Hong Wang & Yu Deng raih Medali Fields usai pecahkan teka-teki matematika berusia abad. Simak profil lengkapnya di sini!
JAKARTA, KalderaNews.com – Sejarah baru kembali tercipta di dunia matematika internasional. Dua matematikawan kelahiran China, Hong Wang dan Yu Deng, sukses meraih Medali Fields, penghargaan paling bergengsi di dunia matematika yang sering dianggap setara dengan Hadiah Nobel.
Penghargaan empat tahunan bagi matematikawan berprestasi di bawah usia 40 tahun ini diserahkan pada hari Kamis di Amerika Serikat.
Kemenangan ini diraih bersama dua pemenang lainnya, yaitu John Pardon dari Amerika Serikat dan Jacob Tsimerman dari Kanada. Masing-masing pemenang berhak atas hadiah senilai 15.000 dolar Kanada (sekitar USD10.500 atau Rp170 juta).
BACA JUGA:
- Nilai Matematika TKA 2026 Anjlok, JPPI Desak Reformasi Kelas
- Tak Sekadar Pintar Matematika! Ini 11 Tanda Kamu Punya IQ Tinggi yang Sering Dianggap Aneh
- Daftar Negara dengan Skor Matematika Tertinggi Dunia Versi PISA, Ada Indonesia?
Prestasi luar biasa ini diraih usai Wang dan Deng berhasil memecahkan persoalan matematika rumit yang telah membingungkan para ahli selama lebih dari satu abad.
Kemenangan ini sekaligus mengukuhkan posisi Hong Wang (35 tahun) sebagai wanita ketiga dalam sejarah yang berhasil menerima Medali Fields.
Memicu Gelombang Kebanggaan Nasional di China
Torehan prestasi ini memicu euforia di media sosial China. Tagar terkait “Medali Fields” dan “Matematikawan China pertama yang memenangkan Medali Fields” ditonton jutaan kali di berbagai platform digital seperti Weibo.
“Kebanggaan seluruh rakyat China,” tulis seorang pengguna Weibo. “Kita sedang menyaksikan sejarah,” timpal netizen lainnya.
Peraih Medali Fields etnis Tionghoa pertama, Shing-Tung Yau, turut mengungkapkan rasa harunya. Menurut Yau, pencapaian ini merupakan impian komunitas matematika China yang telah diidam-idamkan selama bertahun-tahun.
Sosok Hong Wang: Pemecah Masalah Soichi Kakeya dari Tahun 1917
Lahir pada tahun 1991 di Guilin, Guangxi, Hong Wang dikenal sebagai sosok jenius. Ia sempat melompati dua kelas saat Sekolah Dasar dan berhasil menembus Peking University, salah satu kampus paling bergengsi di Tiongkok pada usia 16 tahun (tahun 2007).
Wang sempat mengambil jurusan ilmu bumi sebelum akhirnya pindah ke jurusan matematika. Ia melanjutkan studi doktor (S3) di Massachusetts Institute of Technology (MIT) setelah menyelesaikan pendidikannya di Prancis. Saat ini, Wang mengajar sebagai profesor di New York University (NYU) serta menjadi profesor tetap di Institut des Hautes Études Scientifiques (IHES) Prancis.
Riset yang Membawa Kemenangan
Bersama rekannya Josh Zahl, Wang menjawab teka-teki matematika yang diajukan pakar Jepang, Soichi Kakeya, pada tahun 1917. Masalah Kakeya mempertanyakan berapa luas terkecil yang disapu oleh pensil jika diputar secara penuh. Wang dan Zahl menganalisis masalah ini dengan asumsi bahwa pensil tersebut mengambang di ruang tiga dimensi.
Keberhasilan riset ini memicu ucapan selamat langsung dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron.
“Ia mewujudkan keunggulan penelitian dan pelatihan kami. Pilih Prancis untuk sains,” puji Macron melalui unggahan resminya di X.
Sosok Yu Deng: Penakluk Masalah Keenam Hilbert
Yu Deng (37 tahun), yang kini menjabat sebagai profesor matematika di Universitas Chicago, diganjar Medali Fields atas keberhasilannya memecahkan Masalah Keenam Hilbert yang dicetuskan matematikawan Jerman David Hilbert pada tahun 1900.
Masalah abad ke-20 ini mempertanyakan bagaimana perilaku suatu sistem keseluruhan dapat dihitung berdasarkan pergerakan partikel individu. Deng memecahkan teori rumit tersebut melalui pengamatan terukur pada perilaku gas.
Sama seperti Wang, Deng masuk ke Peking University pada tahun 2007 sebelum akhirnya pindah ke MIT pada tahun 2009. Ia meraih gelar PhD di Princeton University dan mengajar di University of Chicago sejak tahun 2024.
“Suatu kehormatan besar nama saya tercantum setelah semua matematikawan hebat yang selalu saya kagumi,” ungkap Deng penuh kerendahan hati.
Makna Capaian di Tengah Era Kecerdasan Buatan (AI)
Pemberian Medali Fields kali ini terasa istimewa karena berlangsung di tengah maraknya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang mulai menantang kemampuan komputasi manusia. Keberhasilan Wang dan Deng membuktikan bahwa penalaran abstrak dan intuisi mendalam manusia dalam matematika murni tetap tak tergantikan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply