Gontor di Atas Segala Golongan Politik, Kejutan di 100 Tahun Gontor!

Sekolah Islam Pesantren Gontor
Sekolah Islam Pesantren Gontor Bertaraf Internasional (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Prabowo beri kejutan di Resepsi 100 Tahun Gontor! Resmikan FK UNIDA & beri pesan menohok soal politik. Cek cerita lengkapnya!

PONOROGO, KalderaNews.com – Puncak peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada Sabtu (19/9/2026) di Ponorogo, Jawa Timur, diwarnai momen bersejarah.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, hadir langsung di tengah puluhan ribu alumni dan santri untuk memberikan pengarahan penting sekaligus meresmikan fasilitas baru pendidikan Islam tersebut.

BACA JUGA:

Dalam kesempatan ini, Presiden menegaskan peran krusial pesantren dalam mencetak kader pimpinan masa depan, sembari memberikan petunjuk tegas terkait posisi institusi pendidikan terhadap dinamika politik praktis.

Peresmian FK UNIDA & Legasi Abad Kedua Gontor

Sebelum memberikan amanat utama, Presiden Prabowo meresmikan Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor serta Balai Pertemuan Pondok Modern. Didampingi Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto dan jajaran pejabat negara, peresmian ini ditandai dengan penandatanganan prasasti.

Langkah ini menjadi lompatan strategis Gontor dalam memasuki abad keduanya, membuktikan keberhasilan transformasi pesantren yang tidak hanya unggul dalam ilmu keagamaan dan bahasa asing, tetapi juga dalam sains dan teknologi medis modern.

Pesan Menohok Prabowo: “Gontor Tidak Boleh Ke Mana-Mana”

Di hadapan lebih dari 8.000 tamu undangan—termasuk pimpinan negara sahabat, duta besar, hingga pimpinan TNI-Polri—Presiden Prabowo memberikan arahan mendalam mengenai sikap politik lembaga pendidikan.

“Gontor harus di atas segala golongan politik. Gontor tidak boleh ke mana-mana, tapi harus ada di mana-mana,” tegas Presiden Prabowo.

Ia mengingatkan bahwa seluruh santri harus memahami persoalan bangsa dan politik secara bijak, namun institusi pesantren wajib menjaga netralitas dan berdiri di atas semua golongan.

Relevansi Panca Jiwa dengan Perjuangan Bangsa

Presiden juga menggarisbawahi bahwa prinsip hidup di Gontor sangat erat kaitannya dengan cita-cita pembangunan nasional. Lima nilai dasar (Panca Jiwa) Gontor dinilai sebagai pondasi karakter yang dibutuhkan Indonesia:

  • Keikhlasan: Berbuat dan mengabdi tanpa mengutamakan kepentingan pribadi.
  • Kesederhanaan: Hidup wajar dan proporsional sesuai kebutuhan.
  • Berdikari: Kemandirian bangsa untuk berdiri di atas kaki sendiri.
  • Ukhuwah Islamiyah: Menjaga persaudaraan dan persatuan.
  • Kebebasan: Bebas menentukan jalan perjuangan berlandaskan Islam.

“Saya selalu ingin ikhlas. Saya selalu ingin sederhana. Saya ingin bangsa kita berdiri di atas kaki kita sendiri. Kalianlah yang akan mengambil alih dan meneruskan perjuangan kita,” kata Prabowo kepada para santri.

Apresiasi Kemendiktisaintek terhadap Model Pendidikan Pesantren

Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyatakan bahwa perjalanan satu abad Gontor merupakan bukti nyata keberhasilan pendidikan berbasis karakter dan integritas. Menurutnya, pesantren modern seperti Gontor berhasil menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan fondasi moral.

Model pendidikan Gontor mengintegrasikan nilai-nilai tradisi Pesantren Tegalsari dengan metode modern yang digagas oleh Trimurti.

Melalui perpaduan ini, sistem pengajaran berfokus pada penguasaan bahasa internasional (Arab dan Inggris) yang disandingkan dengan pengembangan ilmu sains serta pembentukan karakter yang kokoh. Pendekatan holistik tersebut secara konsisten melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, dan berintegritas tinggi.

“Satu abad Gontor telah memberi warna penting bagi pendidikan Indonesia dengan melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, mandiri, dan mengabdi bagi bangsa,” ujar Menteri Brian.

Kilas Balik Sejarah: Dari Tegalsari Hingga Mewakafkan Diri

Perjalanan 100 tahun Gontor Baru (1926–2026) memiliki akar sejarah yang panjang:

  • Akar Tradisi Tegalsari (Abad ke-18. Kiai Sulaiman Jamaluddin, murid Kyai Ageng Hasan Besari dari Pondok Tegalsari, mendirikan Gontor Lama di kawasan yang saat itu rawan kejahatan.
  • Pendirian Gontor Baru (20 September 1926). Tiga bersaudara (Trimurti): KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi mendirikan kembali Gontor dengan memadukan kurikulum modern dan tradisi pesantren.
  • Lahirnya KMI (19 Desember 1936). KH Imam Zarkasyi mendirikan Kulliyyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) dengan fokus pengajaran bahasa Arab dan Inggris secara intensif.
  • Penyerahan Wakaf kepada Umat (12 Oktober 1958). Trimurti secara resmi mewakafkan Pondok Modern Darussalam Gontor kepada umat Islam, memastikan kepemilikan lembaga tidak bergantung pada garis keturunan keluarga.
  • Pendirian Perguruan Tinggi (UNIDA) (1963 – Sekarang). Cita-cita Trimurti terwujud melalui pendirian perguruan tinggi yang kini berkembang menjadi Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Refleksi Abad Kedua Pesantren Modern

Kehadiran jajaran pimpinan negara dan perwakilan internasional, termasuk Wakil Grand Syaikh Al-Azhar Mesir Mohamed Abdelrahman Eldeweny, menegaskan posisi Gontor sebagai salah satu episentrum pendidikan Islam dunia.

Dengan peresmian Fakultas Kedokteran UNIDA serta penegasan komitmen Panca Jiwa, Gontor membuktikan bahwa modal utama pembangunan bangsa tidak hanya terletak pada penguasaan teknologi, melainkan pada pembentukan karakter, kemandirian, dan integritas yang kokoh.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


17 views