
Guru di China pertanyakan kewajiban bahasa Inggris di sekolah. Di tengah gempuran AI, simak pro kontra kebijakan tersebut!
BEIJING, KalderaNews.com – Wacana penghapusan dan pengurangan porsi pelajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah China kini tengah menjadi perdebatan hangat di tengah masyarakat.
Perdebatan ini mencuat setelah Tang Jiafeng, seorang guru matematika di China, secara terbuka mempertanyakan urgensi pengajaran bahasa asing bagi anak-anak sekolah yang bahkan belum sepenuhnya menguasai bahasa lokal Mandarin.
BACA JUGA:
- Cetak Sejarah! Ini 2 Sosok Matematikawan China Peraih Medali Fields
- 10 Sekolah Internasional Terbaik Dunia, Indonesia Tak Masuk 18 Asia
- 8 Drama China Romantis di Netflix, Ceritanya Bikin Baper!
Tang mengkritik kurikulum yang dinilainya memaksakan bahasa asing dan menyerukan untuk menghentikan pemujaan berlebihan terhadap budaya impor, sebagaimana diberitakan Times of India (21/9/2026).
Dukungan Akademisi dan Efektivitas Kurikulum Berorientasi Ujian
Pernyataan Tang mendapat respons luas dari kalangan orang tua murid dan praktisi pendidikan. Banyak pihak menilai bahwa sistem pengajaran bahasa Inggris yang berorientasi pada ujian (test-oriented curriculum) dan tata bahasa formal selama ini gagal menghasilkan lulusan yang fasih berkomunikasi secara aktif.
Kepala Institut Penelitian Pendidikan Abad 21 Shenzhen, Xiong Bingqi, turut menyoroti ketidakefektifan sistem pengajaran yang ada.
“Sistem ini menciptakan ‘bahasa Inggris bisu’ (mute English). Pada kenyataannya, kelompok masyarakat yang benar-benar menggunakan bahasa Inggris di dunia kerja harian merupakan kelompok minoritas,” jelas Xiong Bingqi.
Perubahan kebijakan ini sebenarnya sudah mulai terlihat di beberapa daerah. Sejak tahun 2021, Pemerintah Kota Shanghai telah menghapus ujian akhir bahasa Inggris untuk tingkat Sekolah Dasar (SD).
Selain itu, sejumlah institusi dan kampus riset di Shenzhen juga mulai menghapus kursus bahasa Inggris secara bertahap.
Pengaruh Teknologi AI Real-Time dan Pro-Kontra Dampak Sosial
Maraknya tren penolakan dan pengurangan kelas bahasa Inggris ini tidak terlepas dari perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), khususnya alat penerjemah bahasa secara langsung (real-time translation tools).
Kehadiran teknologi ini dinilai mampu menjembatani kendala bahasa tanpa perlu melewati proses belajar bertahun-tahun di kelas.
Namun, kebijakan ini tidak sepenuhnya disambut positif oleh semua kalangan. Guru bahasa Inggris di Guangdong, Cinderella Huang, menyampaikan keprihatinannya terkait potensi pelebaran kesenjangan sosial dan ekonomi.
“Penghapusan mata pelajaran bahasa Inggris di sekolah negeri justru berpotensi memperlebar kesenjangan kekayaan. Keluarga kaya akan tetap membiayai tutor pribadi dan menyekolahkan anak mereka di sekolah internasional, sementara anak-anak dari keluarga kurang mampu kehilangan akses dasar tersebut,” tegas Cinderella Huang.
Huang juga menambahkan bahwa pengembangan dan operasionalisasi model AI tingkat lanjut saat ini masih sangat bergantung pada dokumentasi dan data berbahasa Inggris, sehingga penguasaan bahasa tersebut tetap memiliki nilai strategis dalam lanskap teknologi global.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News.
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply