
Bitcoin mendekati level USD 80.000 disokong oleh sentimen regulasi AS dan tekanan obligasi. Simak analisis lengkap dan arah pasar.
The Path To Financial Freedom, EduFulus – Pasar aset kripto kembali menunjukkan momentum pemulihan yang kuat pada perdagangan Senin (24/8/2026), ditandai dengan pergerakan harga Bitcoin (BTC) yang mendekati level psikologis USD 80.000 untuk pertama kalinya sejak pertengahan Mei.
Mengutip data Investing.com dan CoinMarketCap, Bitcoin sempat melonjak hingga menyentuh level tertinggi harian di USD 79.975,80 sebelum terus merangkak menembus USD 80.837,22.
Kenaikan impulsif sebesar 22,6% hingga 26,14% dalam sepekan ini mencatatkan kinerja mingguan terbaik bagi sang aset kripto berkapitalisasi terbesar sejak Maret 2023, sekaligus memicu penutupan posisi bearish (short squeeze) senilai lebih dari USD 3 miliar di pasar derivatif.
SIMAK JUGA: Dilema Regulasi Kripto Indonesia, Menyeimbangkan Kepatuhan dan Inovasi
Penguatan agresif ini digerakkan oleh kombinasi unik antara dinamika politik regulasi dan kondisi makroekonomi Amerika Serikat.
Dari sisi regulasi, dorongan Presiden Donald Trump kepada parlemen untuk mengesahkan Undang-Undang Klarifikasi (CLARITY Act) memberikan sentimen positif signifikan, meskipun pembahasannya di Kongres masih diwarnai perdebatan sengit terkait klasifikasi aset (sekuritas versus komoditas), aturan imbal hasil stablecoin, hingga pembatasan transaksi bagi pejabat pemerintah jelang voting krusial Senat pada 15 September.
Sementara dari aspek makroekonomi, lonjakan yield obligasi pemerintah AS bertenor 10 dan 30 tahun akibat kekhawatiran inflasi serta pembengkakan utang AS yang melampaui USD 40 triliun telah mendorong arus modal keluar dari mata uang fiat menuju aset lindung nilai (safe haven) seperti emas dan Bitcoin.
Langkah Departemen Keuangan AS (Treasury) yang meningkatkan alokasi buyback utang jangka panjang menjadi USD 4 miliar turut menekan yield dan melepaskan likuiditas ke aset berisiko.
Pergerakan positif ini juga merembet ke pasar altcoin, meskipun dengan dinamika yang bervariasi. Ethereum (ETH) mencatatkan kenaikan mingguan signifikan hingga 32,98% ke posisi USD 2.520,05, disusul kenaikan tipis pada BNB dan Solana, sementara XRP, Cardano, Dogecoin, serta token $TRUMP mengalami koreksi minor harian.
Menurut CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, Bitcoin saat ini menawarkan kepastian momentum dan prospek reli yang lebih kokoh hingga akhir tahun berkat narasinya sebagai “emas digital” dan sokongan ETF spot institusional.
Di sisi lain, Ethereum menyimpan potensi pembalikan (upside) persentase yang lebih tinggi jika didorong katalis seperti persetujuan skema staking pada ETF, kemajuan upgrade jaringan Glamsterdam dan Fusaka, serta dominasi di sektor Real World Assets (RWA).
Secara teknikal dan fundamental, Bitcoin berpeluang melanjutkan tren pemulihan menuju level USD 100.000 hingga akhir tahun 2026, selama mampu menjaga area pertahanan penting (support) di kisaran USD 70.000 hingga USD 80.000.
Kendati demikian, volatilitas tinggi tetap membayangi pasar. Jika hambatan makroekonomi dan resistensi teknikal terus menguat, beberapa model analisis konservatif memproyeksikan risiko koreksi kembali ke area USD 45.000–58.000.
Oleh karena itu, para pelaku pasar disarankan untuk tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin melalui metode dollar-cost averaging (DCA), diversifikasi portofolio, penempatan stop-loss, serta menghindari penggunaan leverage berlebihan demi mengantisipasi pergerakan harga yang ekstrem.
SIMAK JUGA: Kripto Masuk Fase Baru, CEO Indodax Soroti Tokenisasi dan Regulasi
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply