Hasil TKA 2026 matematika hancur. JPPI desak Kemendikdasmen setop kosmetik kurikulum dan fokus benahi kompetensi guru.
JAKARTA, KalderaNews.com – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun 2026 untuk jenjang SD/MI dan SMP/MTs sederajat kembali membawa kabar kurang sedap bagi dunia pendidikan Indonesia. Nilai rata-rata mata pelajaran matematika dilaporkan merosot tajam.
Menanggapi fenomena ini, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melayangkan kritik pedas kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
JPPI menilai potret buram ini merupakan dampak nyata dari kegagalan pemerintah dalam membenahi substansi mendasar pendidikan di ruang kelas.
BACA JUGA:
- Nilai Matematika TKA SMP 2026 Jeblok, Ini Dalih Menteri
- Gawat! Ternyata Siswa Alergi Soal Logika, Rerata Nilai Matematika TKA SMA 2025 Cuma 36,1
- Jeblok Blok! Skor Matematika TKA SMA 2025 Sangat Rendah, Mendikdasmen Ungkap Penyebab
“Nilai matematika yang terus-menerus hancur membuktikan bahwa kita selama ini terjebak dalam ilusi transformasi kurikulum yang kosmetik, tapi gagal menyentuh substansi mendasar di ruang kelas,” ujar Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, Jumat (29/5/2026).
Data Berbicara: Ketimpangan Bahasa Indonesia vs Matematika
Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, capaian nilai nasional untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia jauh mengungguli Matematika.
Menggunakan sistem penskoran klasik dengan skala 0–100, berikut adalah rincian perbandingan nilai rata-rata TKA 2026:
| Jenjang Pendidikan | Rerata Bahasa Indonesia | Rerata Matematika |
| SD/MI Sederajat | 60,14 | 43,41 |
| SMP/MTS Sederajat | 60,83 | 40,34 |
Padahal, tingkat partisipasi TKA tahun ini tergolong sangat tinggi, yakni mencapai 98,12%. Dari total 8.875.362 murid yang terdaftar, sebanyak 8.708.891 murid mengikuti ujian sesuai jadwal utama, menghasilkan big data pendidikan yang komprehensif dari tingkat nasional hingga satuan pendidikan.
3 Rekomendasi Fundamental JPPI untuk Pemerintah
Melihat kondisi numerasi siswa yang memprihatinkan, Ubaid Matraji mendesak Kemendikdasmen untuk segera mengambil tindakan konkret melalui tiga masukan strategis berikut:
1. Hentikan ‘Gonta-Ganti Kulit’ Kebijakan
Pemerintah diminta berhenti fokus pada perombakan nama kurikulum atau jargon administratif yang bersifat politis. Fokus utama harus dikembalikan pada penguatan foundational skills (kemampuan dasar) siswa, khususnya di bidang numerasi dan logika matematika dasar.
2. Atasi Krisis Kompetensi dan Kesejahteraan Guru
Kurikulum terbaik sekalipun tidak akan berjalan optimal tanpa guru yang berkualitas. JPPI mendesak pemerintah untuk:
- Membereskan sengkarut sertifikasi guru.
- Mendistribusikan guru berkualitas secara merata ke seluruh daerah.
- Mengadakan pelatihan guru berbasis praktik nyata di kelas, bukan sekadar diklat formalitas.
3. Alokasikan Anggaran Langsung ke Ruang Kelas
JPPI menuntut transparansi dan ketepatan sasaran anggaran pendidikan. Anggaran harus diprioritaskan untuk membenahi fasilitas belajar, menyediakan alat peraga numerasi yang layak, serta mengintervensi sekolah yang tertinggal. Ubaid juga menyentil agar anggaran pendidikan tidak habis tersedot untuk program di luar substansi kelas, seperti pembiayaan Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kita butuh revolusi pada tata kelola guru dan pembenahan literasi-numerasi secara radikal, bukan sekadar kosmetik kebijakan,” tegas Ubaid.
Kemendikdasmen Soroti Faktor Mental Block dan Stigma Sulit
Di sisi lain, Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengakui bahwa skor matematika dalam TKA memang masih rendah. Menurutnya, salah satu faktor utama yang menjegal nilai siswa adalah adanya stigma bahwa matematika adalah mata pelajaran yang menakutkan.
Stigma negatif ini pada akhirnya menciptakan mental block pada diri siswa sebelum mereka mulai mengerjakan ujian.
“Saya menyebut sebagian bisa karena stigma itu. Kalau kita itu mengalami namanya mental block, maka hal yang mudah pun akan jadi susah,” jelas Abdul Mu’ti.
Solusi Pemerintah: Gerakan Numerasi Nasional
Untuk mendobrak mental block tersebut, Kemendikdasmen kini tengah menggencarkan program Matematika Gembira sebagai bagian dari Gerakan Numerasi Nasional (GNN).
Program ini dirancang untuk melatih para guru agar mampu mengajarkan konsep berhitung dan numerasi secara lebih inovatif, interaktif, dan menyenangkan. Langkah ini diharapkan mampu mengubah cara pandang siswa terhadap matematika, sekaligus mendongkrak capaian skor PISA Indonesia di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply