Fakta Mengejutkan, Bulan Ternyata Terus Mengecil, Picu Aktivitas Tektonik dan Retakan Permukaan Baru

Permukaan bulan
Permukaan bulan (Foto: NASA)
Sharing for Empowerment

WASHINGTON, KalderaNews.com – Sebuah studi mutakhir yang dipublikasikan dalam The Planetary Science Journal (Februari 2026) mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai evolusi geologi Bulan.

Meskipun telah berusia miliaran tahun, Bulan ditemukan masih mengalami proses pengecilan (kontraksi) aktif yang memicu aktivitas tektonik dan pembentukan retakan permukaan baru.

Penelitian ini berhasil menyusun peta global pertama dari fitur geologis mikro yang disebut sebagai Small Mare Ridges (SMR).

BACA JUGA:

Temuan ini mempertegas bahwa Bulan bukanlah benda langit yang “mati” secara geologis, melainkan sebuah dunia yang terus menyusut dan bergejolak di bawah keraknya.

Mekanisme Tektonik Kerak Tunggal

Berbeda dengan Bumi yang memiliki sistem tektonik lempeng (beberapa lempeng yang saling berinteraksi), Bulan terdiri dari kerak tunggal. Dinamika tektonik di Bulan dipicu oleh pendinginan interior secara bertahap yang menyebabkan volume Bulan menyusut.

Proses pendinginan ini menghasilkan gaya kompresi yang luar biasa besar, yang kemudian memicu deformasi pada permukaan. Deformasi tersebut bermanifestasi dalam dua bentuk utama:

  • Lobate Scarps: Tebing melengkung yang umumnya ditemukan di wilayah dataran tinggi.
  • Small Mare Ridges (SMR): Kerutan atau punggungan kecil yang ditemukan di wilayah Lunar Maria (dataran gelap Bulan yang luas).

Penemuan 1.100 Segmen Geologi Baru

Tim peneliti yang dipimpin oleh Cole Nypaver, geolog pascadoktoral dari Center for Earth and Planetary Studies, berhasil mengidentifikasi lebih dari 1.100 segmen SMR baru yang sebelumnya tidak terdeteksi.

Dengan penemuan ini, total terdapat lebih dari 2.600 SMR yang tersebar di sisi dekat (near side) Bulan.

“Pekerjaan ini memberi kita perspektif global lengkap tentang tektonik terbaru di Bulan. Ini membantu pemahaman mendalam mengenai interior, sejarah termal, dan seismik Bulan,” ujar Nypaver.

Analisis penanggalan geologi menunjukkan bahwa SMR memiliki usia rata-rata sekitar 124 juta tahun. Angka ini relatif sangat muda dalam skala waktu geologi, hampir setara dengan lobate scarps yang berusia 105 juta tahun.

Hal ini membuktikan bahwa aktivitas tektonik akibat penyusutan Bulan masih berlangsung hingga periode geologi modern.

Implikasi bagi Misi Artemis dan Eksplorasi Masa Depan

Penemuan ini bukan sekadar catatan akademis, melainkan memiliki signifikansi praktis bagi keselamatan misi antariksa manusia di masa depan, seperti Program Artemis.

Gaya kompresi yang membentuk SMR sangat erat kaitannya dengan peristiwa Moonquake (gempa Bulan). Pemetaan detail mengenai lokasi struktur muda ini menjadi krusial bagi:

  • Mitigasi Risiko: Menghindari zona aktif tektonik untuk penempatan pangkalan permanen.
  • Stabilitas Pendaratan: Memastikan wahana pendarat (landers) ditempatkan di area dengan risiko seismik rendah.
  • Keamanan Astronot: Meminimalkan paparan terhadap potensi keretakan permukaan yang tiba-tiba.

Studi ini menegaskan bahwa Bulan masih terus bertransformasi secara struktural.

Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai sejarah termal dan aktivitas seismik ini, para ilmuwan dapat merancang protokol keamanan yang lebih kuat bagi keberlangsungan hidup manusia di lingkungan luar angkasa.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


406 views