Profil Pendidikan Jumhur Hidayat: Dari Aktivis ITB ke Menteri LH

Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup
Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Simak profil pendidikan Jumhur Hidayat, alumnus Teknik Fisika ITB dan eks aktivis yang kini dilantik menjadi Menteri Lingkungan Hidup

JAKARTA, KalderaNews.com – Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Jumhur Hidayat sebagai Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup dalam reshuffle kabinet pada Senin, 27 April 2026.

Penunjukan ini menarik perhatian publik, mengingat latar belakang Jumhur yang dikenal sebagai aktivis pergerakan sejak bangku kuliah.

BACA JUGA:

Bagaimana perjalanan pendidikan dan intelektual sosok yang menggantikan Hanif Faisol ini? Berikut ulasan lengkapnya.

Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) Pernah Dipenjara

Jumhur Hidayat merupakan pria kelahiran Bandung, 18 Februari 1968. Akar pemikiran kritis dan kepemimpinannya mulai terbentuk saat ia menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Di kampus berlambang ganesha tersebut, Jumhur mengambil jurusan Teknik Fisika. Latar belakang pendidikan teknik ini memberikan landasan berpikir logis dan sistematis, yang kini sangat relevan dengan tanggung jawabnya dalam mengelola kebijakan lingkungan hidup dan pengendalian polusi berbasis data teknis.

Secara berjenjang, Muhammad Jumhur Hidayat merupakan sosok yang memiliki akar pendidikan yang berpindah-pindah mengikuti penugasan orang tuanya.

Lahir di Bandung pada 18 Februari 1968, ia memulai masa sekolahnya di Jakarta sebelum akhirnya merantau ke Bali untuk menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Denpasar dan SMA Negeri 1 Denpasar.

Perjalanan sekolah menengahnya kemudian ditutup dengan manis di SMA Negeri 3 Bandung, sebuah sekolah yang dikenal sebagai pencetak tokoh-tokoh besar nasional.

Jiwa kepemimpinan dan sikap kritis Jumhur mulai mengkristal saat ia menapakkan kaki di Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebagai mahasiswa, ia bukan sekadar duduk di bangku kelas, melainkan aktif sebagai motor penggerak aksi demonstrasi.

Puncak aktivismenya terjadi pada tahun 1989, di mana ia harus merelakan kebebasannya dan mendekam di penjara akibat aksi penolakan terhadap kedatangan Menteri Dalam Negeri Rudini ke kampus tersebut.

Meski sempat terhambat karena urusan hukum, semangat akademis Jumhur tidak padam. Ia melanjutkan studi Teknik Fisika di Universitas Nasional (Unas) dan lulus pada tahun 1996.

Tak puas dengan latar belakang teknik, ia kemudian memperluas cakrawala berpikirnya ke bidang humaniora dengan meraih gelar Master of Science (M.Sc.) di bidang Sosiologi dari Universitas Indonesia (UI).

Perpaduan ilmu teknik yang logis dan sosiologi yang humanis inilah yang kemudian membentuk karakter intelektualnya yang unik.

Kapasitas kepemimpinan Jumhur semakin diperkuat melalui berbagai pelatihan internasional di mancanegara. Mulai dari mempelajari strategi pembangunan di Kuala Lumpur, mendalami ilmu demokrasi di Manila, hingga mengikuti penguatan serikat pekerja bersama ILO-Norwegia.

Rekam jejak panjang yang menggabungkan pendidikan formal berkualitas dengan pengalaman lapangan yang keras menjadikannya sosok menteri yang tidak hanya kaya akan teori, tetapi juga matang dalam diplomasi dan pergerakan.

Riwayat Pendidikan Jumhur Hidayat

Pendidikan Dasar: SD Negeri Menteng 02 Pagi, Jakarta Pusat (1974–1980).

Pendidikan Menengah Pertama: SMP Negeri 1 Cikini, Jakarta (pindah ke SMP Negeri 1 Denpasar, Bali).

Pendidikan Menengah Atas: SMA Negeri 1 Denpasar, Bali (menyelesaikan studi di SMA Negeri 3 Bandung).

Pendidikan Tinggi (S1): * Sempat menempuh studi di Institut Teknologi Bandung (ITB) sebelum terhenti karena aktivitas politik/penjara pada 1989.

Melanjutkan dan meraih gelar Sarjana di Jurusan Teknik Fisika, Universitas Nasional (Unas), lulus tahun 1996.

Pendidikan Pascasarjana (S2): Meraih gelar Master of Science (M.Sc.) di bidang Sosiologi dari Universitas Indonesia (UI).

Pendidikan Non-Formal & Pelatihan Internasional:

  • Program Strategi Alternatif Pembangunan di Asia Tenggara, Kuala Lumpur (1992).
  • Pelatihan Demokrasi, Manila, Filipina (1996).
  • Program Penguatan Serikat Pekerja, ILO-Norwegia (2000).

Aktivisme Mahasiswa dan Perlawanan Orde Baru

Nama Jumhur Hidayat abadi dalam sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia. Saat masih berstatus mahasiswa ITB di akhir dekade 80-an, ia terlibat aktif dalam berbagai aksi demonstrasi menentang kebijakan otoriter pemerintah saat itu.

Salah satu peristiwa ikonik dalam riwayat pendidikannya adalah ketika ia terlibat dalam aksi penolakan kedatangan Menteri Dalam Negeri Rudini ke kampus ITB pada tahun 1989.

Akibat aksi tersebut, masa studinya sempat terhambat karena ia harus mendekam di penjara bersama rekan-rekan aktivis lainnya.

Pengalaman “sekolah kehidupan” di balik jeruji besi inilah yang justru memperkuat posisinya sebagai tokoh pergerakan nasional.

Jejak Karier dan Intelektualitas

Setelah menyelesaikan studi dan masa aktivisme kampusnya, Jumhur tidak berhenti berproses. Ia terus mengembangkan profil profesionalnya di berbagai bidang:

Sekretaris Jenderal Partai: Memulai karier politik di Partai Daulat Rakyat (1999) dan Partai Sarikat Indonesia (2002).

Kepala BNP2TKI: Menjabat selama tujuh tahun (2007–2014) di era Presiden SBY, yang menunjukkan kemampuannya dalam manajemen birokrasi skala nasional.

Aktivis Buruh dan Sosial: Sebelum dilantik menjadi menteri, ia tetap konsisten di jalur pengabdian masyarakat, sering kali terlihat bersama tokoh intelektual seperti Rocky Gerung dan Syahganda Nainggolan.

Relevansi Pendidikan Teknik dengan Kursi Menteri LH

Penunjukan seorang sarjana teknik untuk memimpin kementerian yang fokus pada pengendalian lingkungan dinilai sebagai langkah strategis.

Masalah lingkungan modern, seperti emisi karbon, limbah industri, dan pemanfaatan teknologi hijau, membutuhkan pendekatan presisi yang dimiliki oleh seorang dengan latar belakang teknik seperti Jumhur.

Sebagai Menteri Lingkungan Hidup, tantangan besar menantinya untuk menyeimbangkan antara industrialisasi dan pelestarian alam di bawah komando Presiden Prabowo.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*