitas mengadakan penerimaan mahasiswa baru tahap kedua pada bulan Mei untuk melayani warga Singapura yang studi atau rencana kerjanya terganggu karena pandemi.

The Straits Times melaporkan bulan lalu bahwa masing-masing dari enam universitas lokal tersebut menerima antara 19 dan 550 aplikasi selama penerimaan tahap kedua.

Beberapa calon mahasiswa yang diwawancarai mengatakan wabah COVID-19 telah membuat mereka tidak yakin dengan rencana mereka di luar negeri.

Sementara beberapa dari mereka mengatakan mereka akan pindah ke universitas dalam negeri Singapura, yang lain berencana untuk menunda studi mereka tiga hingga enam bulan.

Beberapa lagi mengatakan mereka lebih suka pendidikan tatap muka di kampus dan mengeluh bahwa universitas di luar negeri tidak adil membebankan biaya mahasiswa internasional yang tinggi untuk kuliah online.

MOE juga mengatakan pada hari Senin bahwa mahasiswa Singapura yang sudah di pertengahan studi mereka di luar negeri, tetapi sekarang ingin beralih belajar di dalam negeri, dapat menulis langsung ke enam universitas otonom di negeri itu. Aplikasi mereka akan dinilai berdasarkan kasus per kasus. Ini termasuk tinjauan apakah transfer kredit dapat diberikan.

Universitas otonom telah menerima sejumlah kecil aplikasi semacam itu, dan siap untuk menerima sebanyak mungkin kasus transfer ini, termasuk untuk jurusan seperti Kedokteran, kata MOE.

Siswa yang lebih memilih untuk menunggu beberapa bulan sebelum melanjutkan studi mereka di luar negeri juga dapat mendaftar untuk melanjutkan pendidikan dan pelatihan program modular yang ditawarkan oleh universitas.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*