Kanada Dukung Pengembangan “Feminist Hub” di Indonesia

Political Counsellor and CFLI Program Manager, the Mission of Canada to ASEAN, Vicky Singmin
Political Counsellor and CFLI Program Manager, the Mission of Canada to ASEAN, Vicky Singmin (KalderaNews/Dok.CFLI)

JAKARTA, KalderaNews.com – Kekerasan berbasis gender tetap menjadi permasalahan di banyak negara termasuk di Asia Tenggara dan di Kanada. Satu dari tiga wanita mengalami pelecehan fisik atau seksual dalam hidupnya oleh pasangan mereka. Lima belas juta kasus tambahan kekerasan berbasis gender dilaporkan untuk setiap tiga bulan penguncian selama pandemi COVID-19, termasuk diplatform digital.

Peristiwa yang tidak menguntungkan ini menunjukkan bahwa kekerasan berbasis gender adalah produk sistemik dari ketidaksetaraan gender, yang membutuhkan upaya kolektif semua pemangku kepentingan, mulai dari lembaga multilateral, regional dan nasional hingga organisasi akar rumput.

Misi Kanada untuk ASEAN dan Kedutaan Besar Kanada untuk Indonesia dan Timor-Leste menegaskan kembali komitmen dan dukungan Kanada terhadap upaya kesetaraan gender di Asia Tenggara melalui kampanye 16 Hari Aktivisme Menentang Kekerasan Berbasis Gender.

BACA JUGA:

Melalui Canada Fund for Local Initiatives (CFLI), Kanada mendukung Jaringan Aksi Feminis Asia Tenggara – Southeast Asian Feminist Action Movement (SEAFAM), jaringan organisasi feminis pertama di Asia Tenggara yang diprakarsai oleh Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta. Melalui CFLI, Kanada juga mendukung Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta dengan pengembangan “Feminist Hub” yang akan bertindak sebagai pusat pembelajaran bagi individu, komunitas dan organisasi di seluruh Indonesia, dan menghubungkan kaum muda dengan pakar feminis untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang feminisme interseksional.

Political Counsellor and CFLI Program Manager, the Mission of Canada to ASEAN, Vicky Singmin menegaskan Kanada berusaha mengubah sistem, struktur dan norma yang melanggengkan ketidaksetaraan gender dan bentuk-bentuk kumulatif dari diskriminasi dan interseksionalitas yang dapat menggabungkan pengecualian (seperti ras, agama, orientasi seksual, kemampuan) dengan pasangan di seluruh dunia, termasuk dengan ASEAN.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*